
"Ee ... bagaimana kabar kak Zery sekarang, Tan? Apa dia baik-baik saja?" Dinda bertanya dengan suara pelan.
"Kak mu itu baik-baik aja, Din. Bahkan, sangat baik sekarang."
Mendengar itu, Dinda bahagia. Tapi, dalam hatinya juga merasa sedih jika ingat prihal nasibnya yang buruk. Sama-sama dijodohkan, tapi tidak bisa sama-sama bahagia. Karena itu, dia merasa sangat sedih.
"Kak Zery dan kak Zaki sangat bahagia ya, Tan. Padahal, mereka menikah karena dijodohkan. Tapi, kebahagiaan begitu berpihak pada mereka karena kak Zaki yang sangat mencintai kak Zery dengan sepenuh hati."
"Iya, Din. Tante juga gak nyangka kalo pernikahan kakak mu itu sangat bahagia seperti sekarang. Ketika menikahkan mereka, tante hanya bisa berdoa dengan penuh harap, kalau pernikahan keduanya di berikan kebahagiaan. Dan, alhamdulillah. Mereka benar-benar bahagia."
Ucapan itu membuat air mata Dinda langsung jatuh. Kebahagiaan si tante membuat ia tidak kuat menahan rasa sedih. Karena itu, air matanya jatuh dengan begitu saja meskipun sudah dia tahan dengan sekuat tenaga.
"Dinda kenapa nangis, nak? Apa yang membuat kamu merasa sedih barusan? Apa ada yang salah dengan kata-kata tante," ucap si tante dengan nada panik sambil berusaha menghapus air mata Dinda.
__ADS_1
Sadar akan apa yang sedang terjadi dengan dirinya, Dinda pun langsung menghapus air mata. Tak lupa, ia juga berusaha keras untuk mengukir senyum agar si tante tidak begitu cemas padanya.
"He ... Dinda gak papa kok, Tante. Hanya terlalu bahagia mendengar kebahagiaan kak Zery aja. Karena itu, air mata ini jatuh begitu saja."
Ucapan itu membuat si tante langsung memberikan tatapan lekat ke arah Dinda. Dia tahu, ada hal yang tidak beres dengan keponakannya saat ini. Jiwa keibuannya bisa merasakan hal tersebut dengan jelas.
"Jangan bohong, nak. Tante kenal kamu sejak kamu masih kecil lagi. Ditambah, kamu sudah hidup bersama dengan tante sejak beberapa tahun yang lalu. Karena itu, tante bisa merasakan ada yang buruk yang telah kamu alami."
"Katakan pada, tante! Apa yang telah terjadi? Apa suami kamu telah membuat kamu kecewa, Dinda?"
Semangat yang membara itu membuat Dinda merasa kuat untuk menghadapi kenyataan dan bertarung di dalamnya. Karena itu, dia merasa sedikit tentram saat ini. Tepatnya, ketika berada di dekat tante yang begitu peduli akan kehidupannya.
"Nggak kok, Tante. Aku gak diusir dari rumah suamiku. Tapi, aku sendiri yang pergi dari sana. Karena aku sudah merasa gak nyaman untuk bertahan. Karena itu, aku memilih untuk pergi untuk sementara waktu."
__ADS_1
"Sementara waktu? Jadi, sepertinya kamu berniat untuk kembali nanti. Iya, begitu?"
"Mm ... entahlah, Tan. Kembali itu masih dalam pertimbangan yang panjang."
"Dinda, bukan tante ingin ikut campur dalam urusan rumah tangga kamu, Nak. Tapi, dia itu suami kamu. Memang salah jika kamu pergi karena istri tidak boleh pergi meninggalkan suami tanpa izin dari suami itu sendiri. Tapi, tante akan mendukung setiap keputusan yang kamu buat. Jika sudah merasa tidak nyaman, kenapa harus bertahan. Namun, usahakan bicara baik-baik nantinya ya, Nak. Pikirkan yang harus kamu lakukan selanjutnya. Mau dibawa ke mana hubungan rumah tangga itu. Tetap berjalan, atau berhenti di tengah jalan."
Dinda terdiam. Ucapan si tante berusaha ia cerna dengan baik. Tapi rasa sakit yang ada dalam hatinya masih sangat kuat. Tidak bisa menemukan cara yang baik untuk menyelesaikan masalah yang sedang ia alami selain pergi dari sisi suaminya.
Sementara itu, di sisi lain, Ilya sedang berdiam diri di taman bunga yang selalu Dinda rawat dengan baik. Hatinya sangat sedih, karena itu dia ada di taman ini. Meskipun sebenarnya, dia tidak diperbolehkan keluar malam karena kondisi kesehatannya yang tidak baik-baik saja.
"Ya Tuhan, Den Ilya. Ayo masuk, Den! Jangan terus berdiam diri di sini. Udara malam semakin dingin. Kesehatan den Ilya tidak baik. Karena itu, ayo masuk sekarang! Jangan menyiksa diri seperti ini." Mang Mamat berusaha membujuk Ilya.
"Biarkan saja aku sakit, Mang. Karena seperti yang telah aku katakan sebelumnya, sakit di tubuhku tidak akan terasa sedikitpun. Karena sakit hatiku, sangat luar biasa rasanya."
__ADS_1
"Den, jangan menyiksa diri sendiri. Jika Den Ilya sakit, bagaimana bisa Den Ilya mencari non Dinda? Den Ilya harus tetap sembuh agar bisa membujuk non Dinda untuk kembali ke sisi Den Ilya."
"Tidak. Dinda gak akan kembali meskipun aku membujuk ia dengan cara apapun. Aku yakin itu, Mang. Karena Dinda sudah sangat sakit hati padaku. Karena itu, biarkan aku sakit. Dengan begitu, aku harap Dinda akan tergerak untuk kembali padaku."