Pernikahan Pelunas Hutang

Pernikahan Pelunas Hutang
*Bab 38


__ADS_3

"Tidak. Dinda gak akan kembali meskipun aku membujuk ia dengan cara apapun. Aku yakin itu, Mang. Karena Dinda sudah sangat sakit hati padaku. Karena itu, biarkan aku sakit. Dengan begitu, aku harap Dinda akan tergerak untuk kembali padaku."


"Pikiran gila apa ini, Den? Jangan menyiksa diri sendiri hanya untuk diberi belas kasihan. Sebaliknya, berusahalah yang keras untuk membuat non Dinda percaya pada den Ilya. Dengan begitu, mbok yakin kalau Den Ilya pasti bisa mengembalikan non Dinda ke sisi Den Ilya." Mbok Yah berucap dengan nada agak tinggi.


Dia sungguh sangat sedih saat melihat Ilya yang sekarang. Ini jauh lebih buruk dari Ilya pasca kecelakaan beberapa tahun yang lalu. Karena Ilya yang ini, jauh lebih menderita ketimbang Ilya yang tahu bahwa dia tidak lagi bisa berjalan dengan kakinya.


....


Hari-hari berlalu dengan lambat dan berat bagi Ilya. Semangat untuk hidup telah musnah. Yang ia lakukan hanya mengurung diri di dalam kamar bersama foto Dinda. Di suruh makan dia sangat sulit. Apalagi di beri obat, dia sama sekali tidak ingin meminumnya.


Ilya yang hidup karena bantuan obat pun langsung terlihat memperihatinkan meskipun baru beberapa hari berlalu. Hal itu membuat mbok Yah dan mang Mamat cemas bukan kepalang.

__ADS_1


Di tambah kena angin malam yang sudah sering Ilya nikmati beberapa malam terakhir. Kondisi kesehatan Ilya sudah mulai terlihat cukup buruk. Bahkan, sakit pada kaki dan tulang belakangnya pun sudah mulai terlihat.


"Bagaimana ini, mbok? Si den Ilya tidak mau minum obat sedikitpun. Dia tidak ingin mendengarkan apa yang kita katakan satu kali pun, mbok. Bapak sangat cemas sekarang." Mang Mamat bicara dengan nada sedih sambil melihat Ilya dari celah kecil pintu kamar yang sedikit terbuka.


"Ibuk juga sangat khawatir, Pak. Kita tidak bisa tinggal diam begitu saja. Kita harus berusaha keras untuk membuat Den Ilya punya semangat untuk hidup lagi."


"Caranya gimana, buk? Tidak ada cara lain selain memanggil non Dinda untuk datang ke sini lagi. Tapi, cara itu tidak mungkin kita tempuh. Karena Non Dinda juga tidak akan mendengarkan apa yang kita katakan. Mereka berdua sama, buk. Sama-sama keras kepala. Bagaimana cara kita menolong Den Ilya kalau begini, ha?"


"Caranya gimana, buk? Non Dinda tidak bisa kita hubungi. Bagaimana dia bisa tahu kalau den Ilya sedang tidak baik-baik saja?"


Ucapan mang Mamat membuat mbok Yah terdiam seketika. Sepertinya, dia sedang memikirkan segala sesuatu yang mungkin bisa terjadi. Sebuah kemungkinan besar yang pasti akan menunjukkan hasil baik.

__ADS_1


"Mm ... ibuk akan cari non Dinda secepatnya."


"Cari? Mau cari di mana, buk? Orang kita gak tahu non Dinda nya ada di mana. Mau menghubungi ke desa, den Ilya tidak mengizinkan kita melakukan hal itu. Karena dia tidak ingin orang desa tahu apa yang sudah terjadi dengan kehidupannya saat ini."


"Iya, ibuk ingat akan larangan Den Ilya. Tapi, ibuk akan tetap menghubungi ke desa. Namun, dengan cara ibuk sendiri," ucap Mbok Yah dengan senyum lebar di bibir beserta tatapan yang penuh dengan keyakinan.


Begitulah pada akhirnya mbok Yah memutuskan untuk mencoba keberuntungan. Dia menyamar menjadi seseorang dari kota tempat Dinda tinggal saat kuliah. Dan, dalam pembicaraan lewat udara itu, dia bisa tahu kalau Dinda tidak ada di desa saat ini. Orang tua Dinda mengatakan kalau Dinda sedang berada di rumah suaminya. Tapi si mbok hanya meminta alamat tempat tinggal Dinda yang ada di kota tersebut. Tanpa ada rasa curiga sedikitpun, bunda Dinda pun langsung mengatakan alamat lengkap kakaknya yang ada di kota tersebut.


Berbekalkan alamat itu, mbok Yah langsung berangkat ke kota sebelah keesokan harinya. Demi Ilya yang sudah ia anggap sebagai anak, kesulitan apapun akan ia tempuh dengan lapang dada.


Beberapa saat melakukan perjalanan, akhirnya mbok Yah tiba di rumah tante Dinda. Karena belum terlalu paham keadaan kota sebelah, dia pun butuh waktu yang lebih lama dari waktu yang Dinda butuhkan. Berangkat pagi-pagi lagi, sampainya hampir sore. Tapi, si mbok masih penuh semangat karena berharap, apa yang ia lakukan kali ini berhasil.

__ADS_1


"Ya Tuhan, tolonglah saya." Mbok Yah bicara sambil memandang rumah mewah yang ada di hadapannya. "Jangan buat usaha saya sia-sia. Buatlah non Dinda ada di sini. Dan yang paling penting, biarkan ia bersedia ikut saya pulang ke rumah den Ilya kembali. Kasihan den Ilya, Tuhan."


__ADS_2