
Di dalam mobil, Steva perlahan sadar. Ia tidur di pangkuan Rey, dengan Rey yang menatap tajam padanya.
"Rey... k.. kumohon bb...biarkan mas Yudha Pergi"
Steva bicara terbata bata. Wajahnya tak berbentuk lagi.
Dahinya berdarah, bibirnya juga berdarah, tangan dan kakinya penuh luka goresan. Untuk duduk saja ia tak mampu.
Rey tetap diam dan memandang keluar dengan wajah dinginnya. Tangan Steva yang terborgol mulai menarik baju Rey pelan.
"Rey.. Kumohon, kau bisa membunuh atau menyiksaku, tapi mas yudha tidak punya salah apapun padamu."
Pas pada saat itu mobil memasuki gerbang pelataran villa.
Rey menggendong Steva keluar mobil dan membawanya ke kamar.
"Rey..."
"DIAMM !! APA DI OTAKMU HANYA ADA PRIA BRNGSEK ITU?" Rey mulai muak dengan perkataan Steva.
"Tapi ia tak ada kaitannya dengan kita Rey... Aku hanya memintamu membebaskannya. Biarkan dia menjalani kahidupan normalnya"
Rey geram dan tangannya mencengkeram leher Steva.
"Dengar baik baik, Aku tidak akan pernah melepaskan dia. Apalagi kalian berniat kabur dan mengkhianatiku."
"Uhuk uhuk.."
__ADS_1
Steva terbatuk saat Rey membuka cengkeramannya.
"Rey... Apa yang harus ku lakukan untukmu agar kau berubah?"
Rey membuang Borgol yang baru saja ia buka dari tangan Steva.
"Oh, mungkin kau harus menjual tubuhmu lagi?"
"Apa maksudmu Rey?"
"Bukankah kau menyerahkan dirimu padaku hanya untuk pergi dari sini? Dasar wanita murahan. Hanya demi lari dari sini kau memberikan dirimu padaku dan mencoba menyenangkanku. Cih"
"Apa maksudmu Rey... "
Steva tak kuasa menahan tangisnya.
"CUKUP!! DASAR WANITA ****** !!"
Tok.tok...
Dokter Mia yang sampai langsung mengetok pintu. Sejujurnya ia sampai dari tadi. Tapi ia tidak mau menghentikan pembicaraan kedua orang itu. Tapi saat ini sepertinya tuan mudanya akan bertindak lebih jauh kalau ia tak segera muncul.
Rey menoleh padanya
"Urus dia" Lalu meninggalkan Dokter Mia dan Steva disana.
"Halo nona, Dari sekian banyak kasus, hari ini anda sadar ya?" Dr. Mia tersenyum
__ADS_1
"Apa dokter yang selalu mengobatiku??"
" Ya. Panggil saja aku Mia. Aku Dokter pribadi Tuan Muda."
"Terimakasih Mia, anda sudah menyelamatkan saya berkali kali. Dan untuk Kali ini mohon bantuannya lagi"
Dokter Mia tersenyum mendengar hal itu dan mulai mengobati Steva.
...----------------...
Jam menunjukkan pukul 20.00 malam, Steva merasa haus. Ia bangun untuk mengambil air. Tak sengaja saat keluar, Ia melihat ruang kerja Rey. Dengan ragu ragu, ia mencoba mendekat dan mengetuk pintu.
Tidak ada jawaban.
Ia mencobanya lagi, tapi tetap sama. Ia mulai memberanikan diri masuk.
Ruang kerja itu lebih nampak seperti gudang terbengkalai. Ia mulai melangkahkan kakinya pelan dan mencari keberadaan Rey.
"Rey..."
Sejujurnya ia takut masuk kesana. Tapi ia terlanjur penasaran dan terlanjur membukanya.
"Rey..." Sekali lagi ia mencoba mencari Rey.
Ternyata di sudut ruang itu terlihat sebuah ruangan. Steva mencoba masuk dan mendapati beberapa CCTV yang merekam setiap sudut villa itu.
Yah, Steva juga tak heran dengan hal itu. Tapi ia melihat kamarnya juga terekam di sana. Berarti selama ini Rey melihat kamarnya?? Apa yang dilakukannya? Ia juga melihat banyak sekali foto dirinya terpasang di sisi tembok yang lain.
__ADS_1
Foto candid, foto ia bersama Rey dulu. Bahkan ruangan itu hampir penuh dengan fotonya. Ia merinding. Apa ini?? ruang apalagi ini?? Ia berbalik dan hendak pergi, tapi Rey sudah menatapnya tajam di depannya.