Pernikahan Pelunas Hutang

Pernikahan Pelunas Hutang
*Bab 57


__ADS_3

"Heh! Papa bisa saja memblokir semua kartu yang aku miliki. Tapi aku tidak akan kemiskinan di sini. Aku malahan akan membuat papa menyesal karena telah melakukan hal gila ini padaku."


Dengan perasaan sangat bahagia. Diani menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju kantor tempat di mana ia memiliki sebagian saham. Dia akan mendapatkan uang dari perusahaan tersebut bagaimanapun caranya. Meskipun ia harus menjual saham yang papanya miliki di sini.


"Aku yakin, papa tidak akan menduga akan hal ini. Karena itu, jangan salahkan aku, pa. Aku akan mengambil apa yang bisa aku ambil."


Setelah mengendarai mobil beberapa waktu, akhirnya Diani tiba di kantor yang ingin ia tuju. Dengan perasaan bahagia, dia meninggalkan mobil, lalu melenggang masuk ke dalam.


Namun, baru juga ia ingin bicara dengan pimpinan perusahaan, dua orang satpam malah mengejar Diani dari belakang. Lalu, satpam itu menangkap Diani dan menyeretnya keluar dengan cepat.


Tentu saja Diani meronta dan berteriak keras minta di lepaskan. Dia juga mengerahkan seluruh tenaganya untuk melawan kedua satpam tersebut. Sayangnya, Diani bukanlah lawan kedua satpam itu. Karena itu, dia diseret keluar dengan mudah.


"Apa yang kalian lakukan, satpam bod- oh! Kalian tidak tahu siapa aku? Kalian ini satpam baru ya?"

__ADS_1


"Akan aku buat kalian dipecat karena telah melakukan hal yang tidak baik pada anak pemilik dari saham terbesar di perusahaan ini. Kalian akan menyesali apa yang sudah kalian lakukan padaku."


Diani terus ngoceh sendiri sambil berusaha melepaskan diri. Sementara kedua satpam yang membawa Diani keluar tidak berkata satu patah pun.


Hingga akhirnya, mereka berhasil menyeret Diani keluar dari kantor meski dengan susah payah. Setelah tiba di luar, mereka langsung melepaskan tangan Diani yang sebelumnya mereka pegang.


"Dasar satpam gila! Beraninya membuang aku di sini. Kalian tidak akan memikirkan apa yang bisa aku lakukan jika aku sudah bertemu dengan pimpinan kalian. Menyingkir! Biarkan aku masuk dan bertemu dengan pimpinan perusahaan ini!"


Diani yang tidak kenal akan kata putus asa masih tetap berusaha menyerobot masuk meskipun sudah diusir oleh kedua satpam tersebut. Hal itu membuat satpam yang diam jadi sangat kesal juga.


"Hah? Apa kalian bilang? Kerja sama? Kerja sama apaan seperti ini? Aku ingin masuk ke dalam untuk bertemu pimpinan kalian. Tapi kalian malah mengusir aku. Apa itu yang kalian anggap kerja sama. Bod-oh! Itu bukan kerja sama. Tapi gila namanya."


"Mbak .... " Belum sempat satpam itu menjelaskan, pemimpin perusahaan tersebut langsung muncul dan membuat perhatian mereka langsung teralihkan.

__ADS_1


"Kamu ingin bertemu dengan aku? Untuk apa? Apa untuk mengatakan soal saham papa kamu yang saat ini sudah papa kamu bekukan dananya?" Pria paruh baya itu langsung bicara pada pokok permasalahan yang saat ini sedang terjadi.


Sementara Diani yang mendengarkan ucapan barusan, langsung melebarkan mata karena tak percaya dengan apa yang kupingnya dengarkan. "Apa maksud om barusan? Papa membekukan sahamnya di sini? Tidak! Bagaimana bisa ini terjadi?"


"Tentu saja bisa karena saham ini masih atas nama papa kamu, bukan nama kamu. Jadi, apapun yang papa kamu lakukan, maka itu terserah dia. Aku tidak bisa berbuat banyak. Karena meskipun kamu anaknya, tapi aku hanya bisa melakukan apa yang papa kamu katakan. Karena dia adalah pemilik yah sah."


Penjelasan itu membuat Diani terkulai lemah. Bagaimana tidak? Hanya perusahaan ini harapan satu-satunya yang ia miliki untuk mendapatkan uang. Tapi sayangnya, perusahaan ini juga sudah papanya bekukan.


"Sialan! Benar-benar sial! Papa seperti apa dia itu hah!" Diani mengamuk kembali setelah tiba di rumah.


Sementara itu, Rafa dan Lula terus berusaha menyelidiki semua tentang Diani. Karena mata-mata tidak ada lagi, Diani yang tidak punya apa-apa itu tidak mampu bergerak sedikitpun. Karena selama ini, dia melakukan semuanya dengan berdasarkan uang.


Tanpa uang, maka tidak ada yang bisa ia lakukan. Karena tidak ada yang akan mengikuti apa yang ia katakan jika ia tidak punya uang. Karena itu, Diani yang saat ini seperti bukan Diani yang dulu lagi. Dia sudah sedikit tidak berbahaya meskipun dia punya ide jahat di kepalanya. Karena sudah terbiasa bergerak menggunakan orang lain. Maka ketika tidak ada orang lain, dia tidak bisa apa-apa.

__ADS_1


Hari-hari berlalu dengan cepat. Perjalanan Ilya dan Dinda untuk menjerat Diani ke jalur hukum, kini mulai memperlihatkan hasilnya. Usaha yang Rafa dan Lula lakukan ternyata tidak sia-sia.


__ADS_2