
"Ah, ini bukan gubuk tua, nona. Ini rumah. Rumah yang sangat indah karena kesederhanaanya. Dan saya juga suka suasananya."
"Bagaimana menurut, Den Ilya? Apakah sependapat dengan saya, Den?" Pak Toha malah menanyakan hal itu pada Ilya. Yang artinya, Ilya sendiri sangat pahami dengan baik. Pak Toha ingin dia menerima tawaran Lula.
Karena tidak punya pilihan lain, Ilya pun terpaksa setuju. "Ya baiklah. Aku setuju dengan apa yang pak Toha katakan. Dan, kita bisa masuk sebentar untuk melepas lelah."
Begitulah selanjutnya mereka masuk ke dalam bersama. Dan, Lula pun menyuguhkan mereka minuman dingin yang sangat cocok untuk hari yang sedang panas.
Ilya terlihat sangat ragu untuk menikmati minuman tersebut. Sementara Lula yang tahu akan hal itu, langsung berucap dengan nada tenang. "Minumlah! Aku gak akan meracuni kalian. Karena kalian adalah pelanggan ku, jika aku racuni, nanti aku akan kehilangan pelanggan besar dong."
Ucapan yang bernada candaan itu terlihat mengalir begitu saja. Meskipun sebenarnya, Lula sudah sangat gugup sekarang. Tapi, semua itu mampu ia tahan.
"Tenang saja. Meskipun kita baru kenal, aku juga gak akan membunuh orang kok. Aku gak sejahat itulah." Lula kembali berucap sambil mengompres kakinya dengan handuk yang dibasahi air dingin.
Ucapan itu membuat Ilya merasa sedikit tidak nyaman. Ia pun memberanikan diri meneguk minuman yang Lula sediakan. Dan ... akhirnya, Ilya pun telah jatuh ke dalam jebakan yang telah Lula dan Diani sediakan.
__ADS_1
Beberapa saat setelah Ilya meminum air tersebut, dia pun merasa tidak nyaman. Pandangan Ilya mendadak berkunang-kunang. Mata Ilya pusing, hingga akhirnya, ia jatuh karena tak sadarkan diri.
Sementara pak Toha pula, dia ikut tersungkur setelah beberapa detik Ilya pingsan. Memang, obat bius yang ada dalam minuman Ilya lebih kuat dari pada minuman pak Toha. Karena itu, meskipun pak Toha yang telah meminum minuman tersebut duluan, tapi dia masih bisa bertahan. Sedangkan Ilya, baru seteguk ia minum, dia langsung terkapar tak sadarkan diri.
Melihat Ilya dan pak Toha sudah tidak sadarkan diri, Lula pun memanggil Diani yang sebenarnya sudah tidak sabar menunggu untuk menjalankan rencana berikutnya. Diani pun keluar dari persembunyian. Dia tersenyum lebar ketika melihat Ilya sudah ada dalam genggamannya.
"Bagus, Lula. Kerjaan kamu sungguh luar biasa kali ini. Sangat memuaskan. Tapi, jangan senang dulu. Karena kerjaan kamu masih harus berlanjut."
"Aku tahu. Cepat lakukan rencana berikutnya! Setelah itu, aku bisa benar-benar terbebas dari kamu dan masalah gila mu ini, Diani."
"Ah, baiklah. Terserah mau bicara apa saja. Yang jelas, saat ini aku sangat bahagia. Kerjaan kamu sungguh sangat memuaskan."
"Iya, nona." Salah satu anak buah berucap dengan tegas. Sementara yang lainnya hanya diam saja.
"Kalian tahu apa yang harus kalian lakukan sekarang, bukan?"
__ADS_1
"Tahu, nona."
"Bagus. Jangan salah melakukan pekerjaan. Dan, lakukan dengan cepat sesuai dengan yang sudah kita bicarakan sebelumnya. Aku tidak ingin mendengar sedikitpun kesalahan."
"Baik, Nona. Tenang saja. Serahkan semua pada kami, rencana nona akan berjalan dengan baik."
Mereka pun langsung bergerak setelah kode tangan dari Diani terlihat. Dengan cepat, mereka memindahkan tubuh Ilya dan pak Toha kembali ke dalam mobil. Selanjutnya, mobil itu pun mereka jalankan menuju hotel yang paling dekat dengan lokasi tersebut. Sementara Diani dan Lula, mengikuti mobil Ilya dari belakang.
Sungguh, semuanya tersusun dengan sangat rapi. Rencana itu sudah sangat matang Diani pikirkan. Karena dia memang tidak ingin sedikitpun kegagalan terjadi.
Selanjutnya, Diani membuat rekayasa seolah Ilya benar-benar sedang tidur bersama Lula. Diani yang paling pintar dengan akal liciknya itu akan membuat Dinda mempercayai apa yang sedang terjadi.
Beberapa foto pun sudah ia dapatkan. Foto yang terlihat begitu meyakinkan kalau Ilya benar-benar sedang bersama perempuan saat ini. Bahkan, tanggal di foto pun tak lupa ia sediakan agar Dinda benar-benar yakin kalau Ilya memang sedang bersama perempuan di waktu ini.
Kemudian, Diani kirim foto tersebut ke WA Dinda. Dan tidak lupa ia kirimkan lokasi dari foto tersebut. Satu hal yang membuat foto itu benar-benar terlihat meyakinkan adalah, Diani mengirim foto itu lewat nomor pak Toha.
__ADS_1
Dinda yang sekarang sedang berada di taman bunga, langsung mengalihkan perhatian ketika bunyi pesan masuk terdengar dari ponselnya. Dengan penasaran, dia pun membuka pesan tersebut dengan cepat.
Bak tersambar petir di saing bolong, tubuh Dinda langsung bergetar ketika pesan itu ia lihat. Bagaimana tidak? Pesan yang dikirim oleh orang terdekat Ilya sendiri, dengan pesan singkat pula yang tertulis dengan baik di chat berikutnya benar-benar menghancurkan hati Dinda.