Pernikahan Pelunas Hutang

Pernikahan Pelunas Hutang
*Bab 50


__ADS_3

Pertemuan itu membuat Lula dan Rafa langsung dekat satu sama lain. Lula yang kebetulan tidak punya pasangan, bertemu dengan Rafa yang juga bernasib sama. Tentu saja mereka langsung bisa nyambung saat ngobrol.


Rafa yang juga banyak membantu Lula membuat Lula akhirnya jatuh hati. Perjalanan cinta mereka pun perlahan di mulai dari saat itu.


Sementara Diani yang mendadak kehilangan Lula, kini sudah melupakan keberadaan perempuan itu. Karena sebelumnya, dia mendapat kabar kalau Lula telah melarikan diri ke negara lain. Saat itu, Diani ingin melupakan Lula untuk sementara waktu. Dia pun ingin berkonsentrasi dengan ide licik lainnya agar bisa merebut Ilya dari Dinda.


Tapi, rencana pertama yang ia lakukan langsung gagal. Karena Dinda tidak lagi terpengaruh dengan apa yang ia katakan. Karena itu, dia ingin langsung melenyapkan Dinda dengan cara sebuah kecelakaan fatal yang mungkin tidak akan ada yang menduga kalau kecelakaan tersebut karena ulahnya.


Tepat hari di mana Ilya meninggalkan rumah karena ingin bertemu dengan Rafa, hari itulah Diani memanfaatkan kesempatan emas yang mungkin tidak akan pernah terulang lagi. Ya, karena biasanya, Dinda selalu pergi bersama Ilya ke manapun Ilya pergi. Tapi hari ini, karena Dinda merasa kurang enak badan, maka Ilya memutuskan untuk pergi sendirian.


"Kamu yakin, sayang? Beneran gak papa aku tinggalkan sendirian di rumah?" Ilya berucap dengan nada agak tidak nyaman saat Dinda mengantarkannya sampai depan pintu.


"Tentu saja aku yakin, kak Ilya. Lagian, aku juga nggak benar-benar sendirian, kan? Ada mbok Yah yang sebentar lagi akan pulang dari berbelanja," ucap Dinda sambil tersenyum lebar.


"Hah ... baiklah. Aku pergi gak akan lama. Setelah ngobrol sebentar dengan Rafa, maka aku akan kembali ya, sayang."

__ADS_1


"Iya, kak. Hati-hati dijalan yah. Semoga hasil dari pertemuannya bikin bahagia ya."


"Semoga, sayang. Mm ... lagian, ini kan cuma ngebahas soal dokter untuk aku operasi aja. Dan, sedikit pembahasan soal kerjaan yang nggak terlalu bermasalah saat ini." Ilya pun berucap sambil mencium hangat tangan Dinda.


"Mm ... iyalah. Hati-hati di jalan, dan cepat pulang."


Akhirnya Ilya pergi meninggalkan rumah. Dinda yang melepas kepergian Ilya dengan senyum lebar juga lambaian tangan pun akhirnya masuk ke dalam setelah mobil Ilya menghilang dari pandangan.


Sejujurnya, Dinda agak heran dengan pemikiran suaminya. Bisa-bisanya bertemu di luar. Padahal, dia dan Rafa tidak ingin orang banyak tahu kalau mereka punya hubungan yang sangat dekat.


"Mm ... dasar kak Ilya. Pikirannya terkadang selalu saja tidak bisa aku tebak," ucap Dinda bergumam pada dirinya sendiri sambil beranjak masuk ke kamar.


Diani yang mendengar kabar itupun langsung tersenyum lebar. Awalnya, dia ingin menyakiti Dinda dengan cara perampokan. Tapi itu dia anggap tidak akan berjalan lancar. Karena selain resiko berhadapan dengan polisi terlalu besar, sistem pengaman sekitar kediaman Ilya sungguh tidak bisa dia tempuh.


Karena itulah dia harus menunggu hari ini. Hari di mana Ilya meninggalkan rumah tanpa membawa Dinda bersama dengannya. Meskipun harus menunggu lama, tapi semua rencana yang matang sudah ia siapkan dengan sangat baik.

__ADS_1


Karena itulah, saat panggilan yang membawa kabar bahagia itu sampai ke telinga Diani, maka dia langsung bergerak tanpa berpikir panjang lagi. Dia langsung menggerakkan semua orang suruhan yang sebelumnya sudah ia siapkan untuk membantu keberhasilan dari rencana yang akan ia jalankan sebentar saja lagi.


Hampir tiga puluh menit setelah kepergian Ilya, Dinda pun mendapat panggilan dari nomor baru yang tidak ia kenali. Dinda yang berada di kamar, yang kebetulan sedang mengutak-atik ponselnya pun langsung langsung menjawab panggilan itu setelah dua kali panggilan itu masuk ke ponsel nye.


"Halo, siapa ya?" Dinda berucap dengan nada sedikit tengang karena hatinya yang agak penasaran.


Suara seorang perempuan pun langsung terdengar. "Halo, mbak. Apa ini dengan mbak Dinda? Istrinya mas Ilya?"


Perempuan itu berucap dengan lancar. Tapi ketika Dinda mendengar pertanyaan itu, hatinya malah merasa tidak enak. Seperti ada yang tidak beres. Karena nomor asing itu tahu siapa dia dan siapa suaminya. Karena itu, rasa cemas langsung menyusup ke dalam hati Dinda.


"Iya ... ini saya, Dinda. Anda siapa ya?"


"Saya suster, mbak. Suami anda saat ini sedang berada di rumah sakit Pelita."


"Apa!?" Dinda kaget bukan kepalang.

__ADS_1


Bagaimana tidak? Dia yang sudah pernah trauma akan sang suami yang sakit parah, kini langsung kelabakan akibat kabar tersebut.


Dinda yang panik tak bisa berpikir hal jernih sedikitpun. Karena itu, mana sempat dia mencurigai kebenaran dari panggilan yang baru saja ia terima.


__ADS_2