Pernikahan Pelunas Hutang

Pernikahan Pelunas Hutang
*Bab 33


__ADS_3

"Ta-- tapi, non. Non .... " Mbok Yah langsung menggantungkan kalimatnya. Dari nada bicara Dinda, dia langsung bisa menarik kesimpulan yang tidak enak untuk hatinya rasakan. Karena itu, mbok Yah memilih untuk langsung menghubungi suaminya yang ia anggap sedang bersama Ilya.


Panggilan langsung terhubung setelah beberapa detik mbok Yah melakukan panggilan. Karena telah mendengar suara suaminya menjawab, si mbok langsung ngerocos tak karuan pada sang suami.


"Apa? Non Dinda sedih?"


"Iya, pak. Non Dinda sedih banget barusan. Apa bapak bisa bilang sama den Ilya soal ini? Kalau bisa ... minta den Ilya pulang sekarang. Kasihan non Dinda. Seperti baru mendapat pukulan yang sangat berat dianya, pak."


"Ee ... masalahnya, den Ilya sedang tidak bersama aku, buk. Dia sudah pergi sejak tadi. Sudah sangat lama. Tapi masih saja tidak kembali."


"Apa!? Bapak bicara apa barusan? Den Ilya tidak sedang bersama bapak? Kok bisa sih, pak? Kenapa bapak tidak bareng sama si Den Ilya, ha? Bukannya biasa, bapak selalu bareng dia, pak."


"Ya alloh, buk. Bicaranya ya tenang dikit lah. Kita lagi ... ah, lagi bikin kerjaan besar ini. Makanya, gak bisa buat bareng-bareng di sini. Soalnya, biar cepat selesai gitu."


Hati mbok Yah yang sudah merasa tidak enak, kini semakin bertambah tidak enak lagi. Firasatnya mengatakan kalau ada sesuatu yang tidak beres yang telah terjadi. Tapi sayangnya, dia tidak bisa menebak hal tersebut.

__ADS_1


"Pak, hubungi den Ilya sekarang juga. Ajak dia pulang! Jangan sampai ada masalah yang tidak beres karena aku merasa tidak enak hati sekarang."


"Iya, buk. Aku juga cemas sekarang ini. Tapi, aku sudah berusaha menghubungi si Den Ilya sejak tadi. Tapi sayangnya, tidak ada jawaban. Bahkan, aku juga sudah menghubungi pak Toha. Tapi tetap sama saja. Mereka berdua sama-sama tidak menjawab panggilan dari ku, buk."


"Ya Alloh. Ini bahaya, Pak. Cepat cari den Ilya. Ibuk merasa sangat-sangat cemas kalau gini ceritanya."


"Iya, buk. Ini juga lagi nyari kok. Tapi, tolong jangan kasi tau non Dinda soal den Ilya yang tidak ada bersama bapak ya. Bapak takut dia cemas, lalu mikir yang nggak-nggak pula nantinya."


"Bapak tenang saja. Soal di rumah, biar ibuk yang ngurus. Temukan saja den Ilya secepatnya."


Dengan begitu, panggilan pun berakhir. Tapi, belum sempat mbok Yah menarik napas karena telah menelpon sang suami, dia malah di kejutkan lagi dengan kemunculan Dinda yang datang dengan membawa koper ikut bersamanya.


"Apa ini, non? Apa yang ingin non Dinda lakukan? Mau ke mana, non? Kenapa malah bawa koper segala?"


Dinda tidak langsung menjawab. Dia tarik napas dalam-dalam untuk menenangkan hatinya. Dan juga, agar suara yang ingin ia keluarkan bisa terdengar dengan baik.

__ADS_1


"Aku akan pergi untuk beberapa hari, Mbok. Ah, tidak. Bukan untuk beberapa hari, aku akan pergi dulu dari rumah ini. Karena pemilik rumah ini sudah membuat aku sakit hati."


"Apa maksudnya itu, non? Jangan bicara yang tidak-tidak. Jangan pergi dari sini, non. Non Dinda tidak bisa pergi dari sini karena .... "


"Karena aku adalah pelunas hutang ayahku, mbok? Heh! Aku tahu hal itu, mbok Yah. Tapi maaf, untuk sekarang, aku tidak bisa memikirkan status itu dulu. Karena aku sudah terlalu sakit hati."


"Non. Bukan itu maksud mbok."


"Terserah mbok mau bilang apa sekarang. Aku tidak akan mendengarkan apa yang mbok katakan. Aku tetap akan pergi. Satu hal yang aku ingin katakan pada mbok. Bilang sama majikan mbok, jangan cari aku. Soal hutang ayahku, aku akan segera melunasinya."


"Tapi non .... Jangan pergi, non Dinda. Kasihan Den Ilya ..... "


Mbok Yah benar-benar tidak tahu harus apa sekarang. Karena dia benar-benar berada dalam kebingungan yang luar biasa. Masalah yang datang saat ini sangat di luar dugaan si mbok. Datangnya malah bertubi-tubi lagi. Mana bisa ia berpikir jernih saat ini.


Sementara Dinda, setelah berucap kata-kata itu, dia malah langsung beranjak. Tak ia hiraukan lagi usaha si mbok yang ingin mencegah kepergiannya. Bahkan, tangan si mbok yang menahan tangannya pun ia lepaskan dengan cara yang terbilang agak kasar.

__ADS_1


Dinda pun terus beranjak menuju taksi online yang sudah ada di depan gerbang rumahnya. Setelah Dinda masuk, taksi tersebut langsung berjalan dengan kecepatan pelan meninggalkan tempat sebelumnya. Suara mbok Yah yang terus memanggil nama Dinda pun menjadi salam perpisahan yang terus terdengar semakin lama semakin jauh. Hingga akhirnya, hilang di telan kesibukan jalan raya.


Mbok Yah yang panik pun tidak bisa berbuat banyak. Ia hanya bisa terduduk lemas karena kepergian Dinda yang ia yakini akan membuat Ilya sangat sedih nantinya. Mana Ilya tidak ada di rumah ketika Dinda pergi. Harus bagaimana ia jelaskan soal kepergian itu nantinya?


__ADS_2