
Steva masih menangis dalam diam. Entah sudah berapa jam berlalu. Ia tak merasa lapar sama sekali. Bahkan, melihat makanan pun ia enggan. Ia hanya mengutuk dirinya yang kini telah hina, telah kotor, menyerahkan mahkotanya betu saja pada mantannya. Pada suaminya tepatnya. Entah kenapa, Steva sendiri masih belum rela mengakui pernikahan ini. Meskipun ia tidak begitu membenci Rey, tapi cintanya masih utuh untuk mas Yudha nya, Calon imam sempurnanya itu.
"Masih tak mau makan?"
Suara itu lagi, Steva benar-benar muak sekarang. I masih diam tanpa menoleh.
"Apa kau ingin aku membunuh ibumu dulu agar kau mau makan?"
"Apa maumu? Bukankah Kau sudah mengambilnya? Kau bisa melepaskanku sekarang. Aku juga sudah ternoda. Bukankah kau selalu bilang hanya ingin itu dariku?"
"Baik kalau itu maumu"
Rey mengepalkan tangannya geram, Ia merasa Steva sedang menginjak harga dirinya. Ia memanggil beberapa bawahannya.
"Bawa dia ke hutan, jangan biarkan dia makan atau minum meskipun itu hanya setetes embun."
"Baik, Tuan muda"
Para bawahannya segera membawa Steva yang sama sekali tak melawan ke hutan.
__ADS_1
#
Steva merasa tenggorokannya kering. Ini bahkan baru sehari Rey membuangnya ke hutan, tapi Ia sudah merasa begitu tersiksa. Luka pada kulitnya, area intimnya, bahkan ia belum kemasukan nutrisi apapun sejak kemarin. Steva sudah tak menangis lagi. Air matanya sudah mengering dan bahkan ia tak punya tenaga lagi untuk menangis. Matanya tertuju pada selembar daun yang menampung setetes embun diatasnya, Steva mulai bergerak untuk mengambilnya, sekedar mengobati keringnya kerongkongannya.
Rey terus memperhatikan gerak gerik Steva melalui layar monitor. ia menaruh cctv di salah satu anak buahnya. Ia ingin tahu apa Steva akan menyerah dan kembali padanya atau tidak. Saat Steva berdiri dan menyentuh daun itu, Salah satu bawahan Rey menghempas daun dengan kasar. Sehingga embun kecil yang sangat berharga bagi Steva tadi terjatuh.
'Oh Tuhan, apa aku akan mati disini? Di hutan yang mungkin ketika mayatku sudah membusuk pun, tidak akan ada yang menemukanku.'
Perlahan matanya terpejam. Ia tersungkur ke tanah, dan mulai kehilangan kesadaran.
#
"Apa kau bodoh?? Apa kau lebih memilih mati dari pada diam dan patuh padaku?"
Steva tetap diam. Ia melihat pergelangan tangannya terdapat selang infus, badannya sudah tak seremuk sebelumnya. Dan, sel**gkangannya sudah tidak nyeri lagi.
"Hari apa sekarang?"
"Apakah hari lebih penting dari nyawamu?"
__ADS_1
Steva diam. Rey akhirnya berusaha meredam emosinya.
"Hari minggu"
'Aku pingsan selama 4 hari?' pikir Steva
"Ya, kau pingsan selama 4 hari" Rey berkata seolah bisa membaca pikiran Steva.
"Kenapa?"
"Apa?"
"Kenapa kau memungutku? Bukankah aku sudah tidak berguna bagimu?"
"Jangan banggakan tubuhmu, bahkan kau tak bisa memuaskanku.Jangan mimpi mau mati kalau kau belum bisa memuaskan ku. Semua wanitaku hanya kuizinkan pergi setelah mereka pandai"
Kata-kata itu terdengar menjijikkan bagi Steva. Ia harus berhubungan lagi dengannya? bahkan membayangkan saja Steva merasa ngeri. Kemarin saja ia berkali kali pingsan karena berhubungan dengannya. Bagaimana bisa ia harus melakukannya lagi? Mungkin, ia akan mati pada pertempuran selanjutnya.
Steva bergidik ketika pikiran itu muncul di kepala kecilnya. Ia merasa harus menjauhi atau bertemu dengan Rey. Yang benar saja, ia tak mau mati muda
__ADS_1