Pernikahan Menyiksa

Pernikahan Menyiksa
LARI


__ADS_3

Steva membuka matanya.


'Ah, dikamar'


Ia masih memegangi dadanya yang sakit. Wajahnya terasa nyeri karena tamparan kemarin. Bahkan luka di bibirnya belum kering. Saat ini perasaannya bercampur aduk. Ia sakit,takut, dan bingung. Sakit fisik, takut hati, dan bingung dengan apa yang harus ia lakukan sekarang.


Ia bangun dan bermaksud mengambil makanan. Perutnya lapar sekali. Ia melihat Rey di Sofa sedang tertidur


Deg... 'Jangan jangan Rey juga akan mencongkel mataku karena ketahuan kabur. Tidak, bisa saja Rey mencabut salah satu kakinya, atau bahkan keduanya.' Apa yang harus ia lakukan sekarang? Ia benar benar takut. Rasa trauma melihat pencongkelan itu masih terngiang jelas di pikirannya. Bagaimana ini? kalau dia membuka pintu, Rey pasti akan bangun.


...----------------...


Setelah lama berpikir, ia tak bisa lagi menahan perutnya yang kelaparan. Akhirnya ia melepas semua alat medis yang ada di tubuhnya. Membuka pintu perlahan, berharap Rey tidak terusik. Saat ia membuka nya, Rey masih setia dalam tidurnya. Saat ia melangkahkan kaki keluar....


"Mau kemana?"


Kaki Steva berhenti seakan tak bisa melangkah. Badannya terdiam disana. Untuk menoleh saja ia tak mampu.

__ADS_1


"Mau kemana?" Rey masih bersabar. Mengingat kata kata Dr.Mia kemarin, ia harus menahan diri kali ini. Meski Rey marah karena Steva ceroboh, Ia akan bertanya dan menghukumnya lain kali.


Steva berlari dengan langkah kecil. Keadaan tubuhnya yang belum pulih membuatnya tak mampu bergerak lebih. Ia menuruni tangga dengan langkah terseok seok. Melihat Rey mengejarnya, ia semakin menambah kekuatannya untuk berlari.


Steva terpeleset dan jatuh terguling di beberapa anak tangga. Untungnya, tidak ada luka. Hanya badannya terasa nyeri.


"Stevaa" teriak Rey


"Aawwhh... " Steva masih mencoba untuk bangun. Ia benar benar merasa harus menghindari Rey kali ini. Gila saja ia mau mendekati orang yang mau memutus kakinya.


"Kenapa kau begitu ceroboh? Apa kau terluka?" Rey memandangnya dengan khawatir.


"Jangan potong kakiku, atau mencongkel mataku. Jangan membunuhku... Jangan.. Jangan memotong tanganku juga. Daan... daan..." Kali ini air matanya benar benar tumpah. Bola matanya mengitar kesana kemari takut menatap Rey.


'Oh my God, apa itu yang kau pikirkan sepanjang hari otak kecil?'


Rey tertawa. Kali ini ia tertawa keras sekali. Sampai pelayannya terheran heran. Belum pernah mereka melihat tuannya tertawa. Jangan mimpi melihat Rey tertawa. Melihatnya tersenyum saja seperti mukjizat bagi mereka.

__ADS_1


Steva melihat Rey dengan bingung. 'Dia tertawa? Apa dia gila?'


"Hei... tenanglah. Aku tidak akan melakukan apapun padamu. Kali ini aku memaafkanmu dan meringankan hukumanmu. Aku akan menghukummu nanti. Sekarang, apa yang mau kau lakukan?"


"A... aku lapar"


"Baiklah, makanlah agar kau punya tenaga menjalani hukumanmu".


Rey menggendong Steva ke tempat makan. Disana ada beberapa makanan yang sudah di siapkan para pelayan.


Jangan tanya kenapa para pelayan langsung menyiapkan hidangan. Mereka di bayar tinggi untuk peka. Yah tentunya selain buta dengan apa yang mereka lihat, mereka juga dituntut untuk melakukan perintah tanpa pengulangan 2x.


Steva makan seperti orang kelaparan. Ia melahap habis makanannya dalam sekejap. Rey tersenyum sedikit


'Kenapa kau makan dengan imut seperti ini? Aku jadi ingin memangsamu kan'


Aah... adik Rey meronta ronta ingin di masukkan ke sangkarnya

__ADS_1


Jangan lupa Like dan komen kekurangan Author yaa... Satu like kalian sangat membantu author untuk bersemangat menulis.


Terimakasih


__ADS_2