
"Ya Tuhan, tolonglah saya." Mbok Yah bicara sambil memandang rumah mewah yang ada di hadapannya. "Jangan buat usaha saya sia-sia. Buatlah non Dinda ada di sini. Dan yang paling penting, biarkan ia bersedia ikut saya pulang ke rumah den Ilya kembali. Kasihan den Ilya, Tuhan." Begitulah harapan si mbok sebelum dia tiba di depan pintu utama rumah tersebut.
Ketika bel ia bunyikan, suara yang ia harapkan langsung terdengar dari dalam rumah itu. Harapan mbok Yah semakin membesar meskipun ia tidak tahu apakah keberuntungan akan berpihak padanya atau tidak.
Pintu terbuka, wajah yang ia harapkan pun langsung terlihat dengan jelas. Tapi sepertinya, wajah itu sedang sangat kaget ketika melihat si mbok yang ada di depannya. Orang yang sama sekali tak pernah ia pikirkan kedatangannya.
"Mbok Yah!"
"Non Dinda. Syukurlah, non ada di sini. Mbok sangat khawatir akan keadaan non Dinda, non."
"Mbok, kenapa bisa sampai ke sini? Dari mana mbok tahu aku ada di sini?" Dengan wajah yang masih kaget, Dinda terus menghujani si mbok dengan banyak pertanyaan tanpa mengajak si mbok masuk terlebih dahulu.
Namun, belum sempat mbok Yah menjawab apa yang Dinda tanyakan, seseorang tiba-tiba datang dari belakang Dinda. Orang itupun langsung mengalihkan perhatian keduanya.
"Siapa , Din?"
"Tante."
"Siapa sih? Kok gak diajak masuk, Dinda?"
__ADS_1
"Eh, iy-- iya. Maafkan aku, Mbok. Karena terlalu kaget dengan kedatangan mbok, aku jadi lupa mempersilahkan mbok masuk terlebih dahulu."
"Gak papa, non. Mbok maklum."
"Ah, iya. Ayo masuk, mbok!"
"Mm ... tante, ini mbok Yah. Orang yang sudah merawat ... kak Ilya sejak kecil." Dinda agak keberatan menyebutkan nama Ilya barusan. Rasa itu terlihat dengan sangat jelas.
Tante yang tahu akan apa yang Dinda rasakan, langsung mengalihkan pembicaraan mereka dengan cepat. Dia mengajak mbok Yah masuk dengan ramah. Lalu, mengobrol dengan hangat bersama mbok Yah.
Beberapa saat mengobrol, akhirnya si mbok langsung menyingung soal keadaan Ilya saat ini. "Non Dinda, bisakah non Dinda pulang sebentar? Keadaan den Ilya sedang sangat memprihatinkan saat ini. Dia .... "
"Dinda, dengarkan dulu apa yang ingin mbok Yah katakan. Jangan potong ucapan orang yang lebih tua, nak. Tidak baik."
"Iya, tante. Maaf, aku hanya belum siap untuk pulang."
"Tapi keadaan den Ilya sangat buruk sekarang, Non. Sangat-sangat mengkhawatirkan."
Baru juga si mbok mau menceritakan prihal keadaan Ilya, ponsel si mbok pun langsung berdering yang menandakan kalau ada panggilan yang masuk. Dengan sopan, si mbok meminta izin menunda pembicaraan.
__ADS_1
Saat ia melihat layar ponselnya, di sana tertera nama sang suami. Dengan cepat si mbok menjawab panggilan itu.
"Ya, Pak. Ada apa? Aku udah tiba di rumah tantenya non Dinda nih. Maaf belum sempat ngasi tahu kalau aku sudah .... "
"Buk! Den Ilya masuk rumah sakit sekarang. Kondisinya sangat tidak baik-baik saja."
"Apa!?" Seketika, wajah panik langsung terukir di wajah mbok Yah yang awalnya sedikit bahagia karena telah di terima dengan baik di rumah tantenya Dinda. Lalu, panggilan itu berakhir dengan wajah sedih dan panik yang masih terlihat sangat jelas.
Tentu saja Dinda dan tantenya ikut merasakan apa yang mbok Yah rasakan. Tapi, mereka masih belum tahu dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi saat ini.
"Apa yang terjadi, mbok?" Dinda berucap cepat.
Bukannya menjawab, si mbok malah memegang tangan Dinda dengan erat. Dengan air mata yang mengalir perlahan, si mbok menatap Dinda penuh harap. Tatapan yang membuat Dinda dan tantenya semakin merasa kebingungan lagi.
"Mbok mohon, Non. Pulanglah ke rumah bersama mbok. Den Ilya sedang tidak baik-baik saja sekarang. Keadaan den Ilya semakin memprihatinkan. Kesehatannya semakin memburuk. Dan saat ini, dia sedang berada di rumah sakit karena kondisi kesehatannya yang drop seketika."
"Ap-- apa?" Dinda cukup kaget akan apa yang baru saja mbok Yah katakan.
"Iya. Non tahu, bukan? Den Ilya bertahan hidup karena obat-obatan yang ia konsumsi. Tapi setelah non Dinda pergi, den Ilya tidak mau menelan satu pun obat, non. Bahkan, dia yang dilarang kena angin malam saja tidak ia hiraukan lagi setelah kepergian non Dinda. Den Ilya malah setiap malam berada di taman hingga larut malam. Karena itu, dia sekarang langsung drop."
__ADS_1
"Non, mbok mohon ... lihatlah keadaan den Ilya. Dia sangat mengharapkan kedatangan non Dinda kembali. Jangan siksa dia, non. Meskipun dia punya salah yang besar sama non Dinda, tapi tolong, jangan hukum dia seperti ini. Ini lebih buruk dari saat dia tahu kalau dia tidak bisa berjalan lagi dengan kakinya. Dia sangat tidak sanggup hidup tanpa non Dinda."