
"Aku ada di sini bukan karena tanpa alasan, bukan? Semua karena aku yang telah melakukan apa yang kamu inginkan. Haruskah aku mengatakan pada semua orang kalau kamu .... "
"Cukup, Lula! Aku yakin kamu tidak akan berniat untuk mengatakan semua itu, bukan? Karena jika kamu katakan, bukan aku yang ada dalam masalah, melainkan kamu juga."
"Dan, satu hal yang ingin aku ingatkan padamu soal apa yang telah terjadi. Sampai detik ini, Ilya masih terus mencari siapa perempuan yang sudah menjebak dirinya hingga istrinya sakit hati. Jika dia tahu, kamu pasti ada dalam masalah besar. Karena Ilya tidak akan memaafkan kamu. Mengerti?"
Ucapan Diani membuat Lula tersenyum. Kali ini giliran Diani pula yang merasa kesal akan senyuman yang orang lain berikan padanya.
"Kamu bilang, aku akan ada dalam masalah besar jika Ilya tahu kalau aku adalah perempuan itu, Diani?"
"Mm ... kamu gak salah ucap kata-kata, bukan? Karena jika aku ketahuan, maka kamu juga akan ada dalam masalah besar. Karena yang sangat tidak ingin Ilya tahu kalau ini adalah ulah kamu itu adalah Ilya sendiri. Benar begitu bukan, Diani?"
Kata-kata Lula benar-benar mampu memukul mental baja yang Diani pasang. Saat ini, Diani sedang sangat kesal. Dan ingin rasanya ia pukul Lula agar perempuan itu tahu, sedang berhadapan dengan siapa dia saat ini.
__ADS_1
Tapi sayang, hal itu tidak bisa ia lakukan. Karena ia masih sangat membutuhkan perempuan tersebut. Masih ada banyak hal yang harus perempuan itu urus. Hingga setelah Ilya benar-benar ada dalam genggaman tangannya, baru perempuan itu tidak ia perlukan lagi. Saat itulah, dia bisa menyingkirkan perempuan itu agar rahasia yang ada tetap tersimpan dengan baik.
Setelah beberapa waktu mereka saling diam, akhirnya Diani angkat bicara kembali.
"Baiklah, cukup pembahasan soal apa yang sudah terjadi. Sekarang, aku ingin membahas hal lain dengan kamu. Aku ingin .... "
"Tidak!" Lula berucap cepat memotong perkataan Diani sambil mengangkat satu tangannya ke arah Diani. "Tidak ada yang bisa kamu mintai lagi padaku, Diani. Kerja sama kita sudah berakhir. Kamu jangan lupa akan hal itu."
"Kamu tidak akan bisa menolak apa yang aku mau, Lula. Kamu ingat apa yang aku katakan, bukan? Jika kamu menolak, maka hidupmu akan dalam bahaya besar."
"Persetan dengan ancaman yang kamu berikan. Karena aku tidak takut lagi. Perempuan munafik seperti kamu, harusnya aku tidak bertemu sejak awal. Karena kamu tidak akan pernah merasa puas dengan apa yang sudah aku lakukan."
Selesai mengatakan kata-kata itu, Lula langsung mengambil tasnya yang ada di atas meja. Selanjutnya, dia berjalan cepat meninggalkan ruangan tersebut. Tekad Lula sudah bulat, kali ini dia tidak akan mengikuti apa yang Diani katakan. Meskipun perempuan itu mengancamnya sekuat apapun.
__ADS_1
Sementara Lula pergi, Diani pun merasa kesal bukan kepalang. Dia yang tidak suka akan penolakan, sekarang malah ditolak secara mentah oleh perempuan yang dia anggap tidak ada apa-apanya dibandingkan dirinya. Karena itu, dia kesal bukan kepalang.
Ditambah dengan panggilan yang ia lontarkan tidak satupun Lula dengar, hal itu semakin membuat Diani marah. Dia menggenggam erat tangannya. Lalu, dia hancurkan meja Lula dengan membuang semua barang yang ada di atas meja dengan kasar.
"Perempuan kurang ajar! Tidak tahu diri kamu, Lula. Tidak tahu berterima kasih atas apa yang sudah aku berikan. Tunggu dan lihat saja apa yang bisa aku lakukan padamu. Akan aku buat kamu menyesali dengan sangat apa yang sudah kamu lakukan. Bia- dab!"
Hari berikutnya, Lula langsung mendapat masalah besar. Entah bagaimana caranya, jabatan yang ia punya langsung hilang seketika. Bahkan, dia langsung di keluarkan dari kantor akibat sebuah kesalahan yang sama sekali tidak ia lakukan.
Tidak sampai di situ saja, ketika dia sedang bersedih dengan nasib buruk yang sedang menimpanya, ada dua orang preman yang terus membuntuti ke mana ia pergi. Lula yang ketakutan, langsung meninggalkan mobilnya saat dia punya kesempatan.
Ketika itulah, pertemuan pertama Lula dengan Rafa terjadi. Yah, Rafa. Tangan kanan kepercayaan Ilya yang kini terus mengurus perusahaan Ilya yang semakin lama semakin berkembang pesat.
Pertemuan itu membuat Lula dan Rafa langsung dekat satu sama lain. Lula yang kebetulan tidak punya pasangan, bertemu dengan Rafa yang juga bernasib sama. Tentu saja mereka langsung bisa nyambung saat ngobrol.
__ADS_1