Pernikahan Pelunas Hutang

Pernikahan Pelunas Hutang
*Bab 55


__ADS_3

Beberapa waktu berlalu, perjalanan Ilya dan Dinda menuju negara tetangga mulus tanpa kendala. Sepertinya, perjalanan kali ini memang benar-benar di permudah oleh yang maha kuasa. Karena tidak sedikitpun ada halangan yang menghambat di perjalanan tersebut. Hingga mereka tiba di kediaman papa Diani, tetap saja lancar tanpa ada halangan sedikitpun.


"Kalian ini ... siapa? Apa benar kalian teman Diani?" Papa Diani berucap dengan suara pelan ketika Ilya dan Dinda berhadapan dengannya di kamar tempat di mana ia selama ini menghabiskan waktu karena menderita sakit.


"Bukan teman, om. Tapi, kami adalah orang yang sudah Diani sakiti."


Mendengar ucapan itu, papa Diani tentu saja langsung memasang wajah kaget.


"Apa? Apa yang sudah dilakukan anakku pada kalian? Ulah apa lagi yang ia lakukan sebenarnya."


"Maaf, Om. Sebenarnya, kami tidak berniat untuk mengganggu om yang sedang sakit begini. Tapi, Diani anak Om itu sudah sangat kelewatan batas."


"Katakan! Apa yang ia lakukan dengan jelas."


Ilya langsung menceritakan semuanya dengan seksama. Papa Diani yang mendengarkan cerita itu langsung memperlihatkan wajah sedih yang teramat dalam.


"Diani. Kenapa bisa semakin rusak begini, Nak? Semua ini salah papa. Papa dan mama yang telah membesarkan kamu dengan cara yang salah." Orang tua itu berucap dengan nada yang sangat sedih. Air mata pun ikut berlinangan di matanya.

__ADS_1


Bukan hanya menceritakan apa yang sudah Diani lakukan pada mereka saat ini. Tapi, Ilya juga mengatakan semua yang sudah Diani perbuat beberapa tahun yang lalu. Yang menyebabkan Ilya lumpuh, dan Diana pergi untuk selama-lamanya.


Orang tua itu semakin terluka lagi saat mendengar apa yang Ilya katakan. Air mata yang berlinangan, kini langsung mengalir secara perlahan.


Aneh memang, orang tua itu langsung percaya apa yang Ilya katakan meski tanpa bukti yang nyata. Sebenarnya, kedatangan Ilya dan Dinda ke rumah ini hanya membawa beberapa persen keyakinan akan keberuntungan yang mungkin berpihak pada mereka saja. Karena mereka datang, masih dengan bukti yang tidak cukup kuat untuk membuat orang lain percaya akan apa yang mereka katakan.


Tapi kenyataannya, orang tua itu malah percaya begitu saja tanpa menyanggah sedikitpun apa yang Ilya katakan. Hal itu memang terasa agak membingungkan buat Ilya dan Dinda.


"Om .... "


"Aku sudah menebak akan semua ini. Karena Diani adalah anak yang penuh dengan ambisi, maka sikap gilanya pasti akan kambuh seiring berjalannya waktu." Papa Diani langsung angkat bicara memotong ucapan Ilya.


Ucapan itu membuat harapan Ilya dan Dinda melemah seketika. Ternyata, tidak ada hasilnya datang ke rumah orang tua Diani. Itulah yang saat ini mereka pikirkan. Sebuah penyesalan karena telah membuang waktu sia-sia.


Tapi, beberapa saat kemudian, papa Diani kembali angkat bicara. "Tapi, mungkin hanya akan ada satu hal yang bisa aku lakukan."


Orang tua itupun langsung memanggil kepala pelayan yang bertugas mengurus semua keperluan di rumahnya. Lalu mengatakan beberapa kata yang membuat hati Dinda dan Ilya kembali bersemangat.

__ADS_1


"Blokir semua rekening Diani, Pak! Putuskan semua sumber uang yang bisa Diani dapatkan. Buat dia tidak punya uang sepeser pun. Dengan begitu, dia tidak akan bisa melakukan apapun di sana."


"Baik, tuan. Akan segera saya lakukan."


"Iya. Lakukanlah sesegera mungkin. Dan jangan lupa, bilang pada semaunya, jangan ada yang memberikan Diani uang sepeser pun."


"Baik."


Begitulah permintaan papa Diani yang langsung membuat perasaan Ilya dan Dinda bahagia. Mereka pun merasa sangat lega akan apa yang orang tua itu lakukan. Meskipun kedepannya mereka tidak tahu akan seperti apa. Tapi untuk saat ini, setidaknya itu bisa menahan Diani agar tidak membuat ulah selama pencarian barang bukti yang Rafa dan Lula lakukan.


"Anak-anak, hanya itu yang bisa aku lakukan buat menebus kesalahanku pada kalian. Maafkan aku yang tidak bisa berbuat lebah banyak lagi." Papa Diani berkata sambil melihat Ilya dan Dinda secara bergantian.


"Itu saja sudah sangat membantu, om. Kami sangat berterima kasih dengan apa yang telah om lakukan saat ini."


"Iya, Om. Terima kasih banyak, dan maaf karena telah menyusahkan pikiran, Om." Dinda pula ikut bicara.


Orang tua itu tidak menjawab dengan kata-kata. Hanya senyum berat saja yang ia berikan pada Ilya dan Dinda sebagai sebuah jawaban.

__ADS_1


Selanjutnya, mereka meninggalkan kediaman papa Diani setelah urusan mereka selesai. Karena setelah urusan ini beres, mereka akan segera kembali ke tanah air untuk membantu Rafa dan Lula menyelesaikan masalah besar ini dengan cepat.


__ADS_2