Pernikahan Pelunas Hutang

Pernikahan Pelunas Hutang
*Bab 56


__ADS_3

Selanjutnya, mereka meninggalkan kediaman papa Diani setelah urusan mereka selesai. Karena setelah urusan ini beres, mereka akan segera kembali ke tanah air untuk membantu Rafa dan Lula menyelesaikan masalah besar ini dengan cepat.


Sementara itu, semua kartu ATM Diani sudah di bekukan oleh orang suruhan papanya sendiri. Saat itu, Diani ingin membayar uang yang mata-matanya mintai. Tapi sayang, dia tidak bisa melakukan transfer uang lewat ponselnya.


"Apa! Apa semua ini? Kenapa mendadak aku tidak bisa melakukan pengiriman uang sama sekali? Apa ponselku bermasalah?" Diani berkata dengan nada kesal sambil memukul pelan ponsel yang ada di tangannya.


"Tidak bisa begini. Pria bajingan itu tidak akan mau bekerja jika uangnya tidak aku bayar sekarang juga. Dasar pria tidak tahu diri. Mau uang buru-buru. Tapi saat kerja malah setengah-setengah."


"Tapi aku tidak bisa membuang manusia itu sekarang. Soalnya, aku masih butuh dia untuk melakukan hal yang bisa menguntungkan buat aku. Setidaknya, dia cukup berguna sebagai mata-mata. Karena selama ini, dia masih tidak terlihat oleh kak Ilya walau sudah lama melakukan tugas."


Usai ngomel pada dirinya sendiri, Diani langsung memutuskan untuk pergi ke bank terdekat agar bisa melakukan transfer uang secepatnya. Tapi sayangnya, apa yang dia temui di bank malah semakin membuat ia merasa sangat kesal.


"Apa! Semua kartu ku tidak bisa di gunakan? Apa bank ini sudah rusak? Atau kalian yang tidak bisa melakukannya dengan baik. Tidak mungkin semua kartu ini satupun tidak ada yang bisa digunakan. Itu adalah hal yang sangat mustahil."

__ADS_1


Lagi-lagi, mulut Diani yang tidak punya rem itu ngerocos seenaknya. Dia tidak peduli dengan tatapan pengunjung bank yang lainnya. Yang ia pikirkan hanya dirinya yang kesal.


"Maaf, mbak. Tapi kenyatannya, kartu mbak memang tidak bisa digunakan. Ini bukan kesalahan dari pihak kami, tapi ini murni dari kartu yang mbak punya. Jika mbak masih tidak yakin dengan kami, maka mbak bisa coba di bank yang lainnya."


Begitulah Diani yang kesal langsung meninggalkan bank tersebut. Dengan wajah memerah akibat marah dan malu, Diani pun menuju bank lain dengan harapan di bank yang berbeda, maka kartunya bisa berfungsi dengan baik.


Tapi sayang, kartu itu sudah dibekukan. Mana ada yang bisa berbuat apa-apa selain pihak yang membekukan itu membuka kembali kartu tersebut.


Kesal dan marah bercampur jadi satu. Kini Diani bisa terima kalau kartunya memang sudah bermasalah. Karena itu, dia langsung menghubungi papanya untuk bicara. Diani yakin, tidak ada yang bisa melakukan hal gila ini selain papanya.


"Itu hukuman buat kamu karena sudah memboros uang papa. Karena itu, papa tidak akan membiarkan kamu memakai uang papa lagi. Sekarang, jika kamu ingin uang, maka kamu harus bekerja sendiri. Mengerti?"


Setelah berucap kata-kata itu, papa Diani malah langsung menutup panggilan tanpa menunggu Diani memberikan jawaban terlebih dahulu. Karena itu, Diani sangat marah. Sampai dia lupa akan keadaan yang sedang menimpanya. Diani pun membanting ponsel yang ada dalam genggamannya hingga hancur berantakan.

__ADS_1


"Sialan ...!" Brak! Bunyi ponsel malah itu langsung hancur seketika. Saat ponsel sudah rusak parah, Diani baru sadar akan kesalahan terbesar yang ia lakukan.


Karena saat ini, dia tidak punya uang untuk membeli ponsel baru. Jangankan buat beli ponsel baru, buat beli jajan aja dia gak punya uang untuk saat ini.


Diani pun langsung meninggalkan tempat di mana ia berdiri sebelumnya. Dengan perasaan yang sangat marah, dia terus memukul stir mobil saat ia berada di dalam mobil tersebut.


"Kurang ajar! Papa benar-benar kurang ajar! Semua itu adalah milik aku. Maka aku berhak memakainya. Apa salah dengan aku yang banyak menghabiskan uang? Selama ini juga dia tidak pernah mempermasalahkannya."


"Ah, gila! Harus apa aku sekarang. Tidak punya uang, maka aki tidak akan bisa bergerak. Karena semuanya butuh biaya."


Diani pun menyandarkan dirinya di kursi mobil dengan menghempaskan punggungnya secara sembarangan. Ketika ia menatap langit-langit mobil, sebuah ide melintas di pikiran Diani.


Ide itu membuat Diani tersenyum lebar. Karena apa yang sedang ia pikirkan mungkin bisa mengeluarkan dirinya dari mimpi buruk karena ulah papanya.

__ADS_1


"Yah, aku punya sumber uang lain saat ini. Kenapa aku tidak terpikirkan soal ini sebelumnya?" Diani berucap sambil tersenyum lebar.


"Heh! Papa bisa saja memblokir semua kartu yang aku miliki. Tapi aku tidak akan kemiskinan di sini. Aku malahan akan membuat papa menyesal karena telah melakukan hal gila ini padaku."


__ADS_2