
POV REY
Rey dalam perjalanan ke kota. Tapi di tengah jalan ia melupakan berkas pentingnya. Ia putar balik dan menuju villa. saat akan memasuki ruang kerjanya, ia tak sengaja melihat kamar Steva terbuka. Awalnya ia ingin menjahilinya, tapi tak menemukan sasarannya disana.
Ia kembali ke ruang kerja dan melihat CCTV
'belum 1 jam aku pergi kau sudah berulah ya?' Batin Rey tersenyum.
Tapi senyumnya seketika hilang saat ia melihat Steva memasuki ruangan yang terhubung dengan ruangan penyiksaannya. Ruangan bawah tanah yang ia khususkan untuk pengkhianat dan mata mata.
"****"
Rey mengumpat dan segera berlari menyusul Steva.
'Jangan sampai mereka menyentuhmu' mengeluarkan Pistol yang selalu ia bawa kemanapun. (Namanya juga psyco yaa😅 apalagi boss mafia. Banyak ancaman pasti)
Ia bergegas masuk dan terkejut melihat Steva yang meringkuk dengan salah satu anak buahnya menurunkan celananya.
'Dasar bedebah, istriku hanya boleh melihat milikku'
meskipun yang ia tahu Steva memejamkan matanya. Rey tak tahan lagi. Ia langsung menembak si bedebah gila itu.
Rey geram bukan main. Ia melihat Steva sudah tak memakai baju. kulit putihnya terekspos begitu saja. Ia melepas jasnya dan menutupi tubuh Steva.
__ADS_1
"Beraninya menyentuh wanitaku"
"maaf tuan, kami pikir dia mata mata"
'Dasar gila. wanitaku ini bukan mata mata. Bahkan ia tak ada bakat untuk jadi mata mata.'
"Congkel matanya itu dan biarkan dia hidup tanpa mata"
Tapi Rey lupa kalau Steva masih berada di belakangnya. Steva tak pernah melihat penyiksaan seperti ini sebelumnya. Rey kehilangan akal saat tahu Steva kejang dan tak bisa bernafas dengan normal.
...----------------...
"Entah dia takut melihat orang orang itu, atau takut melihat adegan congkel mata itu. Aku juga tidak tahu" Rey menghela nafas
'Kami ini orang normal tuan, apalagi nona memiliki penyakit seperti itu, tentu saja ia sekarat di sana. Memangnya kau, psikopat gila berdarah dingin' Tapi itu hanya ia ungkapkan dalam hati. Mana berani dia menyinggung Tuan muda satu ini. Sekali tebas, habis hilang ditelan bumi.
"Tuan, saya sudah memperingatkan anda untuk tidak memperlihatkan atau melakukan sesuatu yang berlebihan seperti itu pada nona muda. Nona muda belum pernah melakukan terapi penyembuhan. Jadi, penyakitnya bisa kambuh kapan saja. Bahkan bisa jadi gila."
"Tutup mulutmu"
"Maaf tuan... Tapi memang ini kenyataannya"
"Kau boleh pergi"
__ADS_1
"Baik tuan, permisi. Oh iya"
Dokter Mia berbalik
"Jangan memaksa nona sampai keadaanya membaik. Karena itu bisa berakibat fatal pada mentalnya."
Rey hanya diam saja. Menatap dingin pada jendela ruag kerjanya.
Seperginya Dr.Mia, Rey kembali ke kamar Steva.
Masih ada alat infus dan selang oksigen yang terpasang di hidungnya. Kali ini ia kecolongan. Padahal, ia pikir Steva akan lari ke hutan seperti sebelumnya. Ia melupakan satu hal, Bahwa Steva adalah pengamat yang baik. Ia bisa mengikuti gerakan manusia lain dan memperkirakannya sesuka hati.
Rey akhirnya merebahkan dirinya di sofa dan menelpon Sekretarisnya
"Aku akan mengirim berkas penting padamu. Urus itu."
"Baik, Tuan"
Jangan lupa Like dan komen kekurangan Author yaa... Satu like kalian sangat membantu author untuk bersemangat menulis.
Terimakasih
Sekretaris : Enaknya jadi boss.. ini itu cuma nyuruh nyuruh aja. gak tau lagi musim pusing begini. Yahh,,, semoga bulan depan gaji gw naik aja hehe 😁✌✌
__ADS_1