
Dinda masih tidak bisa berucap. Dia menatap mata Ilya yang kini menatapnya dengan penuh harap. Bukan hanya itu, Ilya juga sekarang sedang menggenggam erat tangannya. Terasa getaran hebat dari tangan Ilya saat ini. Dinda merasa kalau Ilya memang sedang berusaha sangat keras untuk membuat dirinya percaya kalau apa yang barusan dia katakan itu adalah sebuah kebenaran.
"Percayalah padaku, Dinda. Percayalah padaku," ucap Ilya sambil mencium kuat tangan Dinda.
Perlahan, perasaan Dinda pun mulai meluluh. Iya pun tidak ingin membantah hatinya yang memang sangat mempercayai semua perkataan Ilya.
"Baiklah, kak Ilya. Aku percaya apa yang kak Ilya katakan."
Ucapan itu seakan air mengalir di tengah kehausan bagi Ilya. Matanya pun langsung berbinar karena ucapan Dinda barusan.
"Kamu percaya, Sayang? Katakan! Aku harus berbuat apa agar perasaanmu benar-benar bisa lega dan tidak menyimpan sedikitpun rasa tidak enak atas apa yang sedang terjadi."
__ADS_1
"Tidak perlu melakukan apapun, kak Ilya. Karena kalau di pikir-pikir, yang salah itu adalah aku. Aku yang terlalu gegabah saat mendapat informasi tentang kamu. Tidak berpikir dengan tenang, melainkan malah langsung merasa kesal akan berita yang baru aku dapatkan. Seharusnya, aku bicarakan dulu padamu supaya tidak ada salah sangka diantara kita."
"Bukan salah kamu, sayangku. Aku maklum jika kamu langsung menerima berita buruk itu. Karena masa lalu ku yang buruk, maka kamu juga akan berpikir kalau berita itu benar. Jadi, itu bukan salah kamu."
Ucapan Ilya barusan malah membuat Dinda merasa bersalah sekarang. Karena memang, akibat masa lalu Ilya yang buruk itu, dia malah langsung menghakimi Ilya tanpa meminta penjelasan terlebih dahulu. Beruntung, mbok Yah adalah orang tua yang cerdas. Langsung menyampaikan apa yang sebenarnya terjadi saat ini. Jika tidak, maka entah seperti apa hubungan mereka saat ini.
Ilya yang merasa lega akan penjelasannya di terima dengan baim oleh Dinda, langsung menjatuhkan kepalanya ke atas pangkuan Dinda yang kini sedang duduk berjulur kaki di samping ranjang.
"Maafkan aku, sayang. Rumah tangga ini mungkin akan sedikit rumit akibat masa lalu ku yang buruk. Jadi, aku mohon untuk selalu percaya padaku yah. Tolong, dengarkan setiap penjelasan ku. Karena aku yang punya masalah di masa lalu, pasti akan menuai hasil buruk di saat sekarang." Ilya berucap sambil terus membenamkan wajahnya ke atas pangkuan Dinda.
"Akan aku usahakan untuk mengerti dan bersabar, kak Ilya. Tapi tolong, jangan melampaui batasan ya. Karena aku juga manusia. Yang tidak bisa bertahan ketika terlalu besar badai."
__ADS_1
"Dan tolong, jangan buat aku salah paham lagi. Karena aku adalah perempuan yang sangat rentan dalam masalah hati. Karena itu, selama ini aku tidak pernah melabuhkan hatiku pada pria manapun. Karena aku sangat takut untuk patah hati."
Ilya langsung mengangkat wajahnya karena ucapan Dinda barusan. Selama ini, dia selalu ingin tahu masalah asrama Dinda. Tapi, tidak pernah bisa ia tanyakan secara langsung dan terang-terangan. Karena ia takut, jika perempuan itu malah akan salah paham nantinya ketika ia bertanya.
"Maksud kamu ... wanitaku ini masih belum pernah pacaran satu kali pun? Begitu kah?"
"Eh! It-- itu .... " Dinda pun terlihat malu-malu sambil mengangguk pelan. "Iya. Aku belum pernah pacaran. Tapi, aku suka baca novel romantis, kak Ilya. Aku juga suka nonton drama yang berbau romantis. Dari sama aku belajar tentang cinta yang bisa menyakitkan orang lain."
Ilya terdiam sambil menatap wajah Dinda. 'Cerita apa yang dia baca sampai dia bisa setakut itu untuk jatuh cinta? Apakah cerita dengan ending yang ngegantung? Atau jangan-jangan, novel sad ending yah?'
'Ah, tidak apa-apalah. Biarkan saja dia berpikiran seperti itu tentang cinta. Karena itu mungkin akan lebih baik. Dengan begitu, aku adalah pria pertama yang bisa jatuh ke dalam hatinya. Karena itu, aku akan tunjukkan betapa manisnya cinta ini. Akan aku buat kamu tidak akan pernah menyesal karena telah jatuh cinta padaku, Dinda. Wanita cantikku sayang.'
__ADS_1