
"Jangan tersenyum pada dokter itu. Dia menginginkanmu" Rey
"Jangan berlebihan Rey, dokter zain cukup baik, dan.." Steva menatap Rey lekat lalu menghambur ke pelukannya.
"Terimakasih Rey, terimakasih. Setidaknya aku ada harapan untuk penyakitku."
Rey yang diperlakukan seperti itu jadi luluh. Ia tidak menyangka akan mendapat pelukan dari Steva. Ia termangu, yang tadinya mau marah malah jantungnya berdegup kencang.
Saat Steva sadar apa yang ia lakukan, ia melepas pelukannya cepat, lalu menunduk.
"Aku lapar, aku akan makan dulu"
Rey masih terdiam di tempatnya dengan tatapan kosong. Ia baru sadar saat Steva benar benar menghilang dari hadapannya. Ia bergegas menuju meja makan. Jangan ditanya, ia juga lapar karena hari ini ia menanda tangani begitu banyak dokumen. Tapi, berkat hari ini akhirnya besok ia bisa bersantai dengan kekasihnya itu.
Rey duduk dimeja makan tanpa sepatah katapun. Ia makan dengan tenang sampai selesai.
"Kutunggu diatas"
Rey mengatakan hal itu dengan berlalu pergi. Dan lagi, ia seperti berbisik. Steva yang asyik makan tidak memperhatikan kata kata Rey, sampai ia salah dengar.
'Apa katanya tadi? Diabetes? tapi makanan ini sehat semua. Bahkan, aku rindu dengan makanan orang miskin'. Ia berpikir sejenak. Ia menghentikan kegiatan makannya dan kelabakan mencari bi inah.
"Bii... bibi... Cepat... telp dokter Mia, bilang Rey sakit"
"B..Baik,nona" Bi inah yang mendengar tuan mudanya sakit juga ikut kelabakan.
__ADS_1
Steva berpikir Rey sakit diabetes, jarang sekali kan ia mendengar Rey berbicara sepelan itu.
...----------------...
"Reeyy... kau dimana? Rey?? aku sudah menelpon dokter mia, jangan menyendiri saat sakit. Aku akan membantu merawatmu"
Sedangkan Rey yang baru masuk kamar mandi, merasa terusik ketika Steva menggedor pintu kamar mandi yang ada di kamarnya, Ia teriak teriak seperti orang tidak waras. Rey tentu saja ikut bingung. Ia keluar dengan handuk yang melilit di tubuhnya dan rambut yang setengah basah.
"Apa?" Rey yang kebingungan dengan situasi ini, bertanya pada Steva.
"Rey, kau disini. Aku sudah menyuruh bi Ina menelpon Mia, jangan sembunyi seperti itu saat sakit."
"Apa maksudmu? Siapa yang sakit?"
"Bukannya tadi kau bilang 'Kambuh diabetes?' "
"Tadi di meja makan"
Rey mengingat ingat apa yang ia katakan tadi.
'Oh, ****' ia segera mengambil ponselnya dan menghubungi Mia.
"Tidak perlu kesini. Hanya salah paham." Tuuut
Rey kembali menatap raut Steva yang khawatir.
__ADS_1
Ia gemas sekali dengan tingkah Steva. Bagaimana bisa ia dengar kata kata begitu? Rey yang seperti ini sakit diabetes? Yang benar saja. Ia hampir tertawa, tapi ia tahan. Sepertihya sifat jahilnya pada Steva kambuh lagi.
"Apa kau tahu apa yang kau lakukan?"
"Ya, tentu saja. Kau sakit dan aku memanggilkan dokter untukmu. Aku akan merawatmu Rey." Steva masih ngotot dengan perkataannya.
" Aku bilang 'Kutunggu diatas' bukan kambuh diabetes."
'Apa? Jadi dia salah dengar?'
"Dan kau, kau menggodaku ketika aku mandi. Kau tahu kan kalau itu akan mudah berdiri ketika tidak pakai apa apa??"
Blushhh.... Wajah Steva seketika merah.
"Maa... Mana kutahu. Yasudah kalau salah dengar, aku akan keluar. Teruskan mandimu"
Steva melangkah pergi. Tapi baru beberapa langkah, Rey manggapai pinggangnya.
"Mau kemana kau? Tanggung jawab dulu pada adikku"
"Dasar mesum kau, Rey" Steva melepas tangan Rey dan segera berlari keluar.
Jangan ditanya gimana dokter miaš¤£š¤£ Ia putar balik tapi harus pulang lagi karena mainan orang² tidak jelas itu
"Kalau saja kau bukan tuan muda, pasti kuabaikan saja telpon tidak pentingmu ituu. Dasar menyebalkan"
__ADS_1
"Hahaha,, angap saja hiburan"~Dr.zain