
Rey masih memainkan ponselnya. Ia mengatur semua pertemuannya agar bisa ia lakukan pada malam hari. Itulah kenapa Steva jarang bertemu Rey, malam hari Rey akan bertemu rekan bisnisnya dan menjalankan berbagai macam usahanya. Pada siang hari terkadang ia akan tidur di ruang kerja atau di mansionnya sendiri. Hanya saja Stev yang Steva tau Rey jarang bekerja keluar dan hanya bekerja sebentar di ruang kerjanya.
"Aku haus"
Ucap Rey masih memainkan ponselnya
"Oke, aku ambilkan"
Ucap Steva yang sudah berbaring, tapi kembali bangkit saat Rey mengatakan permintaannya.
Ternyata air minum di kamar Steva habis. Ia turun untuk mengambilnya.
Sesampainya di atas
"Terlalu dingin"
Steva melongo. 'Ha??? Dulu kau biasa saja minum air dingin' padahal air itu air biasa, bukan air dingin
'Sabar Stev, kau ingin jadi istri yang baik kan? Ayo turuti kemauannya'. Dalam hati Steva
Steva yang malas berdebat turun lagi dan mengambilkan air hangat untuk Rey.
"Terlalu panas"
Steva yang geram meletakkan gelas itu di atas meja dengan keras.
"Ambil saja sendiri"
__ADS_1
"Berani sekali kau membantahku"
"Rey, aku tak tahu apa seleramu. Begini begitu semua salah. Ambil saja sesukamu. Bukankah kau biasanya sendiri?"
"Biasanya? Hei, dimanapun selalu dilayani. Aku jadi miskin hanya untuk berpura pura di depanmu. Aku kasihan saja padamu. Mana ada yang mau pada gadis miskin sepertimu" Ucap Rey dengan tatapan mengejek.
"Baiklah, aku tahu"
Steva mencoba bertahan dengan sikap Rey. Mungkin Rey lelah, pikirnya. Ia harus mencoba menerima Rey seperti apapun keadaannya. Steva pergi ke balkon untuk menenangkan pikirannya.
Ia terus menyemangati dirinya untuk menerima sikap Rey.
Saat akan masuk, Steva kebingungan, Karena pintunya terkunci. Ia mencoba memanggil manggil Rey yang sudah berbalut selimut menghadap ke sisi lain.
"Rey, aku terkunci. Bisa tolong bukakan?" Steva mencoba berbicara pada Rey, namun Rey tak bergerak sama sekali.
Steva terus menggedor gedor pintu, tapi Rey masih bungkam. Sampai akhirnya ia terduduk di luar. Malam di villa sangat dingin karena memang dekat sekali dengan perhutanan. Steva hanya bisa memeluk tubuhnya sendiri dan tertidur dengan duduk.
Rey menggendong Steva ke tempat tidur. Ia meletakkan dan menyelimuti tubuh Steva yang menggigil.
'Aku ingin lihat seberapa lama kau bertahan. Kau rela menyerahkan tubuhmu hanya demi lari sini'
...----------------...
Steva terbangun dan mendapati dirinya tidak di luar lagi. melainkan dalam balutan selimut hangat. Tapi, Rey sudah tidak ada disampingnya. Ia mencari sosok Rey, tapi tak menemukannya
Steva turun dan bertanya pada bi Ina.
__ADS_1
"Kemana Rey bi?"
"Tuan muda ada di Ruang kerjanya, nona"
"Baiklah aku akan kesana"
"Tunggu nona, tuan muda sedang tidak ingin di ganggu"
"Hanya sebentar bi"
" Saya mohon, Nona. Itu bisa berakibat buruk bagi kami para pelayan ini."
"Hhhhh.... baiklah.. aku akan sarapan dulu"
"Silahkan nona"
...----------------...
Saat sedang makan, tiba tiba terjadi keributan di luar.
"Rey, keluar kau. Aku tahu kau menyembunyikan Steva disini"
"Ada apa ya bi?"
"Saya juga tidak tahu nona, mohon nona tetap disini. Biar saya cek dulu, jangan kemana mana demi keselamatan nona"
"Iya bi."
__ADS_1
"Rey.. Beraninya kau bermain di belakangku. Steva.. Keluar dan jelaskan semua ini. Apa maksudmu mempermalukanku seperti itu !!"
Steva yang penasaran mencoba ke ruang tamu dan melihat dibalik jendela. Betapa terkejutnya ia....