Pernikahan Pelunas Hutang

Pernikahan Pelunas Hutang
*Bab 46


__ADS_3

Hal itu langsung membuat Dinda merasa aneh. Sementara Ilya, juga memasang ekspresi yang sama.


"Kak Zery ... kenapa? Apa ada yang aneh dengan kak Ilya? Tunggu! Apa kalian saling kenal satu sama lain sebelumnya?"


Sepertinya, Dinda mulai merasa tidak nyaman sekarang. Bukan hanya tidak nyaman, dia bahkan merasa was-was dan takut. Kali ini, dia entah harus bersikap seperti apa jika ada hal buruk tentang Ilya yang sampai ke telinganya lagi. Karena ini sudah yang kesekian kalinya dia mendapat kejutan mental karena suaminya.


Namun, ekspresi Zery malah memperlihatkan hal yang berbeda setelah pertanyaan itu Dinda lontarkan. Dia yang awalnya agak kaget, kini langsung tersenyum. Lalu, menepuk pundak Dinda dengan lembut.


"Ngomong apa sih kamu? Siapa yang pernah kenal sebelumnya? Ini adalah yang pertama kalinya aku bertemu dengan suami kamu, Dinda. Masa iya aku sudah kenal dia."


"Lalu ... ekspresi kak Zery barusan itu ... kok kayak terkejut aja setelah melihat kak Ilya." Dinda berucap jujur karena tidak ingin ada yang mengganjal dalam hatinya.


"Kalau di katakan terkejut sih, iya Din. Aku terkejut melihat suami kamu. Karena ... ternyata dia begitu ganteng. Jauh dari yang aku bayangkan." Zery berucap jujur. Lalu, dia mendekat ke kuping Dinda untuk berbisik.


"Kalau begini mah, pantas saja dia dulunya dicap sebagai playboy, Dinda. Ternyata, dia tak kalah tampan dari atris luar negara."

__ADS_1


Ucapan Zery hanya membuat Dinda nyengir tak enak saja. "Kak Zery ngomong apa sih? Biasa aja bagi aku."


Belum sempat Zery menjawab. Zaki malah angkat bicara. "Kalian bisik-bisik apa sih? Gak sopan banget ama orang yang lebih tua. Lagian, tuh suami kamu malah diangurin, Dinda. Kenalin ama keluarga dong."


Seketika, Dinda dan Zery baru sadar kalau mereka ternyata tidak hanya sedang berduaan saja. Melainkan, ada ramai orang di sini. Karena itulah, Dinda pun merasa sangat tidak enak hati. Dia langsung mengenalkan Ilya pada om dan tantenya. Juga pada pasangan sepupunya yang rewel minta ampun ini.


Pertemuan pertama itu sangat menyenangkan bagi mereka. Ilya yang awalnya merasa canggung, ternyata langsung bisa berbaur setelah tahu betapa hangatnya keluarga Dinda bagian tantenya. Karena itu, Ilya pun langsung bisa merasa nyaman tanpa harus merasa tidak enak sedikitpun.


Rumah itu terasa begitu hangat karena kehadiran tante Dinda sekeluarga. Di tambah lagi, ada anak kecil yang sangat lucu yang kini menghiasi kediaman tersebut.


'Apakah aku salah karena telah mempertahankan dia di sisiku, Tuhan? Karena sepertinya, dia sangat ingin memiliki apa yang tidak bisa aku berikan padanya.'


'Tidak! Aku tidak akan berpikiran seperti itu. Aku akan berusaha menjadi yang terbaik agar aku bisa membahagiakan dia. Aku yakin, jika aku berusaha keras, maka apa yang tidak mungkin saat ini, pasti akan jadi mungkin beberapa waktu lagi.'


Ilya pun berpikir optimis lagi. Karena itu, dia pun langsung ikut berbaur dengan Dinda untuk bermain bersama si kembar. Saat bermain, dia juga merasakan hal yang istimewa yang sangat menyentuh hati. Dua anak kembar itu sangat menghangatkan hatinya.

__ADS_1


'Andai saja aku bisa punya anak yang seperti ini dalam waktu dekat, aku dan Dinda pasti sangat bahagia. Tidak perlu dua, satu saja gak papa. Bahkan, dapat satu saja sudah sangat cukup buat aku.' Begitulah kata hati Ilya lagi sambil memperhatikan si kembar satu persatu saling bergantian.


Selanjutnya, saat mereka ada di kamar setelah waktu istirahat tiba, Dinda dan Ilya masih memilih untuk ngobrol beberapa hal terlebih dahulu. Seperti membahas soal anak yang mirip dengan si kembar tanpa sengaja.


"Kamu bahagia sekali tadi, sayang. Apa ... kamu ingin punya anak lucu seperti itu?"


Pertanyaan itu membuat Dinda langsung menoleh ke arah Ilya. "Apa yang kamu katakan, kak Ilya? Jangan bicara hal yang tidak-tidak sekarang."


"Aku tahu kamu ingin, Dinda. Karena itu, aku akan penuhi keinginan itu. Tapi ... bukan sekarang. Kamu harus menunggu beberapa waktu lagi. Karena aku pasti akan berhasil mewujudkannya."


Lagi ucapan itu membuat Dinda terdiam dengan tatapan lekat ke arah Ilya. Sementara itu, Ilya langsung membalas tatapan itu dengan senyum manis di bibirnya.


"Din, aku sudah memutuskan untuk menjalani operasi agar kakiku bisa sembuh seperti sebelumnya lagi. Tapi, peluang untuk sembuh itu sangat kecil. Kurang dari sepuluh persen. Tapi aku akan tetap menjalani operasi itu juga meskipun peluangnya hanya satu persen saja."


"Kak Ilya. Jangan bahayakan dirimu. Jangan karena aku kamu .... "

__ADS_1


__ADS_2