Pernikahan Pelunas Hutang

Pernikahan Pelunas Hutang
*Bab 30


__ADS_3

Bak tersambar petir di siang bolong, tubuh Dinda langsung bergetar ketika pesan itu ia lihat. Bagaimana tidak? Pesan yang dikirim oleh orang terdekat Ilya sendiri, dengan pesan singkat pula yang tertulis dengan baik di chat berikutnya benar-benar menghancurkan hati Dinda.


*Maafkan saya, nona. Saya tidak ingin mengirim foto ini pada nona. Tapi, saya kasihan karena nona terus dibohongi oleh suami, nona. Karena itu, foto ini terpaksa saya kirimkan agar nona tahu apa yang telah suami nona lakukan di belakang nona selama ini. Nona perempuan yang baik. Karena itu, saya tidak tega melihat nona terus-terusan di tipu. Saya rela mempertaruhkan pekerjaan saya hanya untuk nona. Karena hati nurani, tidak bisa membantah hal baik yang ingin saya lakukan.*


Terasa lemas semua persendian Dinda setelah membaca pesan yang cukup panjang itu. Lalu, datang lagi pesan kedua yang tidak bisa untuk tidak Dinda baca. Karena saat ini, meskipun menangis, dia tetap melihat ke arah layar ponselnya yang masih terus menyala.


*Datanglah ke hotel yang sudah saya kirimkan alamat sebelumnya, nona. Karena dengan begitu, nona akan tahu kalau saya ini berbohong atau tidak. Maaf, nona. Kenyataan harus nona hadapi. Lebih baik terluka secara terang-terangan, dari pada bertahan dengan kebohongan. Itu lebih menyakitkan lagi, nona.*


Pesan kedua pun telah selesai Dinda baca. Hatinya sungguh sangat sakit. Setelah kepercayaan yang dengan susah payah ia bangun, kini malah hancur seketika karena dikhianati terang-terangan oleh orang yang sudah ia berikan kepercayaan.


Dinda pun tidak bisa untuk tidak menangis secara sesenggukan. Karena luka hati itu terasa sangat perih. Sampai-sampai, semua rasa itu langsung menjalan memenuhi hatinya dengan sangat cepat.


Usai menangis selama beberapa waktu, Dinda pun memutuskan untuk melihat ke hotel. Tekad sudah ia bulatkan, kali ini, dia tidak akan memberikan sedikitpun kepercayaannya pada Ilya. Karena itu, dia akan melabrak Ilya sekarang juga.

__ADS_1


Dinda langsung pergi setelah mengambil tas selempang nya. Tidak ia hiraukan pakaian rumahan yang saat ini ia kenakan. Karena saat ini, penampilan bukan hal yang penting bagi Dinda. Soalnya, hati sudah rusak, maka tidak ada waktu untuk memikirkan penampilan.


Dinda pergi sendiri menuju hotel tempat di mana Ilya berada. Kebetulan, beberapa waktu yang lalu, mbok Yah sudah pergi keluar untuk berbelanja kebutuhan di mini market. Karena itu, rumah mereka saat ini sedang kosong.


Sepanjang jalan menuju hotel, Dinda yang sedang duduk di kursi penumpang taksi online itu terlihat sangat murung. Bahkan, sesekali ia terlihat sedang menyeka air matanya yang tumpah perlahan.


Ya, air mata itu jatuh begitu saja tanpa bisa ia cegah. Ditambah ketika Dinda ingat saat-saat bersama Ilya yang sudah cukup lama ia lalui. Hal itu tentu saja menciptakan perasaan yang menjadi kenangan tersendiri untuk Dinda.


Beberapa saat menempuh perjalanan, akhirnya taksi tersebut tiba di hotel yang ingin Dinda tuju. Dinda pun bergegas turun setelah membayar ongkos dari taksi tersebut.


"Pak, apa bapak bisa menunggu saya? Saya di dalam gak akan lama. Mm ... hitung saja berapa ongkosnya, maka saya akan membayarnya nanti."


Si sopir awalnya sedikit ragu dan bingung. Tapi, pada akhirnya, dia setuju juga. "Baik, mbak. Saya akan tetap di sini."

__ADS_1


"Terima kasih, Pak."


"Sama-sama."


Dinda pun kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Sementara di dalam kamar, Diani sedang mengawasi Dinda lewat anak buah yang ia tempatkan di luar hotel.


"Bagus, perempuan bo- doh. Lanjutkan langkah mu sekarang juga. Kalau bisa, bergeraklah sedikit lebih cepat agar semuanya pas dengan apa yang aku harapkan." Diani berucap sambil tersenyum lebar dengan mata yang terus terfokus pada layar ponsel.


Beberapa saat berjalan, akhirnya Dinda tiba di lantai dua. Sekarang, jantung Dinda semakin kuat berdebar karena sejujurnya, ia merasa sangat tidak siap untuk melihat dengan mata kepalanya sendiri, sang suami yang sedang tidur dengan perempuan lain.


Tapi bagaimanapun, kenyataan harus ia hadapi. Meskipun sangat sakit, tapi itu akan lebih baik dari pada hidup dalam kebohongan yang akan membawa ke jalan kesengsaraan.


Dinda yang kini telah tiba di kamar hotel dengan nomor yang tertera di layar ponselnya itupun langsung memegang gagang pintu kamar tersebut dengan tangan yang sangat berat. Sungguh diluar perkiraan Dinda, pintu kamar tersebut tidak terkunci. Karena itu, dia dengan mudah bisa langsung membukakannya.

__ADS_1


Dinda pun menertawakan kebodohan orang yang ada di dalam dengan hati yang sangat terluka. 'Dasar manusia menjijikan. Apakah kalian segitu tidak sabarnya untuk bersama? Karena itu, pintu kamar pun tidak bisa kalian kunci terlebih dahulu. Benar-benar manusia tidak ada adabnya.' Dinda berkata dalam hati.


__ADS_2