Pernikahan Menyiksa

Pernikahan Menyiksa
PENDEKATAN DAN BERITA BESAR


__ADS_3

"Nona, tenanglah. Ini aku" Mia


Steva menoleh. Tapi kembali ke asal. Menatap dinding kosong yang ada di depannya.


"Ada yang mau kau ceritakan?"


Steva diam saja. Sejujurnya ia malu pada Dr.Mia


Tapi emosinya mengendalikannya.


Dr.Mia memegang tangan Steva.


"Menangislah..." ia tahu Steva menahan diri di depannya. Menurutnya akan lebih baik kalau Steva melepaskan semua bebannya.


"Aku tidak apa apa"


"Nona, meski aku tidak tahu 100% kehidupanmu, aku tahu kalau dunia tidak adil padamu. Kau bisa berbagi dengan ku, mungkin aku bisa sedikit membantumu"


Steva menoleh. Kali ini dia runtuh, luluh. Ia memeluk Dr.Mia dan menangis.


"Salah ku pada Rey apa? Kenapa dia selalu melakukan hal kejam?? Bahkan semua pelayan itu yang melayaninya selama disini. Kenapa dia berbuat seperti itu?"


Dr.Mia mengelus punggung Steva.


"Nona, Tuan muda sangat mencintaimu. Dia takut kehilanganmu, dia takut kau meninggalkannya. Tuan muda bukanlah orang yang pandai mengekspressikan diri. Kau juga mengenalnya kan? Dia tidak tahu cara apa yang bisa ia lakukan untukmu agar kau tetap di sampingnya." Mia melepas pelukannya


"Tapi, bukankah ini salah?"


"I know, Tapi bukankah tuan muda tidak melukaimu?"


"Mia, aku hanya tidak ingin melihat orang sekelilingku terluka karena aku. Karena ayahku juga meninggal karena aku"


Sekelebat bayang terlintas, dimana tubuh ayahnya lemah tak berdaya didepan kedua matanya. Demi melindunginya, ia rela mengorbankan nyawanya.


"Ayah... Ayaahh..."

__ADS_1


Steva menangis lagii... "Ayaahh... seandainya waktu itu ayah tidak melindungikuu..."


"Stev, tenanglah. Kendalikan perasaanmu." Dr.Mia tahu Steva mulai panik, kalau dibiarkan ia akan menjadi histeris lagi.


Tiba tiba Steva berlari keluar. Ia menuruni anak tangga. Terlihat Dr.Zain memainkan ponsel di ruang tengah. Sekilas Dr.Zain memandangnya.


'Ah,kacau saja kau cantik'


Steva melihat apa yang di carinya tidak ada disana. Ia kembali menaiki tangga, menuju ruang kerja Rey.


Ia membuka pintu. Tapi tak melihat jejak orang yang dicarinya.


Ia masuk ke ruang itu, membuka pintu rahasia (dulunya). Daannn...


Ya. Ketemu. Rey ada disana.


Ia mencari Rey. Tapi rupanya yang dicari tak menyadari kehadiran Steva.


"Hey, aku menyuruhmu melakukan yang terbaik kan?? Untuk apa aku membawa ibuku kesana kalau cuma untuk bertemu orang tidak becus sepertimu"


"Aku tidak peduli. Hidupkan lagi atau kau akan menyesal seumur hidupmu !!"


.......


"Apa kau tuli... Aku bilang hidupkan lagi apapun..."


Brukk... Steva terjatuh. Tatapannya kosong.


Rey menoleh..


"Sayang... semua akan baik baik saja."


Rey menenangkan Steva.


Steva merebut telpon yang di pegang Rey

__ADS_1


"Ibuu... ibu kenapa?" Ia mencoba menenangkan diri


"Emmm.. nonaa"


"Diam.." Rey berteriak ke arah ponsel. Tapi Steva menahannya


"Katakan saja. Aku yang menjamin keselamatanmu" Ia melirik Rey sekilas


"Mm.. Maaf.. Nonaa... Ibu anda... tidak tertolong.." suara disana mengatakan dengan terbata bata.


Brukk... Ponsel yang dipegang Steva terjatuh.


"Tenanglah sayang..."


Rey mulai panik. Ia bingung harus bagaimana.


"Ibu..." Perlahan air matanya terjatuh. Kali ini habis sudah.


Semua kekuatan yang ia punya hilang.


"Maaf.. maafkan aku... Kumohon tenangkan hatimu"


Rey juga seperti kehilangan kekuatan. Ia tau kekuatan Steva hanya dari ibunya. Ia tau Steva tak akan bisa menerima ini.


'Kumohon sayang..kuatlah...' Bathin Rey.


"Rey... Ini bukan Salahmu. Ayo kita jemput ibu"


Steva mengtakan itu dengan tatapan hampa.


Rey melongo. Reaksi Steva sungguh diluar dugaan. Ia pikir Steva akan pingsan atau kejang seperti waktu itu.


"Cepaat...."


"Oh.. emm... Baik. Kita berangkat sekarang"

__ADS_1


__ADS_2