Pernikahan Pelunas Hutang

Pernikahan Pelunas Hutang
*Bab 35


__ADS_3

Begitulah pesan singkat yang Dinda tuliskan di atas kertas putih tersebut. Pesan yang membuat Ilya merasa langsung frustasi, dengan langsung mengeluarkan teriakan keras karena dia tidak ingin Dinda pergi.


"Tidak ...! Kamu tidak bisa melakukan ini padaku, Dinda! Yang jahat itu kamu, karena kamu tidak mau mendengarkan penjelasan ku." Ilya berteriak dengan suara keras sambil meremukkan kertas yang ada di tangannya.


Tidak hanya meremukkan kertas, Ilya juga membanting semua barang yang ada di atas meja rias dengan keras. Semua kemarahan dan kesedihan ia lampiaskan pada barang-barang yang bisa ia gapai dengan tangannya.


Prak! Buk! Dum!


Barang-barang pun berjatuhan ke lantai. Vas bunga, kaca cermin, juga barang-barang yang bisa dia sentuh dengan tangan semuanya habis berserakan. Ilya benar-benar sedang mengamuk saat ini. Kamar itu sudah mirip seperti kapal pecah akibat amukan Ilya.


Mbok Yah yang mendengar hal tersebut segera datang. Sementara pak Toha dan mang Mamat yang baru tiba juga ikut menyusul ke kamar Ilya.


Mereka panik ketika melihat tangan Ilya yang remuk akibat memukul meja rias hingga rusak. Bahkan, serpihan beling masih tertancap di tangan Ilya yang gini mengalirkan darah segar secara perlahan.

__ADS_1


"Den Ilya apa-apaan ini, Den? Kenapa bisa seperti ini?" Si mbok yang sejak kecil telah menjadi ibu pengganti itu tentu saja langsung panik melihat keadaan Ilya saat ini. Dengan sigap, dia langsung merebut tangan Ilya yang terluka.


"Biarkan, Mbok. Jangan diobati karena rasa sakit itu tidak bisa aku rasakan sedikitpun. Yang terasa itu hanya sakit pada hatiku. Sakit yang tidak bisa aku sembuhkan bagaimanapun caranya selain kepulangan Dinda kembali ke sisiku."


"Aku egois, mbok. Memang sangat-sangat egois. Tapi aku tidak bisa hidup tanpa Dinda, mbok. Yang salah bukan aku .... " Ilya kini menangis dalam dekapan mbok Yah.


Perempuan yang sudah ia anggap sebagai ibu kandungnya sendiri. Karena setelah lahir, hanya mbok Yah yang mencurahkan kasih sayang sebagai ibu padanya. Soalnya, ibunda kandung Ilya tidak bisa merawatnya karena pergi setelah melahirkan Ilya. Pergi untuk selama-lamanya dan tidak akan pernah bisa kembali lagi.


Mbok Yah sudah tahu cerita garis besar yang saat ini terjadi pada Ilya. Pak Toha yang sudah mengatakan semuanya. Yang langsung mendapat amarah dari mbok Yah karena ia anggap kalau pak Toha tidak becus dalam menjaga Ilya. Bahkan, suaminya juga kena imbas dari arah itu.


Mbok Yah juga marah pada mang Mamat karena tidak berada di sisi Ilya sebelumnya. Karena jika mang Mamat bersama Ilya, pasti hal buruk ini tidak akan terjadi.


Tapi bagaimanapun, nasi sudah menjadi bubur. Tidak akan bisa diubah menjadi nasi kembali. Yang bisa mereka lakukan hanyalah satu, berpikir bagaimana cara menikmati bubur agar tidak benar-benar terbuang.

__ADS_1


"Den Ilya harus tenang dulu sekarang. Karena ini masalah yang besar dan juga rumit, maka den Ilya harus menyelesaikan dengan pikiran yang tenang. Dan juga, semua ini butuh waktu. Jadi harus sabar ya, Den." Si mbok berucap sambil mengelus punggung Ilya.


Ilya tidak langsung menjawab. Tapi isak tangisnya terdengar mereda karena ucapan si mbok barusan. Hingga akhirnya, pelukan itu longgar dan terlepas.


"Mbok benar. Apa yang Dinda lihat, memang tidak salah. Tapi, kenyataan dibalik yang ia lihat itu tidak sama dengan apa yang ia lihat. Tapi sayangnya, dia tidak memberikan aku kesempatan untuk menjelaskan, mbok."


"Tapi ... ini juga bukan salah Dinda, mbok. Karena masa lalu ku yang sangat buruk, siapapun akan berpikir yang sama dengan yang Dinda pikirkan. Lagipula, dia sudah bilang kalau dia tidak akan percaya lagi padaku jika aku sendiri yang bikin ulah."


"Ya Tuhan ... kenapa aku begitu bodoh? Dengan mudahnya aku terjebak dalam jebakan orang yang benci padaku. Karma ini terlalu berat bagi aku, Tuhan."


"Den, tenanglah. Jangan terus-terusan menyalahkan diri sendiri. Dan jangan terlalu menyesali keadaan. Semua yang terjadi sudah suratan yang maha kuasa. Jadi, jangan berpikir yang buruk-buruk terlalu jauh ya. Karena semua tidak akan terjadi jika Tuhan tidak menginginkan hal itu terjadi. Lagipula, mbok yakin kalau apa yang terjadi pasti ada hikmahnya ya, Den."


Begitulah akhirnya Ilya bisa sedikit tenang. Meskipun hanya tenang pada permukaan yang terlihat saja, tapi setidaknya, dia bisa menyembunyikan apa yang sedang hatinya rasakan saat ini.

__ADS_1


__ADS_2