
Semua itu bukan tanpa alasan. Melainkan karena, saat masih hidup, papa Diani pernah ngomong kalau dia akan menyerahkan hartanya untuk orang yang membutuhkan. Bukan untuk Diani yang sudah membuat dirinya sangat kecewa.
Entahlah. Itu entah murni niat dalam hati, atau hanya sekedar ucapan saja. Tapi, kepala pelayan itu memutuskan untuk melakukan hal tersebut agar dia bisa tenang.
Sementara itu, kehidupan Diani di dalam penjara sangat tidak baik-baik saja. Perlahan, dia merasa kesepian dan rasa bersalah pun terus menggerogoti hatinya. Ditambah, dia yang diperlakukan secara tidak baik di dalam sel membuat dia ingin membunuh dirinya saja.
Namun, ini bukan rumah pribadi yang bebas melakukan apapun. Ini sel yang tidak bisa melakukan sedikitpun keinginan hati. Yang lemah akan semakin tertindas. Yang kuat akan semakin berkuasa. Karena Diani sudah di benci saat pertama kedatangannya, maka dia langsung tidak punya tempat di sel tersebut.
Dia akan menjadi pesuruh yang melakukan apapun yang teman satu selnya inginkan. Seperti, memijat, mengurus, atau melakukan apapun yang mereka minta.
Diani melakukan semua tanpa bisa melawan. Penyesalan memang datang belakangan. Karena itu, menyesal tidak akan berguna lagi.
....
Di sisi lain, kehidupan Ilya dan Dinda semakin bahagia saja. Tapi, rasa cemas memenuhi hati Dinda ketika Ilya memutuskan untuk pergi ke luar negeri untuk melakukan pengobatan pada kakinya.
"Kak Ilya yakin ingin pergi?" Dinda bertanya dengan wajah sedih.
__ADS_1
Pertanyaan itu membuat Ilya merasa tidak nyaman. Dia pun langsung menyentuh pelan pipi Dinda yang kini ada dihadapannya.
"Sayang, aku pergi juga gak akan lama, bukan? Lagian, aku ingin sembuh seperti sebelumnya. Dan yang terpenting, aku ingin menjadikan kamu istri yang seutuhnya. Bukan hanya perempuan yang mendampingi aku seperti saat ini."
"Tapi ... sekarang aku juga sudah sangat bahagia, kak. Aku pun sudah merasa jadi istri yang sesungguhnya."
"Aku yakin tidak, Dinda. Sekarang, aku tidak bisa menyentuhmu sebagai suami. Dan, aku juga tidak bisa memberikan kamu kehangatan yang pasti kamu inginkan sebagai perempuan. Aku yakin, kamu pasti ingin jadi ibu layaknya perempuan lain, bukan?"
"Ta-- tapi .... "
"Aku pergi gak akan lama. Paling beberapa bulan saja. Kamu harus percaya kalau aku akan baik-baik saja. Dan aku akan kembali membawa kebahagiaan buat kamu."
Ucapan dengan mata yang bersinar penuh harap membuat Ilya lemah. Sebenarnya, dia juga ingin mengajak Dinda. Tapi, dia tidak ingin Dinda melihat saat dia sakit untuk yang kedua kalinya. Cukup sudah yang pertama, dan tidak akan ada yang kedua lagi.
Begitulah yang Ilya pikirkan sekarang. Karena dia tidak ingin terlihat lemah sebagai suami, dia malah tidak ingin mengajak Dinda pergi bersamanya.
"Itu .... "
__ADS_1
"Baiklah jika tidak ingin aku ikut. Aku juga tidak akan memaksa," ucap Dinda dengan nada sedih dan kesal.
Tapi pada akhirnya, Ilya mengalah juga. Dia membawa Dinda ikut bersamanya ke luar negeri untuk melakukan pengobatan. Dinda begitu bahagia akan keputusan itu. Beberapa hari kemudian, mereka meninggalkan tanah air menuju negara yang di mana pengobatan itu akan dilakukan.
...
Delapan bulan kemudian.
Dinda dan Ilya kembali ke tanah air. Kali ini, Ilya kembali tidak dengan kursi roda bersamanya lagi. Dia sudah berjalan normal dengan kedua kakinya.
Ya. Pengobatan itu berhasil meskipun menghabiskan waktu yang cukup lama. Setelah diizinkan pulang, Ilya dan Dinda langsung kembali ke tanah air. Mereka berdua di sambut dengan bahagia oleh para orang-orang terdekat.
Setelah berpelukan dengan keluarga, Ilya kini langsung bertemu Rafa dan Lula yang juga ikut hadir menyambut mereka berdua. Setelah berpelukan, Ilya dan Rafa yang sudah lama tidak pernah bercanda itu tentu langsung melepaskan kerinduan mereka.
"Wah, aku yang duluan nikah, kamu yang duluan punya calon anak ya, Raf. Benar-benar curang kamu ini. Udah nikah gak nunggu aku pulang, punya calon anak juga malah duluan."
Ocehan itu membuat Rafa dan Lula langsung tersenyum lebar. "Maafkan aku, kak Ilya. Aku udah gak sabar lagi soalnya. Kebelet nikah aku saat kamu gak ada. Ya mau bagaimana lagi? Aku nikah saja duluan. Dan ... untuk calon anak ... itu ... sudah rezeki sih," ucap Rafa dengan wajah malu.
__ADS_1
Lalu, Rafa semakin mendekat ke Ilya. Kemudian, dia bicara dengan suara yang sangat pelan. "Mm ... kamu kan udah bisa jalan sejak di tempat pengobatan, kak. Apa kamu belum pernah melakukan hal itu dengan mbak Dinda?"
"Dasar bocah mesum. Jangan tanya hal yang tidak penting seperti itu juga dong padaku. Kamu gak tahu apa, seperti apa kuatnya iman aku untuk menahan keinginan itu? Ah, tapi ... aku tidak sekuat yang kamu bayangkan juga kok. Karena itu ... kamu bisa menarik kesimpulannya sendiri."