Pernikahan Pelunas Hutang

Pernikahan Pelunas Hutang
*Bab 28


__ADS_3

Ucapan itu membuat Lula paham akan perubahan drastis yang telah terjadi pada Ilya. Pria bajingan itu sudah berubah jauh. Dia yang dulu begitu suka gonta ganti perempuan, kini malah tidak suka dekat perempuan yang dia anggap asing baginya. Sungguh perubahan yang luar biasa.


Meskipun begitu, Lula tidak ingin ambil pusing lagi. Dia naik dengan pelan agar kakinya yang sakit tidak bertambah sakit. Sementara Ilya yang sekarang sibuk dengan ponselnya, langsung menghentikan apa yang ia kerjakan.


Ketika Lula bertatap mata dengan Ilya, dia sungguh sangat terpesona. 'Dia masih terlihat tampan seperti dulu. Seperti saat aku pertama kali melihat dirinya di foto kakakku. Tapi, jauh lebih ganteng yang ini dari pada foto yang kakak punya.' Lula bicara dalam hati dengan semua kekaguman yang ia miliki.


Tapi, itu hanya sesaat saja. Karena detik berikutnya, Lula sadar akan apa yang ia lakukan. 'Sial! Kamu ini juga sudah dibutakan oleh keindahan fisik, Lula. Bagaimanapun, dia adalah pria bajingan yang sudah membuat kakakmu meninggal, bukan? Jadi, tidak salah jika kamu memberinya sedikit pelajaran. Meskipun, itu sangat bertolak belakang dengan hati nurani kamu.'


"Ee ... nona. Apa kamu baik-baik saja?" Pertanyaan Ilya langsung membuyarkan segala pikiran Lula.


"Ah, iy-- iya. Aku ... aku cukup baik saat ini. Meskipun kaki ku terasa begitu nyeri akibat tertindih sepeda."


"Maafkan pak Toha yang tidak berhati-hati tadi. Tapi, saat ini kami memang sedang terburu-buru. Karena itu, mohon maafkan kami ya."


"Gak papa. Aku maklum kok. Tapi, kalo boleh tahu, ada masalah apa kalian saat ini. Kelihatannya, cukup serius."

__ADS_1


"Ee ... aku tahu dari sopir anda tadi. Katanya, kalian punya hal besar yang membuat kalian begitu pusing," ucap Lula sebisa mungkin agar tidak membuat Ilya curiga padanya.


Ilya pun tanpa ragu menceritakan semua yang terjadi. Mengingat, Lula seorang penjual bunga, Ilya berpikir jika dia bercerita, maka Lula mungkin bisa membantu meringankan masalah yang sedang hadapi saat ini.


"Oh, jadi itu masalah kalian sebenarnya. Mm ... kalau berkenan, aku ingin membantu kalian. Kebetulan, aku punya sepetak kecil ladang bunga yang bisa aku jual pada kalian. Ah, tapi tentunya, aku akan menjual dengan harga pasaran yang biasa aku jual."


Ilya yang sangat membutuhkan pun langsung menerima tawaran jual beli itu tanpa ragu. "Benarkah? Kamu bersedia menjual bunga-bunga padaku?"


"Tentu saja. Tapi harganya, tidak bisa nego yah. Harga terap."


"Tentu saja. Aku benar-benar sangat senang jika kami bersedia menjual bunga yang masih segar padaku. Karena aku bisa langsung menyusunnya di taman. Tanpa harus menunggu aku tanam terlebih dahulu. Yah, memang akan sedikit mengganjal, tapi aku memang sedang sangat membutuhkan bunga-bunga itu. Jadi, aku rasa tidak akan ada yang di ambil keuntungan secara sebelah pihak di sini."


"Ah, ya sudah kalo begitu. Sekarang, kita langsung ke rumahku saja. Kita bisa lihat bunga apa saja yang kamu inginkan."


"Tapi kaki kamu .... " Pak Toha pun angkat bicara.

__ADS_1


"Eh, ini gak papa kok. Rasa nyerinya langsung hilang setelah aku mendengar ada yang ingin memborong bunga yang aku jual. Jadi, aku gak papa." Lula bicara sambil nyengir kuda.


Sebenarnya, ini cukup mencurigakan. Tapi di satu sisi yang lain pula, ini terlihat sangat wajar. Karena Lula yang terlihat sangat senang ada orang yang membeli bunga-bunga itu adalah hal yang paling wajar bagi seorang penjual. Karena itu, baik Ilya maupun pak Toha, tidak ada yang curiga sedikitpun.


Tujuan mereka pun berubah sekarang. Dari menuju rumah sakit, langsung putar balik menuju rumah Lula. Yang sebenarnya, rumah sewaan yang sudah Diani atur semuanya.


Beberapa saat berkendara, akhirnya mereka tiba di rumah Lula. Tidak ada yang mencurigakan dari rumah tersebut. Karena semuanya sudah diatur dengan sebaik mungkin. Diani yang merencanakan semuanya, tentu tidak segan melakukan apapun agar rencana kali ini benar-benar sukses tanpa ada hambatan sedikitpun.


"Ini rumah kamu ya?" Pak Toha berucap ketika mobil sudah ia hentikan di depan rumah sederhana yang sedikit jauh dari penduduk yang lainnya.


"Iya. Ini rumah saya. Ayo masuk dulu!"


"Tidak perlu. Kita langsung ke tempat bunga kamu saja. Karena saya ingin segera melihatnya," ucap Ilya dengan cepat.


"Ah, tunggu sebentar. Bunganya gak akan ke mana-mana. Tapi kaki ku ini, sedikit sakit. Karena itu, izinkan aku mengambil air untuk mengompres kaki ini terlebih dahulu. Karena itu, alangkah baiknya kalian mampir di gubuk tua ku ini." Lula sengaja bicara dengan nada yang langsung membuat hati pak Toha tidak enak.

__ADS_1


"Ah, ini bukan gubuk tua, nona. Ini rumah. Rumah yang sangat indah karena kesederhanaanya. Dan saya juga suka suasananya."


__ADS_2