
"Tuan, sepertinya keadaan mental nona sedikit memburuk. Apa terjadi sesuatu baru baru ini?" Dr. Zain
"Tidak tahu" Rey menjawab asal.
"Sebaiknya nona dibawa ke rumah sakit untuk penyembuhan psikisnya" kata Dr.Zain lagi
"Tidak. Mia, bukankah aku hanya menyuruhmu datang seorang saja? kenapa kau malah membawanya?"
"Emmm.... kondisi nona diluar batas kemampuan saya tuan, saya dokter untuk penyembuhan luka medis saja, luka psikis tidak bisa saya tangani"
"Tuan, kita bisa mencoba saran Dr. Zain"
"Tidak. Dia tidak boleh keluar dari sini"
"Hh... baiklah tuan, untuk saat ini saya dan Dr. Zain akan mengamati perkembangan nona dan akan stay disini. Kalau keadaannya masih begini selama 24 jam, mau tidak mau kita harus membawanya ke RS"
"Terserah kau saja"
...----------------...
Rey masih tetap memandangi Steva, wajahnya sayu, pucat, tak berenergi. Sebenarnya bukan tanpa alasan Rey membawa dan menyembunyikan Steva disini. Tapi, Rey tahu orang tuanya selalu mencari Steva ke segala penjuru arah sampai sampai mereka mengirim mata mata untuk membuntuti Rey.
Meskipun kekuatannya tidak ada apa apanya dibandingkan Rey, tapi Rey tahu orang tuanya tidak akan tinggal diam. Rey telah memutuskan hubungan yang dinilai menguntungkan. Ia juga menyebar berita tentang status mafia keluarganya. Kalau dulu, bisa hidup saja sudah merupakan mukjizat. Tapi, sekarang semua berbeda. Untuk Steva lah Rey meraih semua pencapaiannya. Untuk Steva seorang. Tapi, kenapa susah sekali mendapatkan kepercayaan gadis itu lagi?
Tiap kali ia hampir sampai puncak, ada saja yang terjadi, hingga kepercayaan itu kembali runtuh. Ia yakin Steva sudah mulai menyukainya, karena ia tahu betul sifat kekasihnya itu, ia tak akan mau memberi kesempatan yang sama kalau ia sudah mati rasa.
"Emmhh..."
__ADS_1
Terdengar lenguhan kecil.
Steva membuka matanya. Rey menatapnya lembut.
"Sudah bangun?"
Steva diam saja. Entahlah, ia memikirkan sesuatu. Ia menoleh ke arah lain.
"Apa ada yang kau inginkan?"
"Dimana bi Ina?"
Rey diam. 'Sudah pingsan pun kau masih mengkhawatirkan orang lain?'
"Kenapa kau tak menjawab Rey? Apa kau membunuhnya?"
"Tidak"
"Tapi kau melukainya sampai begitu. Apa kau tak punya hati Rey? Kau selalu melampiaskan kekesalanmu dengan menghukum orang lain. Apa kau gila? Apa kau itu psycho?"
Steva selalu memancing emosi Rey. Kali ini ia harus tahan, demi kesehatan mental Steva.
"Kalau kau marah padaku, lampiaskan padaku, lukai saja aku, bunuh aku. Kenapa kau melampiaskannya pada orang tak bersalah?"
Steva memukul mukul dirinya sendiri. Ia menangis dengan keras.
"Cukup, hentikan."
__ADS_1
Rey memeluk Steva. Tapi Steva tetap saja berontak. Mau tidak mau, ia harus memanggil Dr.Zain.
Meskipun ia sangat tidak rela istrinya disentuh oleh lelaki lain.
Dr.Zain menyuntikkan obat penenang pada Steva. Steva pun tertidur lagi.
"Tuan, biar saya yang menemani nona. Anda bisa beristirahat dulu." Dr. Mia
"Tapi..."
"Demi nona muda, tuan"
Rey kalah. Ia keluar di buntuti Dr.Zain di belakangnya.
"Tuan,kita bisa membawanya ke Rumah Sakit untuk menyembuhkannya."
"Siapa kau berani mengaturku?" Jawab Rey ketus.
"Tapi,kondisi nona sangat mengkhawatirkan tuan"
"Bukannya kau hanya mengobati asma? kenapa sekarang berubah jadi dokter mental?"
"Saya menyandang 2 gelar saat kuliah di luar negeri, tuan"
'Sial, Steva sangat suka lelaki berpendidikan. Aku jadi semakin membencinya'
"Pergilah."
__ADS_1
"Baik, tuan"