Pernikahan Menyiksa

Pernikahan Menyiksa
PERGI


__ADS_3

Di lain tempat


Yudha mengeram marah melihat video pernikahan Rey dan Steva. Bisa bisanya Steva melarikan diri darinya hanya karena ingin kembali ke mantannya?


Yudha sangat tahu siapa Rey. Salah satu mantan Steva, juga sebagai salah satu pebisnis termuda yang menerima penghargaan karena kehebatannya. Dan ia juga tahu bahwa Rey adalah orang yang kejam,bengis,tapi ia tetap proffesional dalam bekerja.


Meskipun Yudha sempat mengagumi Rey, kekagumannya ia buang saat tahu bahwa Rey adalah mantan kekasih Steva. Ia hanya ingin bersaing dengan Rey, yang tentunya masih jauh dari jangkauannya. Bahkan ayahnya pun tidak bisa mengalahkan Rey karena bisnis Rey paling luas di kota dan negeri itu.


Yudha sangat menyayangkan perilaku Steva yang mengkhianatinya. Dan ia membuat keluarga Yudha malu. Yudha mulai membenci Steva dengan angan angannya. Ia berperang dengan dirinya sendiri. Selama beberapa tahun mengenal Steva tak pernah sekalipun Steva berselingkuh. Apa ini alasannya? Steva ingin mempermalukan dirinya? Satu nalurinya yakin bahwa Steva bukan orang seperti itu, tapi naluri yang lain mengatakan bahwa bisa saja ini siasat kedua kekasih itu untuk menjatuhkannya.


#


Sudah hampir seminggu Steva berada di villa Rey, suaminya. Selama itu pula ia memikirkan cara untuk kabur dari sana. Meskipun penjagaan villa tidak terlalu ketat,ia tahu bahwa ada beberapa cctv yang terpasang disana. kecuali dikamarnya (Padahal mah dikamarnya juga dipasang. cuma steva aja ga tau😅)


Setelah kejadian itu Rey tak pernah terlihat. Tapi ia juga tak pernah melihat mobil Rey bergerak dari tempatnya. Hari itu hujan turun lebat. Villa yang memang menyendiri itu terasa lebih menakutkan dari biasanya. Tiba tiba Steva mendengar suaara mobil. Ia segera berlari menuju jendela. Terlihat Rey dan beberapa pengawal disana memasuki mobil. Memang, di villa itu hanya ada satu mobil Rey yang tak berplat. Entah apa fungsinya Steva juga tidak tau.


Ia harus memanfaatkan kesempatan ini. Ia keluar mencari pelayan disana.

__ADS_1


"Biii.... bibii"


"Apa ada yang bisa saya bantu non?"


"Saya ingin bermain hujan. apakah boleh?"


"Maaf non, tapi nona dilarang keluar dari pintu utama"


"Bilang pada Rey kalau aku yang minta"


"Baik non,tunggu sebentar"


"Kata tuan Asal anda tidak sakit nona, tapi tidak boleh sampai keluar gerbang."


"Saya tahu, terimakasih bi. aku akan mengganti pakaian sebentar"


Steva berlari menuju kamarnya mengganti banjunya dengan baju yang lebih longgar. Tidak berat walau nantinya akan ia pakai berlari di tengah hujan. Tak lupa ia memasukkan obat asmanya kedalam saku. Agar pelayan lain tidak curiga, Steva berjalan dengan santai menuju luar rumah. Hanya bi ina yang mengekorinya. Ia mulai hujan hujanan seperti anak anak. Ia memang sangat suka hujan,tapi setiap kali hujan hujanan, pasti langsung demam dan sakit sampai beberapa hari.

__ADS_1


"Ayo bi, sini ikutan hujan hujanan" teriak steva


"Terimakasih nona, bibi disini saja" ucap bi ina dengan tersenyum. Bi ina lega karena steva mulai menunjukkan keceriaannya.


"yaahh... bibi gak seru.. Aku haus bii... minta teh hangat dongg"


"tunggu sebentar nona" Bi ina segera menuju dapur. Ia tidak sadar kesalahan yang ia lakukan karena terlalu asyik melihat steva menari di tengah hujan.


Steva segera membuka gerbang yang memang tidak terkunci. karena semua pengawal ikut dengan Rey. Ia segera berlari sejauh mungkin mengikuti jalan setapak yang tidak terlalu lebar.


sesekali ia terjatuh karena nafasnya tersengal. sesekali itu pula ia menekan obatnya agar nafasnya normal. Karena villa itu di tengah hutan, tidak ada bantuan sama sekali. Steva tetap berlari meskipun keadaannya sudah compang camping tak karuan. dimana ia menginjak rerumputan dipinggir jalan yang membuatnya terjatuh dan darah keluar dari beberapa bagian tubuhnya. siku,dahi dan kakinya berdarah akibat gesekan aspal saat ia terjatuh tadi.


Setelah kurang lebih berlari selama 3 jam, Steva berhenti. kali ini tubuhnya lemass sekali, obat yang ia bawa juga langsung dikeluarkan. Dan... push push... ia menekan beberapa kali. Tapi obat itu tak keluar sama sekali.


ia menekan terus dengan rasa panik. Push.. Pushh.... kosongg... obat itu habis


'Jangan sekarang, kumohon, apa aku akan mati seperti ini? Tubuhnya tumbang di tengah hujan. Matanya sayup sayup melihat tapak kaki. Nafasnya tersengal karena penyakitnya.

__ADS_1


"Tolong...." ia hanya mampu melambaikan tangannya tanpa bisa berbicara.


langkah kaki itu berhenti tepat di depannya. Saat Steva ingin melihat wajahnya, ia sudah tak kuat lagi dan pingsan.


__ADS_2