
Perlahan Rey membaringkan Steva dan mulai menanggalkan pak*ian Steva. Steva mulai gugup.
"Tenanglah, dan nikmati"
Bisikan Rey terdengar begitu merdu di telinganya.
Ia mencoba menstabilkan diri.
Perlahan ia mengikuti permainan Rey dan mulai mengalungkan tangannya di leher Rey.
Rey yang merasa terkode, segera memberi pemanasan di daerah lain😁✌
Steva merasa seluruh tubuhnya bergetar.
Antara nikmat,geli, bercampur menjadi satu.
"Emmhh" Ia melenguh kecil. Tapi ia segera menutup mulutnya. Ia malu bertindak seperti itu di depan Rey
"Keluarkan, jangan kau tahan" Rey semakin meliar.
Dan ketika adiknya mulai memposisikan dirinya, Steva terkejut
"Ahh... Ss.. sakit Rey"
"Tahanlah sebentar"
__ADS_1
Rey menjerumuskan semua miliknya. Steva kesakitan. Dan Rey tahu itu, ia mendiamkan sejenak agar ruang disana bisa beradaptasi dengan baik.
Setelah dirasa cukup, Rey mulai menggerakkannya.
Steva masih sedikit meremas tangan Rey. Rey mencoba memainkannya selembut mungkin.
Perlahan, tangan Steva merenggang. Rupanya ia mulai merasakan kenikmatannya... Lenguhan lenguhan kecil keluar dari bibirnya. Rey mulai mempercepat lajunya. Lenguhan itu sudah berubah menjadi erangan antara keduanya.
"Aah... Reyy... it's So Good"
"Yess baby... it's So delicious"
Rey memang baru pertama kali merasakan ini...
Dulu ia melakukannya dengan perasaan murka. Tapi, kali ini berbeda. Mereka benar benar dua insan yang sedang dimabuk asmara sekarang.
Steva yang lelah tertidur dengan cepat. Rey masih setia memandangi wajah Steva. Ia benar benar bahagia malam ini. Ia tak peduli alasan Steva mau menerimanya. Entah karena terpaksa atau suka, ia benar benar tak peduli. Baginya ini sudah sebuah kemajuan yang besar.
'Steva... Andai kau tahu betapa aku mencintaimu' Ia menyudahi angannya dan tidur bersama bidadari tercintanya.
...----------------...
Saat terbangun pagi hari, Steva menyadari sesuatu. Ia belum bilang pada Rey bahwa ia akan mencoba menerima Rey. Karena kejadian semalam terlalu tiba tiba, Steva pun lupa apa yang seharusnya ia lakukan. Tapi apa ia akan terlihat murahan saat ini?? Tidur dengan orang yang selama ini selalu ia ketusin?? ia judesin?? Entahlah, dalam hati Steva masih terlalu banyak tanda tanya.
Masalah ruang bawah tanah itu juga Steva lupa menanyakannya. Padahal ia harus tahu langkah yang ia ambil untuk kedepannya agar tak pernah masuk kedalam ruangan itu lagi.
__ADS_1
"Belum cukup semalaman?" Suara Rey membuyarkan lamunan Steva. Dan ajaibnya ia melakukannya dengan mata tertutup.
"Bukan.. Rey.. ada yang mau kutanyakan"
"Hmm..." Rey menjawab sambil memeluk pinggang Steva
"Ruangan apa kemarin itu? Kenapa mereka menyiksa orang?" kepolosannya seketika muncul
Rey membuka matanya dan merenggangkan pelukannya.
"Kau tidak perlu tahu. Cukup jangan pergi kesana"
"Tapi aku benar benar ingin tahu Rey, mereka sangat kasihan. Orang orang bertubuh besar itu menyiksa mereka tanpa belas kasihan"
Rey menghela nafas
"Ruangan pengkhianat. Siapapun yang berani berkhianat kepadaku akan masuk kesana. Aku tak peduli apa yang mereka lakukan pada para pengkhianat itu. Itu balasan yang setimpal"
Rey melirik Steva yang masih mencerna kata katanya.
"Termasuk kau, juga akan masuk ruangan itu kalau kau berani macam macam padaku"
Glekk...
Steva bersusah payah menelan air ludah. Rey yang memperhatikan ekspresinya tersenyum miring
__ADS_1
'Dasar bodoh, mana mungkin kau kusandingkan bersama para pengkhianat. Bahkan kau kabur dariku selama bertahun tahun aku tetap menunggumu'