
"Aku benar benar istrinya Rey" Steva yang gemetaran tetap memberanikan diri.
Plakk...
satu lagi tamparan keras mendarat di pipi Steva. Kali ini darah segar keluar dari sudut bibirnya.
"Beraninya kau mengaku sebagai istri Tuan muda kami. Kami sudah banyak melihat wanita sepertimu. Kau hanya mata mata yang mendekati kami dan pergi ketika kau memperoleh informasi." Kata pria yang berbisik tadi.
"Apa yang harus kita lakukan padanya?"
"Hei, apa kau masih P*rawan?"
"Aku istrinya Rey, percayalah"
"Dasar wanita ******. Kau membuat kami geram."
"Ayo kita cicipi dia sebelum kita bantai tubuh moleknya itu, hahahaha".
" Jangan mendekat..."
Mereka mulai mendekati Steva dan merobek bajunya. Steva berteriak histeris. Tapi, mereka tetap memaksa Steva. Kini posisinya sudah terjepit dan tak tahu lagi mau kemana. Ia menangis ketakutan.
Salah satu anak buah Rey mulai membuka celananya. Dan ketika ia menjambak rambut Steva untuk memasukkan miliknya kedalam mulut Steva...
*Doorr..*
Pria itu jatuh ke tanah dan tidak bergerak lagi.
Semua mata tertuju pada asal tembakan.
"Tuan muda.." mereka menunduk ketakutan dan segera memberi hormat.
__ADS_1
"Beraninya kalian menyentuh wanitaku"
Teriak Rey marah. Kali ini Rey benar benar menunjukkan sifat aslinya.
Matanya memerah. Giginya bergemeretak dan tangannya mengepal erat.
Anak buahnya segera mundur menjauhi Steva yang masih meringkuk dan menangis tanpa baju di badannya.
Rey turun dan memberikan kain untuk menutupi tubuh Steva. lalu mendekati para lelaki tadi.
"Katakan. Siapa yang memberimu keberanian sebesar itu?"
"Mm... maaf tuan muda... Kami mengira dia adalah mata mata"
"Hei, kau yang disana. Cabut matanya dan biarkan ia hidup tanpa mata."
"Ampun tuan, jangan tuan."
"Aaaahhhh..."
Steva yang menyaksikan kejadian itu gemetar hebat.. Kali ini ia lebih panik daripada saat ia tertangkap tadi. Ia benar benar belum pernah menyaksikan kejadian mengerikan seperti ini.
"Rrr... Rrr.. Rr... Reeyy"
akhirnya nama itu keluar juga. Nafasnya mulai sesak. Tangannya berkeringat dan kini ia yakin kalau penyakitnya sedang menguasai dirinya.
Rey menoleh pada Steva segera setelah mendengar suaranya. Ia seakan sadar kembali. Ia menjentikkan tangannya untuk memberi tanda kalau semua harus pergi dari tempat itu. Anak buahnya menunduk dan langsung pergi.
Rey berlari ke arah Steva yang sedang terengah engah antara sadar dan tidak sadar. Matanya membulat, tubuhnya gemetar dan nafasnya naik turun. Rey segera mengambil obat semprot dari sakunya yang memang ia bawa kemana mana sejak ia kenal dengan Steva.
"Sayang, sadarlah" ia mulai mengobati Steva. Tapi....
__ADS_1
Tidak mempan !!!!
Steva masih dalam keadaannya tadi. Bahkan sampai obat itu habis Steva tetap seperti itu. Rey langsung menggendongnya san berlari keluar.
Saat ia tiba di ruang tamu, ia melihat seorang pelayan.
"Panggil Mia. Ia harus datang dalam waktu 1 menit"
Ia berlari ke kamar Steva dan membaringkannya disana. Ia tetap menyemprotkan obat yang ia ambil dari atas laci Steva.
"Sayang, Sadarlah. Kumohon"
Rey sangat panik. Ia belum pernah mihat kondisi Steva separah itu.
Dokter Mia yang baru sampai langsung menangani Steva. Ia diberi kabar pelayan bahwa Steva kejang. Untung ia membawa peralatan yang ia yakini dapat membantu Steva.
Beberapa saat setelah Dokter Mia menyelesaikan tugasnya, Steva tenang dan tertidur. Rey menghela nafas lega. Begitu pun Dr.Mia.
"Maaf, apa yang terjadi Tuan?"
"Dia melihat yang tidak seharusnya dia lihat" Ucap Rey masih menatap Steva.
"Bisa anda katakan,Tuan? Saya cukup tahu keadaan Tuan dan keluarga Tuan. Mungkin saya bisa memberi arahan untuk kedepannya, Tuan"
Rey meliriknya sekilas. Benar, Mia adalah orang yang paling tahu keadaannya saat ini.
"Ayo, ke ruang kerjaku"
Jangan lupa Like dan komen kekurangan Author yaa... Satu like kalian sangat membantu author untuk bersemangat menulis.
Terimakasih
__ADS_1