Pernikahan Pelunas Hutang

Pernikahan Pelunas Hutang
*Bab 58


__ADS_3

Hari-hari berlalu dengan cepat. Perjalanan Ilya dan Dinda untuk menjerat Diani ke jalur hukum, kini mulai memperlihatkan hasilnya. Usaha yang Rafa dan Lula lakukan ternyata tidak sia-sia.


Meski sangat rumit dan sulit, tapi pada akhirnya, mereka bisa juga menemukan bukti kejahatan Diani. Itu adalah rekaman cctv yang ada di parkiran tempat di mana mobil Ilya sebelum melakukan balap bersama pria dari masa lalu Diana.


Rekaman yang sempat gilang, tapi kini mereka temukan di tangan si penjaga cctv parkiran tersebut. Setelah diolah dengan susah payah, akhirnya, semua percakapan dalam rekaman itu bisa terdengar dengan jelas. Dengan barang bukti tersebut, kecelakaan yang ternyata adalah kasus percobaan pembunuhan sehingga menimbulkan korban itupun akhirnya bisa di usut kembali.


Sementara itu pula, Diani yang sudah sangat pusing dengan kehidupan yang saat ini ia jalani. Bertekad untuk mendatangi papanya agar papanya bisa membuka kembali kartu yang telah dibekukan. Dia sudah berniat akan menjual mobilnya. Sayang, sebenarnya, dia ingin menjual rumah. Tapi, sertifikat rumah tersebut tidak ada padanya saat ini. Jika saja ada, maka rumah itu pasti sudah ia jual agar bisa menghasilkan uang yang banyak.


"Sialan si rubah tua bangka itu ya. Aku terpaksa bersikap layaknya orang miskin saat ini karena ulahnya. Huh! Jika dia tidak mau membuka kembali semua kartu yang sudah ia blokir, maka aku akan membuat keributan besar. Kalau perlu, aku akan menghancurkan rumahnya dengan cara apapun."


Tapi, belum sempat Diani melangkah meninggalkan pintu utama rumahnya, kaki Diani langsung tertahan akibat ketika ia membuka pintu, dua polisi sudah berdiri di depan pintu rumahnya. Dan, kedua polisi itu ternyata sudah bersiap-siap ingin mengetuk pintu rumah tersebut.


"Pa-- pak ... polisi? Ada perlu apa anda ke rumah saya?" Diani berucap dengan suara gugup.

__ADS_1


"Apa benar anda nona Diani?" Salah satu polisi berucap dengan suara tegas.


"Y-- ya ... sa-- saya sendiri. Ada apa, pak?"


'Tenang, Diani! Tenang. Kamu tidak punya salah, oke. Jadi, kenapa kamu malah gugup akan kedatangan dua polisi ini.' Diani berkata dalam hati untuk menenangkan dirinya.


"Nona Diani. Kami membawa surat penangkapan dari kantor untuk nona. Sekarang, ikut kami ke kantor polisi."


"Ap-- apa! Tidak mungkin, pak. Saya tidak punya salah. Kenapa saya harus di bawa ke kantor polisi. Tidak! Saya tidak mau, pak."


"Ini ... ada masalah apa ya?" Si bibi yang mendengar keributan langsung menyusul ke pintu. Dia pun langsung kaget dengan keadaan Diani saat ini. Diani yang di cengkram oleh salah satu polisi membuat si bibi jadi terkejut bukan kepalang.


"Bik ... tolong aku, bik! Aku gak salah. Selamatkan aku." Diani berucap dengan nada memelas.

__ADS_1


Tapi, dalam hati si bibi malah merasa lega melihat Diani saat ini. Karena apa yang sudah Diani lakukan selama ia bekerja di sini, sungguh sangat membuat si bibi merasa sakit hati.


"Maaf, nona. Saya tidak bisa membantu. Sepertinya, setiap kesalahan itu memang akan ada ganjaran yang setimpal, nona."


Si bibi malah terkesan menyoraki dirinya. Hal itu membuat Diani marah bukan kepalang. Tapi sayang, semarah apapun Diani saat ini, dia juga tidak bisa berkutik. Karena kedua polisi itu tidak akan membiarkan dirinya melakukan apapun.


Diani pun akhirnya di bawa ke kantor polisi. Sampai di sana, dia dijelaskan penyebab dirinya di bawa ke tempat tersebut. Dan, di perlihatkan semua bukti tentang kejahatan yang telah ia lakukan.


Awalnya, Diani ingin menyangkal. Tapi setelah melihat semua bukti, ia jadi sadar kalau keinginan menyangkal itu sama sekali tidak ada gunanya. Karena itu, dia pun tertawa sambil mengakui semua kesalahan yang ia perbuat.


"Dasar perempuan gila. Aku gak habis pikir dengan apa yang sudah dia perbuat. Bisa-bisanya dia menghabisi kakak angkatnya hanya karena terobsesi ingin memiliki pacar dari kakak angkatnya itu," ucap salah seorang napi yang tinggal satu sel bersama Diani.


"Iya. Yang lebih parahnya itu, dia malah mengakui sambil tertawa lepas semua yang sudah dia perbuat. Aku salut sama pikiran gila perempuan ini. Bukannya merasa bersalah, eh ... malah bahagia." Yang lainnya lagi ikut bicara.

__ADS_1


Begitulah para napi perempuan membicarakan Diani setelah beberapa saat Diani dimasukkan ke dalam sel tersebut. Diani yang kesal akan omongan itu, langsung menatap tajam mereka yang baru saja membicarakan dirinya dihadapannya pula.


"Apa kalian tidak ada kerjaan lain? Kenapa malah mengurusi hidup aku, ha? Kalian saja ada di sini karena kalian berbuat salah. Jadi, jangan urusi hidupku. Urusi saja urusan kalian."


__ADS_2