
Begitulah akhirnya Ilya bisa sedikit tenang. Meskipun hanya tenang pada permukaan yang terlihat saja, tapi setidaknya, dia bisa menyembunyikan apa yang sedang hatinya rasakan saat ini.
Sementara itu, Dinda sedang dalam perjalanan menuju rumah tantenya. Dia tidak kembali ke desa, karena kembali ke desa bukan pilihan yang baik bagi Ilya. Karena di desa, dia tidak akan mendapat pembelaan. Apalagi ketenangan karena keluarganya pasti berpikir apa yang ia lakukan saat ini adalah kesalahan. Meskipun kenyataan sudah terlihat dengan nyata.
Namun, di rumah tantenya, dia pasti bisa mendapatkan pembelaan sekaligus ketenangan. Karena tantenya pasti berpikir lebih baik dari orang tua kandungnya sendiri.
Karena itu, Dinda memilih untuk berteduh di sana.
Ditambah lagi, jarak kota tantenya dengan kota tempat tinggal Dinda tidak jauh. Hanya bersebelahan saja. Karena itu, untuk mencapai kota tempat ia menempuh pendidikan sebelumnya pun hanya membutuhkan beberapa jam saja. Hingga akhirnya, ia bisa tiba di rumah si tante yang sebelumnya sudah menjadi tempat tinggal Dinda selama beberapa tahun.
Ketika mobil taksi online yang ia tumpangi berhasil mengantarkan dirinya sampai ke depan rumah mewah dengan dua lantai yang sangat ia rindukan. Dinda pun bergegas turun. Dengan gemetaran, tangan Dinda langsung menekan bel rumah tersebut setelah tiba di depan pintu utama dari rumah tersebut.
"Tunggu sebentar!" Terdengar suara yang sudah sangat ia rindukan dari dalam rumah. Itu adalah suara tantenya yang sudah cukup lama tidak ia temui.
__ADS_1
Yah, meskipun beberapa kali sempat ngobrol lewat vidio call. Tapi tetap saja, bertemu langsung dengan bertemu via udara itu tidak sama. Meski bisa melihat wajah, tapi tidak bisa di sentuh dengan kulit.
Pintu pun terbuka secara perlahan. Mata Dinda langsung berkaca-kaca ketika melihat sosok yang perlahan tampil dari balik pintu yang terbuka itu.
"Dinda!" Si tante pun langsung berseru dengan suara tinggi ketika melihat keponakannya yang datang.
"Tante."
Keduanya pun langsung berpelukan dengan erat. Si tante yang sudah lama tidak bertemu keponakan yang sudah ia anggap anak itupun langsung membelai lembut rambut Dinda.
"Ceritanya panjang dan sulit untuk aku ucapkan sekarang, Tante." Dinda bicara dengan nada sedih. Si tante yang melihat hal itupun langsung sadar akan hal buruk yang sedang keponakannya alami.
"Ya Tuhan, ya Tuhan. Ya sudah, ayo masuk sekarang, Nak! Jangan cemas akan semua hal. Ada tante di sini sekarang. Rumah ini selalu terbuka untuk kamu. Jadi, jangan berpikir jika kamu sendirian ya, nak."
__ADS_1
Dinda pun hanya memberikan anggukan pelan saja. Selanjutnya, mereka masuk ke dalam. Si tante lalu meminta pembantunya menyediakan makan buat Dinda. Tapi sebelum itu, dia meminta si bibi mengantarkan koper Dinda ke dalam kamar yang dulunya adalah milik Dinda. Kamar itu tidak perlu di bersihkan. Karena tante Dinda tetap meminta pembantunya untuk merawat kamar keponakan juga anaknya seperti biasa. Seperti saat anak juga keponakannya masih tinggal di rumah itu.
Sementara si bibi menyiapkan makan, Dinda pun di suruh membersihkan diri di kamarnya. Tanpa membantah, Dinda melakukan apa yang tantenya katakan. Yah, dia adalah orang tua terbaik bagi Dinda. Lebih baik dari bunda kandungnya sendiri.
Beberapa saat kemudian, Dinda pun turun dari kamarnya. Si tante sudah menunggu di ruang keluarga sendirian. Kali ini, Dinda langsung menyadari ada yang kurang di sana.
"Mm ... tante, di mana om sekarang? Kok kayak gak ada di rumah?"
Ya, selain tante kandungnya yang sangat baik, suami tantenya juga tak kalah baiknya pada Dinda. Dia lebih baik dari ayah Dinda sendiri. Karena om nya lebih hangat dari ayah kandung Dinda. Karena itu, Dinda begitu nyaman dan tenang tinggal di rumah ini.
"Om kamu emang sedang gak ada di rumah, Din. Dia lagi kerja ke luar kota. Yah, jadinya tante tinggal sendiri deh sekarang."
"Kamu kan tahu kalau om mu itu emang suka keluyuran jika tanggal segini. Suka ninggalin tante sendirian. Jika ada kamu dulu, tante kan gak mikirin soal kesepian. Tapi beruntung juga sih, suami Zery itu bisa ngebantu. Kalo nggak, pasti makin kesepian lagi deh tante karena om kamu yang sering pergi buat bekerja."
__ADS_1
Zery. Ketika nama itu tantenya sebut, Dinda langsung teringat akan sepupunya yang juga menikah karena perjodohan. Tapi, sepertinya pernikahan mereka sangat berbeda jauh. Soalnya, pernikahan Zery begitu bahagia. Meskipun menikah karena dijodohkan, tapi pasangan itu bisa menumbuhkan cinta yang luar biasa. Bahkan, sampai begitu bucinnya pasangan itu satu sama lain.
"Ee ... bagaimana kabar kak Zery sekarang, Tan? Apa dia baik-baik saja?"