Pernikahan Menyiksa

Pernikahan Menyiksa
IBU ?!


__ADS_3

Rey membuka mata dan mulai mengumpulkan nyawanya. Mengingat betapa kejamnya ia pada kekasih hatinya tadi malam. Ia menyibak selimut untuk melihat luka luka yang dialami Steva.


Sreett... betapa terkejutnya ia, saat melihat bercak darah di tempat tidur itu. Itu artinya Steva tak pernah membiarkan siapapun menyentuhnya. Dan ia yang pertama?


Perasaan Rey campur aduk. Lagi lagi ia kelepasan hanya karena 1 kata dari Steva. Ia yang pertama, tapi ia melakukannya dengan kejam. Steva pasti membencinya. Ia yakin sekali itu. Ia menutupi kembali tubuh Steva dengan selimut. Memakai pakaiannya dan menelfon seseorang di sebrang sana.


"Urus semuanya rapat hari ini. Ambil alih juga perdagangan. Aku tidak ingin diganggu" Biip..


Belum sempat terdengar jawaban dari sebrang, Rey menutup telfonnya. Ia kembali ke sisi Steva. Merengkuhnya dengan perasaan bersalah. Rupanya yang di rengkuh mulai terusik. Ia merasa perih di beberapa bagian tubuhnya.


Steva mulai membuka matanya. Terlihat sosok Rey sedang merangkulnya dengan mata terpejam. Ia berusaha bangkit dari tidurnya. Namun, menggerakkan badan saja ia tidak mampu.


'aahh... sakitt... ' desis Steva. Ia merasakan perih yang luar biasa di area selangkangannya. Tubuhnya lebam dengan beberapa bagian terluka serta darah yang mengering. Ia pasrah. ia tak kuat hanya untuk sekedar membalikkan badannya.


"Mau kemana?"


Tiba tiba suara Rey mengagetkannya. Ia mulai menatap Rey. Air matanya luruh.

__ADS_1


"Kau... kau mengambilnya"


Ia terus menangis tanpa bergerak.


Rey tak mengucap satu kata pun. Ia mulai bangkit dan menggendong Steva ke kamar mandi. Ia memandikan Steva, tanpa keduanya saling bicara. Meski tubuh Steva terasa perih, lebih perih hatinya. Ia merasa tidak ada lagi yang ia banggakan untuknya. Bagaimana ia akan menemui mas Yudha nanti? (Padahal kan udah jadi istri reyy...)


Rey dengan sabar memandikan dan mengganti pakaian Steva. Bahkan sampai saat makan, air mata Steva terus terjatuh. Rey bingung, ia benar benar merasa bersalah. Ia selalu melihat Steva dalam keadaan ceria. Ini kali pertama ia melihat Steva menangis dan seperti tak ada harapan hidup.


"Panggil Mia"


Ia memerintahkan bi Ina agar menghubungi dokter mia.


"Luka lukanya sudah saya obati tuan, ingat untuk mengompresnya dan memberikan salep ini pada nona muda".


" Apa kau bisa membuatnya berhenti menangis?"


"Maaf tuan, sebaiknya anda hubungi Psikolog untuk itu. itu diluar kemampuan saya. Saya permisi tuan."

__ADS_1


Rey terus menatap Steva, ia sama sekali tak membuka mulutnya dan menolak untuk makan.'ia bahkan belum makan dari kemarin. Bagaimana ia bisa sekuat itu?'


"Lihat ini"


Rey memperlihatkan ponselnya pada Steva. Steva yang dari tadi hanya diam, mulai bereaksi. Ia membelalakkan matanya.


"Ibuu... kau apakan ibuku Rey?"


Rey menghela nafas. sebenarnya ia ingin menyembunyikan ini dari Steva. Tapi saat ini foto itu benar benar membantunya. Foto sang ibu yang terbalut infus dengan mata terpejam.


"Ibumu jatuh sakit. Aku akan membawamu kesana saat kau sudah sembuh"


"Aku baik baik saja. Ayo kita pergi sekarang.Aaww.." Steva mencoba bangkit tapi paha dan tubuhnya terasa nyeri.


"Makanlah, dan pulihkan tubuhmu. Semakin cepat kau pulih, semakin cepat kita pergi."


Saat Steva mau memasukkan makanan ke mulutnya, ia teringat kembali keadaannya. Apa yang harus ia katakan pada ibunya nanti? Ia sudah menikah?? Itu konyol, bahkan ia sudah ternodai oleh Rey. Apa yang harus ia banggakan sekarang??

__ADS_1


Steva menghentikan suapannya. Air matanya luruh lagi. Ia benar benar bingung sekarang. Semua perasaan sedih seakan menindih kepercayaan dirinya.


'Tuhan... Apa ini karmaku ? Tapi, apa salahku?'


__ADS_2