Pernikahan Menyiksa

Pernikahan Menyiksa
SALAH PAHAM LAGI


__ADS_3

REY


Satu nama yang terlintas di benak Steva. Tapi Rey membawanya kemana? Ia harus apa sekarang? Kalau ia ke bandara lagi pasti Rey dan anak buahnya sudah pergi. Apa yang harus ia lakukan sekarang??


Steva menyusuri pinggiran jalan raya. Ia tak peduli tatapan orang orang yang melihatnya dengan tatapan jijik dan hina. Dikatakan gila pun, Pikirannya sudah melampaui orang gila sekarang. Ia melihat sebuah jembatan, dengan arus air yang sangat deras dibawahnya.


'Penyebab semua kekacauan ini adalah aku. Andai aku tidak ada, pasti ibu sudah bahagia. Andai aku tidak ada, mas Yudha juga pasti sudah bahagia. Andai aku tidak ada, Reyy....' Pikirannya terhenti.


'Rey pasti juga bahagia dengan jalan hidupnya sendiri' ia tersenyum pahit.


'Rey.. Terimakasih kamu sudah bersedia membawa ibuku. Meskipun aku tidak tahu kenapa dan kemana kau membawanya, aku tahu kau tidak akan jahat pada ibuku'


Steva melangkahkan kakinya semakin dekat dengan jembatan. 'Ibu,terima kasih untuk semuanya. Steva sayang ibu'


Steva mencoba menjatuhkan diri. Dan...


Srettt....


"Apa yang kamu lakukan?"


"Mas Yudha...." Steva runtuh seketika. Tangisnya pecah. Ia benar benar lelah. Mulai dirinya yang harus menjadi tulang punggung keluarga dengan berbagai hinaan dipundaknya sampai ia menjadi sandera Rey.


"Sebenarnya Apa Salahku mas? Kenapa harus aku? Aku sudah berusaha sampai di titik ini. Kenapa hasilnya sangat berbeda dengan perkiraanku?"

__ADS_1


Yudha mencoba menenangkan Steva.


"Steva, tenanglah. Semua akan baik baik saja."


Yudha memperhatikan penampilan Steva. Hatinya perih, terasa teriris. Ia memeluk Steva. Ia berusaha merelakan Steva pada Rey. Tapi apa yang di depan matanya ini? Dia bahkan lebih buruk dari pengemis. Mata orang yang mengenalnya telah memandangnya hina. Ia harus menanggung semua beban yang tentu saja itu bukan kesalahan dia.


"Kita pergi dulu dari sini yaa.."


Yudha mengajak Steva yang sudah mulai tenang untuk meninggalkan tempat itu. Ia mengajaknya pergi ke apartemennya. Steva membersihkan diri disana.


"Maaf, hanya baju ini yang kupunya"


"Tidak apa apa mas. Terimakasih. Aku akan mandi dulu"


...----------------...


Yudha memperhatikan Steva yang menggunakan kaosnya. Sedikit kebesaran, sehingga membuat Steva sangat imut saat memakainya. Yudha bersemu🤭


"Sudah lebih tenang?"


"Emm... iya. Terimakasih. Jawab Steva malu malu


" Ada apa? Rey mengusirmu?"

__ADS_1


"emm.. tidak. aku menyelinap hehe. Aku pulang. Tapi sepertinya perkataan Rey sudah menyandera ibu itu benar"


"Menyandera? Dengar darimana kamu?"


"Rey sendiri yang bilang padaku. Kupikir itu hanya alatnya untuk mengancamku. Tapi, setelah aku pulang, dan tahu ibu tidak ada aku tahu bahwa Rey memang menyanderanya. Bahkan Rey melakukannya saat ibu masih di rumah sakit. Iblis juga tidak sekejam itu." Steva mulai berkaca kaca.


'Ternyata Rey tidak memberi tahu Steva yang sebenarnya'


Hhh.... Yudha menghela nafas


"Steva, sepertinya kau salah paham. Setelah kegagalan pernikahan kita, aku selalu memantau ibu. Meski aku belum bisa menjaga ibu secara langsung." Yudha menunduk


"Tidak apa apa. Pasti tante sangat marah ya padaku. Maafkan aku membuatmu berada di posisi sulit mas"


"Bukan itu maksudku. Kita jangan bahas mama. Kita bahas ibu dulu. Steva, Rey tidak menyandera ibu. Dia membawa ibu berobat. Dan kabarnya, kemarin dia membawa Ibu ke Amerika. Aku mendapatkan info itu dari mata mata yang ku kirim untuk menjaga ibu."


Steva terbelalak.


'Apa? Jadi wanita yang dibicarakan Rey kemarin itu ibunya? Rey tidak selingkuh?'


"Mas, bisa antarkan aku ke villa Rey?"


Yudha mengangguk.

__ADS_1


__ADS_2