
Steva bingung. Kadang Rey baik, kadang dia seperti orang gila yang kesetanan.
Meskipun dulu ia tahu kalau Rey selalu jadi orang baik, baru kali ini ia tahu kalau Rey punya 2 kepribadian yang berbeda.
Ia sendiri berpikir kalau dirinya juga sama. Bukankah baru kemarin ia melihat Rey membunuh orang? Menyiksa orang?
Kenapa di hari berikutnya ia malah tidur dengan Rey??
Dalam hati Steva banyak sekali pertanyaan pertanyaan yang belum bisa ia tebak jawabannya.
Yang perlu ia lakukan sekarang adalah membuka hatinya untuk Rey dulu. Mulai mencoba menerima Rey sebagai suaminya. Mungkin itulah satu satunya jalan agar ia bisa kembali ke kehidupan damainya. Bertemu ibunya, dan bertemu orang banyak. Ia seperti mumi yang terjerat disini. Hanya para pelayan dan bodyguard yang dilihatnya setiap hari.
'hhhh..' Steva menghela nafas lagi. Ya tuhann.... Ini benar benar melelahkan...
...----------------...
Tok tok...
"Masuk" Rey berbicara tanpa melihat ke arah pintu
"Aku membawakanmu kopi"
"Apa yang kau lakukan disini?"
"Aku hanya ingin mengantar kopi"
__ADS_1
"Taruh saja disitu. Dan keluarlah"
"Baik" Saat hendak keluar Steva berbalik
"Jangan terlalu lelah Rey"
Rey terdiam. Sampai Steva keluar pun dia masih terdiam.
'Apa kepalanya terbentur ketika ia ke ruang bawah tanah kemarin? Kenapa tiba tiba berubah?'
Rey memencet 1 tombol di telepon ruang kerjanya dan langsung tersambung ke telepon ruang pelayan. Pas sekali bi ina yang mengangkatnya
"Apa kau yang membuatkan kopi?"
"Tidak tuan, nona muda sendiri yang membuatnya. Nona bilang ingin membuatnya untuk tuan"
"Baik, tuan muda"
Bi ina naik dan menjalankan perintahnya.
Saat itu, Steva sedang menulis tentang ibunya, ia benar benar rindu ibunya. Ia mendapatkan alat dan buku tulis dari Bi Ina beberapa waktu yang lalu, saat ia mencoba rancangan untuk kabur.
"Nona, Tuan muda ingin nona melihat lihat taman di belakang agar tidak bosan"
"Bolehkah bi??" Steva melihat bi ina dengan tatapan berbinar. Ia langsung menaruh buku dan bolpoinnya begitu saja diatas meja
__ADS_1
Pelayan yang di perintahkan segera masuk saat bi ina dan Steva sudah keluar dari kamarnya.
...----------------...
"Maaf, tuan muda, kami hanya menemukan ini"
"Taruh di atas meja"
Rey membaca buku Steva dan tercengang. Ia bahkan sampai kehilangan kata kata. Buku halaman pertama dipenuhi dengan rancangan kabur
Tentang seberapa jauh jarak villa dan kota yang masih belum terjangkau Steva, tentang bagaimana ia keluar, dan cara cara membujuk Rey. Bahkan tertulis disana kalau Steva akan mencoba merayu Rey hanya demi bisa keluar dari sini.
Rey membelalakkan matanya
'Kau mau tidur denganku demi keluar dari sini?' Di halaman halaman berikutnya semua tertulis tentang ibunya
Tentang apa yang akan Steva lakukan saat ia bertemu dengan ibunya nanti, tentang ceritanya yang menikah paksa dengan Rey, dsb.
Rey bahkan belum membaca sampai akhir, tapi giginya sudah bergemeratak. Ia geram sekali dengan tingkah Steva. Apa menurut Steva ia lelaki gampangan karena mencintainya? Lihat saja, apa yang akan ku lakukan padamu nanti. Kau akan menyerah Steva. Beraninya kau mempermainkanku!
Steva kembali ke kamarnya. Ia merasa sedikit lelah. Ia bertemu Rey di kamarnya.
"Rey... sedang apa kau disini?" tanya Steva lembut. Sudah lama sekali Rey tak mendengar nada bicara Steva yang seperti itu. Tapi semakin lembut Steva, semakin Rey geram.
"Mulai hari ini aku tidur disini"
__ADS_1
"Oh, baiklah"
Meskipun Steva sedikit tercengang, tapi ia hanya mengiyakan saja.