Pernikahan Pelunas Hutang

Pernikahan Pelunas Hutang
*Bab 42


__ADS_3

Ilya pun menarik tangan Dinda untuk ia cium.


"Ber-- jan-- janjilah un-- tuk sela-- lu ada buat aku. Karena ... kamu adalah hid-- hidupku, Dinda."


Ilya berucap dengan terbata-bata. Sepertinya, rasa sakit yang ia derita kini mencapai puncaknya. Tapi, dia tidak menyerah untuk bertahan. Karena sekarang, semangat hidupnya telah kembali.


"Aku berjanji, kak. Untuk itu, kamu harus berjanji supaya kamu segera sembuh. Aku janji jika kamu sembuh, apapun yang kamu inginkan, aku akan berikan. Selagi itu bisa aku lakukan, maka jangan cemas. Sembuh lah, dan katakan apapun yang kamu inginkan dari aku."


Ilya tidak lagi bisa menjawab. Tapi, tangan Dinda terus ada dalam genggamannya. Tangan itu sebagai kekuatan untuk melawan rasa sakit, hingga akhirnya, Ilya langsung terkulai lemas dan hilang kesadarannya.


Terlepasnya genggaman tangan yang sedang Ilya pegang membuat Dinda panik luar biasa. Dia berteriak histeris dengan kencang dan tidak karuan bak bencana besar sedang melanda di sekelilingnya.


Teriakan itu membuat mang Mamat juga mbok Yah langsung datang. Tak lupa, dokter yang bertugas pun segera menuju ke kamar Ilya untuk memeriksa kondisi Ilya saat ini.


Tangisan pecah. Mereka takut Ilya tidak tertolong lagi. Tapi dokter yang memeriksa mengatakan kalau Ilya mungkin hanya kelelahan dalam melawan rasa sakit yang ia derita.

__ADS_1


"Tidak ada hal buruk yang terjadi pada pasien. Sebaliknya, tubuh pasien malah sudah bisa menerima efek obat dengan baik. Ini adalah kabar baik yang sebelumnya sangat kita harapkan. Tubuh pasien yang sebelumnya menolak obat, kini sudah bisa menerima. Karena itu, kita bisa sedikit lega sekarang."


Ya, begitulah penjelasan dokter yang baru saja selesai memeriksa keadaan Ilya. Sepertinya, obat yang paling mujarab buat Ilya adalah Dinda. Setelah kedatangan Dinda, maka tubuh Ilya pun bisa menerima obat dengan baik.


"Tapi, kenapa kak Ilya malah pingsan sekarang, Dok?" Dinda masih saja merasa cemas meskipun dokter sudah menjelaskan dengan penuh semangat.


"Pasien pingsan karena tubuhnya sedang istirahat. Setelah melawan rasa sakit, tubuhnya merasa kelelahan. Karena itu, pasien masih pingsan sekarang. Tapi, beberapa jam lagi dia juga akan sadar. Tidak perlu mencemaskan keadaannya lagi. Karena saat ini, dia sudah lebih baik dari pada sebelumnya."


"Apakah dia akan sembuh dalam waktu dekat, Dok?" Dinda masih ingin tahu lebih banyak tentang keadaan Ilya. Meskipun sekarang, hatinya sudah sangat lega karena tahu Ilya sudah baik-baik saja.


"Dia butuh perawatan selama beberapa hari di rumah sakit supaya keadaannya bisa pulih seperti sebelumnya. Tapi, ke depannya saya sarankan agar hal buruk ini tidak akan pernah terulang lagi. Karena tubuhnya sangat lemah. Dia harus dijaga dengan sangat baik. Jika tidak, dia tidak akan bisa bergerak lagi."


Meskipun Ilya tidak sempurna dan tidak bisa menjadikan dirinya sebagai wanita yang sempurna. Tapi Dinda tetap akan merawat Ilya dengan sepenuh hati. Dia akan menua bersama Ilya nantinya.


....

__ADS_1


Beberapa jam berlalu. Akhirnya, apa yang dokter katakan terbukti juga. Ilya perlahan membuka mata kembali. Tapi, saat dia membuka mata, dia tidak menemukan Dinda. Karena saat ini, Dinda sedang berada di kamar mandi untuk urusan yang paling mendesak.


Mbok Yah dan mang Mamat yang berjaga di dalam kamar tersebut pun langsung menghampiri Ilya dengan perasaan sangat bahagia. Mereka tersenyum lebar ke arah Ilya saat ini.


"Den Ilya sudah sadar? Katakan sama mbok, Den! Apa ada yang sakit? Apa mau mbok panggilkan dokter sekarang buat memeriksa keadaan Den Ilya."


"Tidak, Mbok. Aku tidak butuh dokter. Dinda .... "


Ilya tidak melanjutkan ucapannya. Mbok Yah pun langsung paham apa yang Ilya inginkan sekarang.


"Non Dinda. Dia .... "


"He ... aku tahu kalau dia gak akan datang. Kenapa aku harus bangun dari mimpi indah ku tadi? Aku tidak ingin kenyataan ini," ucap Ilya dengan nada sedih.


Sejujurnya, Ilya masih tidak yakin kalau Dinda yang dia lihat itu nyata. Karena itu sekarang, saat mbok Yah ingin menjelaskan di mana Dinda, dia langsung memotong ucapan si mbok. Dia tidak ingin kenyataan pahit itu ia dengar.

__ADS_1


Kebetulan, ucapan Ilya barusan langsung terdengar oleh Dinda yang baru saja kembali dari kamar mandi. Karena itu, Dinda pun langsung menjawab apa yang Ilya katakan.


"Kamu beneran gak ingin kenyataan aku ada di sini, kak? Kalau begitu, aku pergi saja sekarang. Biarkan kamu tetap terhanyut dalam mimpi indah mu itu."


__ADS_2