Pernikahan Menyiksa

Pernikahan Menyiksa
PERCOBAAN GILA


__ADS_3

Steva menatap tanah bertabur bunga yang masih basah di depannya. Ia haya terus diam tak berucap apapun. Para pelayat sudah pergi. hanya tersisa dirinya, Rey, dan para bodyguardnya.


Rey memberi isyarat pada para bodyguardnya agar meninggalkan mereka. Yang diberi isyarat langsung paham. Mereka menunduk lalu pergi.


"Sayangg.... ayo kita pulang"


Rey menepuk lembut bahu Steva


Steva hanya diam. Matanya masih tertuju pada nisan yang bertuliskan nama ibunya. Ia tak mampu berucap. Air matanya pun seakan sudah kering.


Semua dunianya, seakan menghitam begitu saja.


Ibunya adalah satu satunya orang yang ia punya di dunia ini. Semua usahanya, kerja kerasnya, hanya untuk ibunya. Bahkan, dirinya rela mendekam di penjara Rey yang bagai neraka juga demi ibunya.


"Sayangg..." Rey memanggilnya lagi


Steva tetap diam. Dia terus menatap nisan itu. Entah apa yang dirasakannya. Hanya dia yang tau.


Rey menyerah. Ia tak ingin memaksa Steva hari ini.


Rey mundur perlahan, ia melihat steva dari jauh.


Ia juga menemaninya tanpa menyentuhnya.


"Ibuu..." Akhirnya setelah beberapa lama, Steva bersuara.


"Ibuu...." ia menangis sambil memeluk nisan ibunya.


Rey tetap setia menunggu Steva disana. Rey menyalakan sebatang rokok.

__ADS_1


Saat rokok itu hampir habis, Rey merasa hening. Ia mematikan rokoknya. Didekatinya istrinya itu, ternyata Steva tertidur disana sambil memeluk nisan ibunya. Rey menggendongnya, tapi sepertinya yang tertidur tak terusik sama sekali.


'Tidurlah.. Kau lelah sayang'


Rey membawanya pulang


...----------------...


Steva membuka matanya perlahan, menoleh ke sekelilingnya, sepi...


Ia melihat buah buahan diatas nakas dan sebilah pisau. Perlahan ia turun dari ranjang dan mendekati buah itu, mengambil pisau kecil di sebelahnya, dan...


mengiris pergelangan tangannya sendiri


'Tunggu aku, buu...'


Steva terduduk di lantai.


Steva segera menduduki bekas darahnya yang menetes di lantai dan menyembunyikan tangannya.


"Sayang, apa yang kau lakukan di bawah?" Rey mencoba membantu Steva berdiri. Tapi, Steva tidak mau


"Ada apa? Apa ada yang sakit?" Rey mencoba menilisik. Tqpi Steva buru buru menepis tangan Rey dan mendorongnya.


Mata Rey tertuju pada sebelah tangan Steva yang disembunyikan


"Kau memegang apa di tangamu itu?"


Steva menggeleng dan menggeser badannya mundur.

__ADS_1


Dan terlihatlah darah yang tadi ia tutupi.


"Darah?" Rey mendelik dan menghampiri Steva. Rey mengambil tangan yang di sembunyikan Steva.


"Apa ini? Apa yang kau lakukan?" Rey menyobek kemejanya dan mengikatkannya pada tangan Steva. Tapi Steva memberontak.


"Tidak. Biarkan aku mati"


"Apa kau gila?" Rey berteriak sambil terus mencoba memperban tangan Steva.


"Aku ingin bertemu ibu. Aku mau bersama ibu. Aku.." belum selesai kata katanya, Steva tak sadarkan diri.


Ia kehilangan darah yang cukup banyak.


'Sial, bagaimana bisa aku kecolongan seperti ini?'


Rey membopong Steva ke kasur. Ia berlari ke arah pintu.


"Mia... Mia"


Dr. Mia yang tetap Stay disitu, langsung berlari menuju ke kamar Steva. Tanpa bertanya apa apa, ia menghampiri Steva dan memeriksanya.


"Nona kehilangan banyak darah, Tuan. Kita harus membawanya ke rumah sakit"


"Apa tidak bisa disini?"


"Untuk saat ini nyawa nona lebih penting daripada keegoisan anda, Tuan" Dr.Zain menimpali


"Baiklah, kita berangkat sekarang"

__ADS_1


...----------------...


Halo temen temenn... maaf yaa up nya lama... author baru selesai lahiran nih, hehe... Jadi masih sibuk sama baby... Trus dukung author yaa biar up nya cepet hehe.. pencet love nyaa🥰


__ADS_2