
Dinda masuk sendirian ke dalam kamar tersebut. Sementara mbok Yah dan mang Mamat hanya menunggu di luar. Kehadiran Dinda tidak Ilya hiraukan lagi sekarang. Karena rasa sakit yang ia derita membuatnya lupa akan dunia sekeliling.
"Agh! Tuhan ... ini sakit sekali."
Kata-kata itu membuat Dinda tidak bisa menahan air mata yang ingin jatuh. Tubuh Ilya yang terlihat bergetar itu sungguh sangat menyayat hati Dinda saat ini. Rintihan yang sangat memilukan itu menciptakan rasa sedih yang berkali-kali lipat dalam hati Dinda.
Sementara untuk rasa bersalah, jangan di tanya lagi sebesar apa. Karena ketika melihat Ilya merintih, menahan rasa sakit, Dinda tidak bisa berpikir hal lain selain menyalahkan dirinya sendiri.
Dinda pun berusaha untuk memberanikan diri agar bisa memanggil Ilya. Setelah beberapa detik dia terdiam, akhirnya keberanian untuk mengeluarkan suara datang juga.
"Kak Ilya .... "
Suara lembut yang terdengar sangat pelan itu seketika mengalihkan perhatian Ilya. Meskipun dia merasa sangat sakit saat ini, tapi suara itu sungguh bisa membuatnya langsung tersadar akan keadaan sekeliling.
Ilya langsung menoleh seketika. Matanya melebar saat melihat Dinda yang kini ada di dalam kamar tersebut. Perlahan, tanpa melepaskan cengkraman tangannya yang memegang erat tepian ranjang, Ilya mengukir senyum getir.
"Kau hadir, Sayang. Terima kasih banyak. Meskipun hanya bayangan saja, tapi aku sudah merasa puas. Setidaknya, aku masih punya kesempatan untuk berkhayal meskipun kamu sudah pergi meninggalkan aku." Ilya berucap dengan susah payah karena menahan sakit.
__ADS_1
Karena ucapan itu, Dinda tidak bisa menahan isak tangisnya. Ternyata, suaminya sangat mengharapkan keberadaannya. Kehadiran dirinya sangat dibutuhkan oleh sang suami.
Dinda pun langsung menghampiri Ilya dengan cepat. Dengan isak tangis yang terdengar cukup keras, Dinda langsung menyentuh tangan Ilya yang kini sedang mencengkram tepian ranjang.
"Kak Ilya. Ini aku. Aku yang sesungguhnya. Bukan hanya bayangan kamu saja."
"Maafkan aku."
Sentuhan yang terasa sangat nyata itu membuat Ilya langsung menutup matanya rapat-rapat. Dari mata yang tertutup langsung mengalir buliran bening secara perlahan.
"Aku mencintaimu. Tidak ada yang bisa aku katakan selain itu. Ya Tuhan ... jika ini mimpi, aku rela tidak akan bangun lagi untuk selamanya. Karena kehadiran dia, adalah hal terindah yang bisa aku rasakan. Meski tubuh ini menderita kesakitan yang begitu luar biasa. Aku rela jika dia Engkau izinkan menemani aku. Meskipun itu hanya bayangan saja."
Sementara Dinda yang melihat hal tersebut semakin merasa bersalah dan sangat sedih. Suaminya begitu mencintai dia dengan sepenuh hati. Sangat mengharapkan kehadirannya. Bahkan, sangat ingin ditemani meskipun hanya dengan bayangan dirinya saja.
Tangisan Dinda pun semakin menjadi-jadi lagi sekarang. Dia lepas cengkraman tangan Ilya yang masih tetap memegang tepian ranjang. Lalu, setelah cengkraman tangan itu berhasil ia lepas, dia cium dengan penuh perasaan. Air mata Dinda jatuh ke tangan Ilya. Saat itulah, Ilya langsung memberanikan diri untuk membuka mata. Melihat kenyataan yang dia anggap hanya khayalan semata.
"Din-- Dinda .... "
__ADS_1
"Dinda ku sayang. Ini kamu ... Dinda?" Ilya berucap dengan suara bergetar. Rasa sakit yang ia derita seakan memudar karena kehadiran Dinda.
Ilya juga melepaskan cengkraman tangannya yang sebelah untuk menyentuh Dinda. Tangan itu terlihat sangat bergetar. Dan terdapat bekas memar juga luka yang sepertinya masih belum mengering sepenuhnya. Bekas memar dan luka itu terlihat dengan sangat jelas, membuat Dinda langsung terkejut karena melihatnya.
Dengan cepat Dinda menyambut tangan tersebut dengan satu tangannya. Air mata kembali mengalir deras saat melihat tangan yang terluka parah itu.
"Kenapa ini, kak? Apa yang kamu lakukan dengan tangan ini?"
Ilya tidak menjawab. Nyeri di bagian punggung membuat ia terdiam sesaat sambil menggenggam erat tangan Dinda.
"Jangan pergi ... dari aku. Atau aku ... tidak akan sanggup untuk hidup."
"Kak Ilya .... "
"Aku mencintaimu. Agh! Sakit sekali, Dinda. Tapi ... ini tidak lebih sakit dari kamu yang pergi meninggalkan aku. Karena sakit ini masih bisa aku atasi dari pada sakit saat kamu menjauh dariku."
"Kak Ilya jangan bicara yang tidak-tidak lagi. Bertahanlah, Kak. Lawan rasa sakit ini. Kamu harus tetap kuat dan segera sembuh. Aku janji tidak akan meninggalkan kamu lagi."
__ADS_1
Ilya pun menarik tangan Dinda untuk ia cium.
"Ber-- jan-- janjilah un-- tuk sela-- lu ada buat aku. Karena ... kamu adalah hid-- hidupku, Dinda."