
Akhir akhir ini Steva sering khawatir tanpa sebab. Entah karena apa, kadang ia merasa gelisah sendiri.
Steva juga merasa ada yang ditutupi Rey darinya. Yaahh... meskipun banyak sekali yang mungkin belum ia tau tentang Rey. Tapi ia yakin, suatu saat nanti Rey akan terbuka padanya. Ia terus menunggu hari itu tiba.
Hubungannya dengan Rey semakin membaik. Rey sudah tidak pernah menunjukkan sisi menakutkannya lagi. Steva merasa lega. Meskipun ia bertemu Rey hanya saat malam saja, karena sehari hari Rey menghabiskan waktunya di ruang kerja, kadang kadang ia akan pergi selama 2-3 hari dan kembali seperti orang kelelahan.
Steva melayani Rey dengan baik. Ia benar benar mencoba menjadi istri yang baik. Sikap dingin Rey masih ada. Steva juga kadang kadang masih takut saat Rey lelah dan menunjukkan sikap dinginnya.
Hari ini Steva ingin membuatkan Rey kopi. Rey trrlihat murung dari kemarin. Ia ingin mencoba mrncairkan suasana hati Rey.
Di depan ruang kerja
Tok..Tok
"Masuk"
"Rey, kopimu"
Rey hanya melirik sekilas dan kembali ke laptopnya lagi
__ADS_1
"Terimakasih"
Rey tak berusaha mengusirnya. Toh Steva sudah tau tentang ruangan itu.
Tring tring....
ada telepon masuk ke hp Rey
"Katakan"
Rey melirik Steva lagi lalu pergi ke balkon.
Steva yang penasaran mengikutinya. Diam diam ia menguping di balik tirai. Suara orang di sebrang tidak terdengar oleh Steva. Hanya suara Rey yang terdengar marah.
'Siapa ya?? Apa keluarga Rey? Atau kekasihnya?'
"Pakai yang terbaik. Cari yang terbaik. Uang bukan masalah. Lusa aku akan melihatnya"
Tidak beberapa lama Rey menutup telponnya. Tapi pikiran Steva masih kemana mana. Akhirnya Rey menemukan Steva mengupingnya.
__ADS_1
"Sedang apa?"
"Eh, tidak. Aku melihat gorden ini bagus. Aku ingin memasangnya dikamar juga" Katanya sambil menepuk nepuk gorden
"Suruh saja ina menggantinya"
"Iya"
Steva berlalu pergi ke kamarnya. Hatinya sedikit gelisah.
Apa Rey menjalin hubungan dengan wanita lain? Kenapa ia ingin yang terbaik untuk wanita itu?
jujur saja terbesit kecemburuan di hatinya. Apa yang harus ia lakukan agar ia tahu siapa itu?
...----------------...
Lusa yang di nantikan, tiba. Steva diam diam menyelinap ke bagasi mobil Rey. Ia terus berdiam disana sampai mobil mereka keluar dari hutan itu. Ia mendengar percakapan percakapan yang tidak ia mengerti dari Rey dan anak buahnya.
Mobil memasuki kawasan bandara. Kali ini Rey memakai pesawat terbang umum, karena ia tahu selama ini orangtuanya masih mengikutinya diam diam. Ketika Rey sampai di pelataran bandara, ia bergegas check in. Bodyguardnya setelah memarkirkan mobil tidak langsung pulang dan masih menunggu Rey lepas landas.
__ADS_1
Ketika anak buah Rey masuk, Steva keluar dari tempat persembunyiannya. Ia celingak celinguk. Harus kemana ia sekarang? Uang sepeserpun ia tak punya. Pulang? Bahkan bandara jauh dari rumahnya. Yang penting ia keluar dulu dari jangkauan Rey dan anak buahnya.
Steva melangkahkan kakinya keluar dari kawasan bandara. Ia lewat jalan yang tikus dekat bandara agar tak bertemu dengan anak buah Rey. Ia terus berjalan sampai menemukan seorang tukang ojek. Ia akan pulang dan meminjam uang pada ibunya untuk membayar ojek itu. Ia rindu ibunya. Mumpung bisa keluar, ia harus pergi ke rumahnya untuk memastikan ibunya baik baik saja.