
Jika saja ia bisa berjalan dengan kedua kakinya, mungkin dia akan berlari agar segera sampai ke kamar. Tapi, dia tidak bisa melakukan hal itu karena terhalang keadaanya yang tidak memungkinkan untuk bergerak bebas akibat cacat ini.
Kamar yang dekat terasa sangat jauh bagi Ilya yang ingin segera sampai. Meskipun sebenarnya, itu hanya perasaan saja. Karena dia ingin segera bertemu Dinda agar bisa menjelaskan semua kesalahpahaman yang sedang terjadi sekarang.
Ketika Ilya telah tiba di depan pintu kamar, tanpa banyak basa-basi lagi, dia langsung mendorong pintu itu dengan keras. Dinda yang kini sedang berbaring sambil memeluk guling, langsung terkaget akan ulah Ilya barusan.
Tapi, dia tidak ingin melihat wajah Ilya sekarang. Karena itu, meski dia terkejut, dia tetap tidak akan bergeming sedikitpun. Dengan sekuat tenaga yang ia punya, dia akan mempertahankan posisi baringnya saat ini.
Ilya yang melihat Dinda sedang berbaring tengkurap, langsung mendekat. Ia tahu kalau saat ini, Dinda pasti sedang sangat marah padanya. Karena itu, Dinda tidak melirik dirinya sedikitpun.
"Dinda. Aku ingin menjelaskan apa yang sedang terjadi. Surat itu bohong. Aku tidak pernah mempunyai anak dari perempuan manapun."
__ADS_1
Dinda tetep diam dengan posisi yang masih sama. Ilya tahu, kalau saat ini, Dinda mendengarkan apa yang ia katakan. Karena itu, dia akan terus berucap apapun yang ia inginkan.
"Din, surat ini hanya fitnahan saja. Aku bisa bersumpah kalau aku tidak pernah melakukan hubungan terlarang dengan perempuan manapun."
"Ya, aku akui kalau aku adalah pria bajingan yang suka mempermainkan perempuan dulunya. Tapi, aku tidak pernah menggauli mereka, Adinda. Sekalipun aku tidak pernah melakukan hubungan terlarang dengan satu pun perempuan yang aku jalin hubungan. Aku hanya suka bersama mereka. Tapi tidak dengan menyentuh mereka layaknya hubungan suami istri pada umumnya. Karena aku masih bisa berpikir sedikit sehat."
"Aku hanya suka bermain-main. Tapi masih belum siap menjadi ayah dari manusia yang lain, atau suami orang lain. Karena aku masih ingin bebas waktu itu. Karena itu, aku tidak pernah menyentuh para perempuan itu satu kali pun."
"Jadi, jangan percaya dengan apa yang kamu ketahui hari ini, Dinda. Karena jika aku tidak pernah menyentuh mereka, maka dari mana aku bisa punya anak? Itu jelas-jelas hal yang mustahil. Tidak pernah berhubungan suami istri, bagaimana bisa punya anak, bukan?"
Dinda pun memilih untuk bangun dari duduknya. Lalu, mata mereka pun saling bertemu pandang karena sejak tadi, Ilya ada di samping Dinda.
__ADS_1
"Apakah ... kata-kata yang kak Ilya ucap itu benar? Apakah aku bisa percaya setelah aku melihat beberapa bukti yang perempuan itu kirimkan?"
"Apa barang bukti yang dia kirimkan yang membuat kamu begitu yakin kalau aku bicara kebohongan barusan, Dinda? Karena semua yang aku katakan tadi itu adalah kebenaran. Aku rela bersumpah demi apapun kalau aku mengatakan hal yang sangat benar. Karena masa lalu aku, hanya aku yang tahu."
"Jika kak Ilya benar, bagaimana perempuan itu bisa mengirimkan padaku bukti USG lima tahun yang lalu? Bagaimana dia bisa mendapatkan hal yang seperti itu, kak?"
"Dinda. Itu bukan bukti. Soal laporan USG itu bisa mereka dapatkan dari siapa saja yang sekarang punya anak berusia lima tahun. Pikirkan saja soal itu."
Dinda terdiam. Perlahan, benaknya membenarkan apa yang Ilya katakan. Dia yang tidak berpikir soal itu malah terjerumus ke dalam rasa sakit akibat keteledorannya sendiri. Terlalu percaya akan apa yang ada di depan mata. Tidak berpikir jernih soal apa yang ia lihat itu benar atau salah. Malah langsung menerimanya mentah-mentah, lalu menelannya bulat-bulat tanpa ia olah terlebih dahulu.
Sementara itu, Ilya yang melihat Dinda mulai melemah, langsung memegang tangan Dinda.
__ADS_1
"Percaya padaku, Dinda. Aku tidak berbohong sedikitpun padamu. Karena aku sudah memilih untuk melabuhkan hatiku padamu sekarang. Aku rela melakukan apapun agar kamu percaya padaku. Karena aku memang tidak berbohong apapun. Tidak ada rahasia apapun lagi yang aku sembunyikan dari kamu."
"Dinda, masa laluku memang sangat buruk. Aku tahu tidak mudah buat kamu untuk percaya apa yang aku katakan. Tapi, cobalah berpikir yang jernih, sayang. Aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk meyakinkan kamu. Bukti yang kamu punya juga tidak akurat. Dan, aku rela melakukan apapun yang kamu minta asal kamu mau percaya padaku. Aku akan bersumpah seperti apapun yang kamu inginkan. Karena aku memang tidak sedang berbohong."