
Steva mulai menyusun rencana untuk kabur. Ia tak ingin gagal seperti waktu itu. Ia mulai mengukur jarak dari villa itu ke kota. Memerlukan waktu berjam-jam agar ia bisa keluar dari sini. Waktu itu,3 jam saja ia berlari, masih belum menemukan jalanan yang ramai. Semua masih sama. Hutan !
Ia harus menyiasati rencananya semulus mungkin. Yang perlu ia lakukan sekarang hanyalah memulihkan energinya.
Ditengah tengah berpikir, ia tiba tiba teringat ibunya dan Yudha.
"Ibu,, Steva Rindu, Mas Yudha... apa kabarmu mas? Apa kamu memang sudah memilih bersama wanita lain?"
Ia berlari keluar kamarnya bermaksud ingin menemui Rey. Tapi ia tak menemukannya dimanapun.
"Apa bibi lihat Rey?" tanya Steva pada salah satu pelayan yang ia lihat
"Tuan muda sedang di ruang...."
"Taman belakang" tiba tiba Bi Ina sudah berdiri dibelakang pelayan itu dan menatapnya tajam.
"Baiklah bi aku akan kesana"
"Tapi tuan muda sedang tidak ingin di ganggu nona, sebaiknya anda kembali ke kamar. Biar saya yang berbicara dengan tuan muda"
"Tidak apa apa bi, cuma sebentar kok."
"Kalau tuan muda murka, itu akan menjadi masalah bagi kami, nona muda"
Steva langsung menghentikan langkahnya. Ia berbalik dan menuju kamar
"Baiklah bi, kutunggu"
Setelah Steva pergi, bi ina memarahi pelayan yang hendak keceplosan itu.
__ADS_1
"Dengar baik baik, kalau sampai nona muda tau apa yang di lakukan tuan muda, Kau dan keluargamu akan menghilang dari dunia ini"
"Bb.. Baik "
"Tekankan ini pada seisi rumah"
"Baik bi" pelayan itu pergi ketakutan.
#
Suara pintu kamar terbuka, Steva yang tengah melamun menolehkan kepalanya.
"Kau mencariku,Sayang??"
"Aku ingin pulang." tegas Steva
"Tapi ibuku..."
"Ibumu baik baik saja"
" Aku harus memastikannya sendiri. Aku tidak tahu apa kau berbohong atau tidak".
"Ayolah baby, kapan aku memmbohongimu?"
"Huh,kau sudah lupa rupanya. Bagaimana kau menghinaku didepan seisi kampus dan bilang bahwa aku ini hanya pelacur yang naik ke ranjangmu. Kau tak mencintaiku dan hanya bermain main denganku. Kau berbohong tentang semua cintamu"
Raut wajah Rey berubah datar. Ia sangat ingat hari itu. Hari dimana Steva memutuskannya dan ia mulai mempermalukan Steva di depan umum. Ia sangat benci hari itu. Ia benci pada dirinya sendiri yang melukai Steva.
"Kau tetap tidak bisa pergi"
__ADS_1
"Kenapa? Aku hanya ingin menemui ibuku. Aku tak tahu apa yang kau lakukan pada ibuku"
"Ibumu baik baik saja" Ucap Rey tanpa melihat Steva dan masih setia dengan raut wajah datarnya.
Steva mulai kesal dengan sikap Rey.
"Atas dasar apa kau memaksaku?" Steva berdiri di depan Rey
"Atas dasar kau istriku"
"Aku tak pernah menginginkan pernikahan ini. Aku tak pernah mengakuinya. Kau akui saja sendiri. Kalau bukan karenamu, Aku sudah bahagia dengan Mas Yudha. Dia baik,tak sepertimu yang suka mempermainkan perasaan orang."
Plakk... Satu tamparan mendarat di pipi mulus Steva.
"Ia hanya bajingan yang ingin menidurimu"
"Atas dasar apa kau menghinanya? Kau bahkan tak mengenalnya. Kau benar benar sampah Rey. Aku membencimu" Teriak Steva.
Rey murka mendengar kata kata Steva. Kata itu sangat menyakitkan baginya.
"Rupanya selama ini aku terlalu baik padamu Steva, kau harus tahu bahwa tidak ada yang bisa melawanku"
Rey menarik tangan Steva dan membawanya keluar.
Ia menghempaskan tubuh Steva pada lantainyang dingin itu. Steva melihat sekelilingnya. Ruangan apa ini?? Gudang??
"Diamlah disini dan renungkan kesalahanmu"
Rey menutup gudang dan membiarkammn Steva yang masih terduduk di lantai.
__ADS_1