
"Iya. Ini kamar kita, Sayang. Kenapa? Apa kamu tidak suka dengan semua yang ada di kamar ini? Jika tidak suka, aku akan minta mbok Yah menggantikan ke bentuk semula. Namun ... hanya bisa di ganti sebagian saja. Karena ... ada sebagian barang yang sudah rusak. Tidak bisa kita pakai lagi."
Dinda langsung berpindah posisi. Dari berdiri di belakang Ilya, kini langsung ke depan Ilya untuk melihat wajah sang suami yang sedang mengajaknya bicara.
"Jangan bilang kalau kamu yang sudah menghancurkan kamar ini, kak."
"Ee .... " Ilya tidak bisa menjawab. Karena memang, kamar ini dia yang menghancurkannya. Tapi, saat Dinda sudah kembali ke sisinya, dia minta mbok Yah dan mang Mamat untuk segera merenovasi kamar tersebut sedemikian rupa.
Ilya takut Dinda marah karena ulahnya yang terkesan sangat kekanak-kanakan itu. Karena marah, langsung menghancurkan barang. Selain itu, Ilya juga ingin mengubah suasana kamar tersebut dengan nuansa alami yang terkesan asri nan indah. Karena nuansa alami adalah kesukaan Dinda. Seperti, semua yang berwarna hijau dengan sentuhan sedikit kebiruan.
Dinda terus menatap Ilya yang kini sedang menundukkan pandangannya. Rasa tidak enak membuat Ilya tidak bisa melihat Dinda. Karena dia tau, Dinda pasti akan kesal padanya.
Sementara Dinda yang sudah tahu akan kejadian di kamar ini, langsung berjongkok untuk mensetara antara dirinya dengan Ilya yang kini masih duduk di atas kursi roda. Dinda sentuh wajah yang kini matanya tidak mau melihat ke arah dia. Lalu, Dinda tersenyum lebar.
"Aku sudah tahu semaunya, kak Ilya. Kamu merusak kamar ini, iyakan? Karena itu, tanganmu yang ini terluka sangat parah," ucap Dinda sambil menyentuh tangan Ilya yang masih terlihat bekas lukanya dengan sangat jelas.
__ADS_1
"Lain kali, jangan lakukan lagi. Atau ... aku akan benar-benar marah padamu, kak."
"Karena itu, jangan tinggalkan aku lagi. Jika kamu tinggalkan aku, maka bukan hanya kamar saja yang bisa aku hancurkan, Dinda. Tapi rumah ini juga."
"Hei ... ngomong apa barusan, hm? Mau menghancurkan rumah? Gak takut kalau aku kembali, kita gak punya rumah lagi, ha?" Dinda malah mengajak Ilya bercanda.
Ilya pun langsung mengalihkan pandangannya. Dari melihat ke bawah, jadi melihat ke depan. Menatap lurus ke arah mata Dinda. Lalu, tangannya dengan sangat ringan bergerak untuk menyentuh pipi Dinda.
"Jangan pergi lagi. Atau aku akan benar-benar mati."
"Tidak!" Ilya berucap cepat sambil menarik Dinda ke dalam pelukannya. Dinda yang di tarik ke dalam pelukan secara tiba-tiba hanya bisa terdiam selama beberapa saat sampai akhirnya dia bisa menguasai diri, lalu membalas pelukan Ilya.
"Jangan pergi lagi, sayang. Apa yang terjadi waktu itu, tidak sama dengan apa yang kamu lihat. Aku dijebak oleh seseorang. Dia menjebak, dan membuat aku seolah-olah telah bersama dengannya. Ini .... " Ilya langsung mengantungkan kalimatnya. Karena saat ini, dia sedang menangis dan tidak bisa berucap lagi.
Tangisan itu terdengar oleh Dinda. Karena itu, Dinda pun berusaha melepaskan pelukan Ilya secara perlahan.
__ADS_1
"Kak Ilya. Kenapa kamu malah menangis lagi? Sudah, lupakan saja apa yang telah berlalu itu. Aku akan berusaha melupakan semuanya. Kamu tenang saja. Aku tidak akan pergi meninggalkan kamu, kak." Dinda berkata sambil menyeka air mata yang jatuh dari mata Ilya.
"Jangan lupa akan apa yang kamu katakan, Sayang. Jangan tinggalkan aku."
"Jika dibilang egois, aku adalah orangnya. Yang terus menahan kamu agar bisa tetap berada di sampingku. Padahal aku tidak bisa membahagiakan kamu sepenuhnya. Aku hanya akan bisa jadi beban buat kamu sampai kapanpun. Tapi ... aku sungguh tidak bisa kehilangan kamu. Karena saat kamu pergi dariku, dunia ku akan hancur seketika."
Ucapan itu membuat Dinda langsung menyentuh kedua pipi Ilya dengan lembut.
"Kak Ilya, lihat aku! Jangan bicara hal itu lagi yah. Kan aku sudah pernah bilang padamu, kalau aku tidak suka kamu bicara soal kelemahan yang kamu punya. Lupakan semua yang tidak penting itu yah. Aku yakin kalau kamu bisa menjadi suami terbaik buat aku."
Ilya pun menatap lekat wajah Dinda. Kemudian, tangannya ringan mengambil satu tangan Dinda yang kini masih ada di pipinya. Lalu, dia cium lembut tangan itu sambil terus menatap wajah Dinda.
"Tidak akan bicara lagi. Tapi aku akan berusaha membuktikan kalau aku pantas untuk mempertahankan dirimu sebagai istriku, meskipun aku adalah pria yang tidak sempurna saat ini."
Dinda langsung tersenyum lebar. Dengan begitu, mereka berdua pun langsung mengakhiri obrolan dengan Dinda yang langsung meminta Ilya untuk beristirahat.
__ADS_1