Pernikahan Menyiksa

Pernikahan Menyiksa
MINTA MAAF?


__ADS_3

Steva segera bangkit dari duduknya ketika menyadari Rey menutup pintu dan menguncinya di dalam.


Sejujurnya Steva takut berada dalam ruangan gelap sebesar ini sendirian. Ia meraba dinding untuk menemukan dimana ia bisa menyalakan lampunya. Namun rasa menentang dan gengsi yang begitu besar, sehingga membuat Steva tak mau menangis apalagi memohon pada Rey.


Ia terus berputar mengelilingi ruangan itu dengan sedikit pencahayaan yang merambat masuk dari jendela kecil diatas sana. Ternyata gudang itu tidak ada lampunya. Terpaksa malam ini ia tidur dengan minim pencahayaan.


#


Cklek. Pintu terbuka. Bi Inah datang dengan membawa nampan berisi sarapan paginya. Steva yang melihatnya diam saja tak bergerak.


"Nona muda, ini sarapan anda"


"Bawa saja kembali" Steva mempertegas suaranya


"Maaf nona, tuan bilang kalau anda tidak makan, ibu anda juga tidak akan makan"


Huh? Lagi lagi dia mengancamnya dengan menggunakan ibunya. Steva muak dengan semua ini.


"Terserah." Dia mencoba untuk tenang, meskipun dalam hati dia mengkhawatirkan ibunya.


"Saya permisi, nona"


Bi Inah menaruh nampan dilantai dan mengunci pintunya kembali.

__ADS_1


Steva bingung. Apa yang harus ia lakukan disini? Tidak ada hiburan dan pekerjaan apapun. Ia benar benar sangat bosan. Ia mulai merapikan gudang itu dan membersihkannya. Ia juga mulai menata tempat untuk ia tiduri nanti malam.


Steva membersihkan tempat itu dengan hati hati. Ia menyapu sebentar, lalu menjauh. Menyapu lagi dan menjauh lagi. Begitu terus. Karena ia tak mau asmanya kambuh lagi. Ia juga alergi debu. Berada di tempat yang terlalu banyak debu akan membuatnya merasa sesak.


Belum sempat ia merapikan semuanya, Bi Inah datang lagi


"Makan siang anda,Nona."


"Bawa pergi saja" Steva masih sibuk menyibak ini itu didalam gudang itu.


Bi Inah melihat sarapan yang masih utuh dan tetap berada di tempatnya, ia mengambilnya dan meletakkan makan siangnya di lantai.


"Saya permisi,nona"


Setelah selesai, Steva merebahkan dirinya diatas tumpukan kardus yang ia gunakan sebagai alas tidur. Ah, lengket sekali rasanya badannya. Ia ingin mandi. Tapi apalah daya ia terkunci disana. Ia akan meminta ketika Bi Inah menghampirinya lagi. Tidak ada jam, hanya dari pencahayaanlah ia tahu perbedaan pagi,siang,dan malam.


Bi Inah datang membawa makan malam. Lagi lagi makan siang Steva tak tersentuh sama sekali.


"Bi, bisakah akh keluar untuk mandi?"


"Maaf nona, akan saya bicarakan pada Tuan muda dulu."


"Baiklah bi"

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, terdengar pintu terbuka


"Bagaimana bi.. Apa..." Steva menghentikan kata katanya. Ketika yang terlihat tidak sesuai dengan perkiraannya.


"Apa, apa?" Suara dan tatapan dingin itu serasa menghujam i Steva. Entah mengapa Steva merasa bahwa mood suaminya itu sedang tidak baik. (belum mengakui suami sihh😅)


"Aku ingin mandi"


"Bukankah kau senang berada disini?? Apa kau sudah merenungi apa kesalahanmu?"


"Kesalahan? haha, ayolah... aku hanya ingin bertemu ibuku. Dan itu bukanlah kesalahan."


"Jadi kau tidak mau meminta maaf?"


"Minta maaf? Tidak akan pernah"


"Kau memang harus di beri pelajaran, baby. Inaa... "


Teriak Rey. Ini kali pertama Steva melihat Rey berteriak di depannya. Jujur saja Ia kaget dan merasa sedikit takut.


"Iya tuan muda"


"Bawa dan bersihkan dia. Aku ingin dia sempurna malam ini. Bersiaplah dengan hukumanmu" Ucap Rey lalu pergi.

__ADS_1


__ADS_2