
Mbok Yah yang panik pun tidak bisa berbuat banyak. Ia hanya bisa terduduk lemas karena kepergian Dinda yang ia yakini akan membuat Ilya sangat sedih nantinya. Mana Ilya tidak ada di rumah ketika Dinda pergi. Harus bagaimana ia jelaskan soal kepergian itu nantinya?
Semua pikiran itu terus memenuhi benak mbok Yah sekarang. Tak terasa, ia duduk di sana selama beberapa waktu hingga sebuah mobil masuk ke halaman rumah mereka.
Mobil yang sangat ia kenali dengan baik. Membuat si mbok tidak ingin menunggu si penumpang turun lagi. Dengan cepat, ia langsung menghampiri mobil tersebut dengan wajah paniknya yang masih terlihat dengan jelas.
"Den Ilya. Ke mana saja, Den? Kenapa baru pulang sekarang, ha?" Si mbok berucap sambil membuka pintu mobil tersebut dengan cepat.
"Mbok. Ada apa? Apa yang sudah terjadi di sini?" Ilya masih bertanya meskipun ia sudah menduga kalau hal terburuk pasti sudah terjadi di rumah ini.
Karena ia membutuhkan cukup banyak waktu untuk keluar dari kamar hotel, sampai dia berteriak seolah orang yang sedang dalam bahaya untuk mendapatkan pertolongan. Hingga pada akhirnya, Lula sendiri yang membantu Ilya memanggilkan pelayan hotel.
Lalu kemudian, pelayan hotel itulah yang membantu Ilya menemukan pak Toha yang kebetulan telah sadar dari pingsannya. Karena itu, dia bisa tiba di rumah sekarang. Semuanya memang tidak mudah. Tapi, dia masih sangat berharap jika saat ia pulang, dia bisa bertemu Dinda lagi. Ilya masih berharap besar, waktu yang ia punya masih banyak agar dia bisa menjelaskan pada Dinda kesalahan yang terjadi itu tidak sama dengan yang Dinda lihat dan pikirkan.
__ADS_1
Sayangnya, harapan itu mendadak pudar ketika melihat wajah si mbok yang kini sedang menangis. Bahkan, dari nada panik yang si mbok ucapkan barusan saja sudah membuat Ilya seakan tidak bisa bernapas dengan baik.
"Den Ilya. Non Dinda sudah tidak ada di sini lagi. Dia sudah pergi beberapa waktu yang lalu dengan membawa koper miliknya."
Lalu ... ucapan yang tidak ingin ia dengar pun akhirnya terucap. Bak sebuah sayatan yang merobek hati, hancur seketika. Kata-kata si mbok langsung membuat Ilya merasa sesak seketika.
"Tidak. Itu pasti tidak mungkin, mbok. Dinda tidak mungkin pergi dari sini. Ini rumahnya, bukan? Dia tidak akan meninggalkan rumahnya, mbok Yah." Nada sedih terdengar dengan sangat jelas. Air mata hampir saja jatuh karena kesedihan itu. Tapi, masih bisa Ilya tahan.
"Pak Toha, cepat turunkan aku! Aku ingin melihat ke dalam. Aku yakin jika Dinda masih ada di dalam, pak."
"Mbok. Jangan bicara lagi. Aku yakin Dinda tidak akan tega pergi meninggalkan rumah ini.'
Ilya pun langsung menjalankan kursi rodanya dengan cepat. Sampai, dia hampir saja menjatuhkan dirinya dari kursi roda tersebut. Hatinya yang perih, membuat dia tidak bisa menggerakkan kursi rodanya dengan benar. Tapi, tetap saja memaksakan diri untuk pergi ke kamar dengan cepat sendirian tanpa mengizinkan orang lain membantunya.
__ADS_1
Tiba di kamar, Ilya langsung membuka lemari pakaian. Sekali lagi, harapannya hampa ketika lemari pakaian itu kosong. Walaupun sebenarnya, Ilya sudah tahu akan hal tersebut, tapi tetap saja, dia menaruh harapan akan lemari pakaian tersebut.
"Tidak. Ini tidak benar, Dinda sayang. Jangan pergi! Jangan tinggalkan aku. Kamu salah paham, sayangku." Ilya berucap dengan air mata yang berlinangan.
Saat Ilya menoleh ke arah meja rias. Di sana ia melihat selembar kertas yang di atasnya ada sebuah cincin dan juga kalung. Ilya langsung bergerak cepat untuk menghampiri benda-benda tersebut.
Bergetar tangan Ilya untuk mengambil benda tersebut. Hatinya pun semakin terhiris dan terasa sangat amat perih. Air mata yang berlinangan, kini jatuh berderai melintasi kedua pipinya.
"Tidak. Jangan tinggalkan cincin kawin ini, Dinda. Kamu tidak bisa begitu kejam padaku, Sayang. Aku sangat membutuhkan kamu. Hanya kamu yang aku cintai. Tolong jangan pergi." Ilya berucap sambil menggenggam erat cincin kawin itu. Dia juga membawa cincin kawin yang ia genggam ke dadanya.
Beberapa saat terdiam dalam tangisan, Ilya pun teringat akan kertas yang ada di atas meja itu. Dengan tangan berat, Ilya mengambil kertas yang di atasnya terdapat pesan singkat dari Dinda.
*Aku pergi. Maaf karena aku tidak bisa bersama kamu lagi. He ... seharusnya aku tidak boleh pergi dan tidak boleh merasa sakit, bukan? Tapi sayangnya, aku tidak bisa menyembunyikan rasa itu sekarang. Aku sakit. Sangat sakit, kak Ilya. Kamu bersama perempuan lain setelah berjanji untuk hidup bersama aku sampai kita tua nanti. Kamu jahat karena telah mengkhianati aku. Aku benci kamu karena kamu telah membuat aku sangat kecewa. Karena itu, aku tidak bisa bertemu kamu lagi. Jangan cari aku. Itulah permintaan terakhirku padamu.*
__ADS_1
Begitulah pesan singkat yang Dinda tuliskan di atas kertas putih tersebut. Pesan yang membuat Ilya merasa langsung frustasi, dengan langsung mengeluarkan teriakan keras karena dia tidak ingin Dinda pergi.