Pernikahan Pelunas Hutang

Pernikahan Pelunas Hutang
*Bab 59


__ADS_3

l"Apa kalian tidak ada kerjaan lain? Kenapa malah mengurusi hidup aku, ha? Kalian saja ada di sini karena kalian berbuat salah. Jadi, jangan urusi hidupku. Urusi saja urusan kalian."


Ucapan itu menarik rasa kesal dalam hati salah seorang napi yang sejak tadi diam dipojokan sel. Perempuan yang awalnya duduk diam, langsung bangun dengan tatapan tak kalah menyeramkan dari yang Diani lontarkan.


"Anak baru sungguh lancang ternyata. Baru juga diomongin beberapa kata, kamu sudah angkat bicara untuk melawan. Sungguh sangat bernyali besar."


"Kenapa jika aku bernyali besar? Kalian semua juga bukan orang baik-baik. Kalian semua juga orang jahat yang sudah membuat kesalahan. Jika tidak, kalian pasti tidak ada di sini. Lalu, kenapa harus sok berkuasa?"


Plak! Sebuah tamparan keras langsung menyentuh pipi Diani. Tamparan itu datang secara tiba-tiba. Sampai, Diani sendiri tidak sadar akan kedatangannya.


Diani pun langsung memegang pipinya yang terasa sangat panas. Bahkan, rasa sakit dari tamparan itu segera menjalar ke seluruh tubuhnya. Maklum, dia tidak pernah merasakan tamparan sebelumnya. Jadi wajar jika ia merasa begitu sakit hanya karena sebuah tamparan saja.


"Apa-apaan ini! Main tampar aja. Kamu pikir kamu siapa?" Diani malah belum merasa takut juga. Padahal, satu tamparan sudah mendarat dengan mulusnya.

__ADS_1


"Oh, dia belum tahu berhadapan dengan siapa dirinya saat ini. Jika dia sudah tahu, maka dia pasti akan sangat menyesal," ucap salah satu tahanan yang saat ini hanya menjadi penonton tanpa berniat ikut campur sedikitpun.


"Iya. Berani berani banget dia melawan kakak. Aku tak percaya kalau anak baru begitu berani."


"Lah, jelas aja dia berani. Orang dia seorang pembunuh yang tidak punya rasa sedikitpun."


Begitulah ucapan-ucapan dari arah samling terdengar. Sementara Diani dan perempuan itu masih saling bertukar tatapan tajam. Hingga akhirnya, Diani yang kesal tidak sabar lagi. Dia ingin segera membalas tamparan itu agar orang yang ada dalam sel saat ini tahu, kalau dia bukan orang yang bisa di rendahkan.


Sayangnya, baru juga mau mengayunkan tangan untuk menampar, Diani malah mendapat tamparan kedua yang lebih keras dari sebelumnya. Hal itu membuat Diani benar-benar marah. Ingin rasanya dia mencabik-cabik perempuan yang saat ini ada di hadapannya. Tapi sayang, dia tidak mampu melakukan hal tersebut. Karena itu, Diani langsung berteriak memanggil polisi penjaga untuk melaporkan apa yang sudah dia alami.


"Tolong saja. Dia melakukan kekerasan terhadap saya. Lihat ini! Dia sudah menampar saya sebanyak dua kali. Lakukan sesuatu untuk menghukumnya."


Diani bicara dengan nada yang sangat memelas. Dia ingin minta keadilan, dan berharap permintaannya itu langsung dikabulkan oleh polisi penjaga tersebut.

__ADS_1


Tapi malangnya, bukan mendapat apa yang ia harapkan. Diani malah di marahi polisi tersebut sampai dia tak bisa bersuara satu patah katapun karena terkejut dan tak percaya dengan apa yang sedang terjadi.


Sebenarnya, perempuan itu tidaklah jahat. Hanya saja, ketika Diani mengeluarkan kata-kata yang tidak enak, dia tidak bisa menahan diri. Dia langsung memberikan peringatan pada Diani agar tidak membuat keributan lagi lain kali.


Perempuan itu adalah orang pertama yang menghuni sel ini. Dia masuk ke dalam sel juga karena melakukan pembunuhan. Tapi bedanya, dia membunuh pria yang sudah membunuh adiknya. Dia menuntut balas akan kematian sang adik. Setelah itu, dia pun mengantarkan dirinya ke kantor polisi untuk di hukum.


Dia memang salah. Tapi, kesalahannya itu adalah hal yang sangat menyentuh hati bagi polisi. Selama berada di sel ini, dia juga tidak pernah sekalipun berulah. Karena itu, para polisi cukup dekat dengannya. Dan, beberapa polisi malah sudah akrab dengan perempuan tersebut.


Salah satunya adalah si penjaga itu. Makanya, saat Diani melaporkan apa yang perempuan itu lakukan, dia tidak mendapatkan pembelaan. Selain dia sangat di benci polisi karena menjadi seorang pembunuh, polisi itu sudah tahu seperti apa sifat perempuan tersebut. Karena itu, hari-hari Diani berikutnya akan sangat buruk.


Di sisi lain, Ilya dan Dinda sedang bahagia karena kabar ditangkapnya Diani. Sementara Lula dan Rafa, juga merasakan hal yang sama.


Mereka begitu bahagia karena usaha mereka tidak sia-sia. Dan, mereka bisa lepas dari kejamnya seseorang yang bernama Diani.

__ADS_1


Beberapa waktu berlalu. Vonis untuk Diani pun telah dijatuhkan. Setelah persidangan pertama, semua bukti sudah lengkap, karena itu, dia langsung di vonis dengan penjara seumur hidup.


Sayangnya, setelah vonis itu di putuskan, papa Diani pun langsung meninggal dunia. Papa Diani belum sempat menyerahkan harta yang ia miliki pada anaknya. Karena hubungan Diani dan papanya juga tidak terlalu baik, si ketua pelan langsung memutuskan untuk menyumbangkan semua harta milik orang tua itu pada pihak yang membutuhkan.


__ADS_2