Pernikahan Pelunas Hutang

Pernikahan Pelunas Hutang
*Bab 32


__ADS_3

"Din, kamu salah paham, sayang! Semua ini tidak benar. Apa yang perempuan ini katakan bohong, Dinda. Tolong dengarkan aku, biar aku jelaskan."


"Semua sudah jelas. Aku datang hanya ingin melihat seperti apa wajah suamiku saat bersama perempuan lain. Tidak perlu kak Ilya jelaskan lagi. Karena semuanya, tidaklah penting buat aku."


Setelah berucap kata-kata tersebut, Dinda langsung beranjak. Ilya yang tidak ingin Dinda pergi, berusaha keras untuk mencegahnya. Tapi sayang, dia terhalang kaki yang tidak bisa berjalan sampai membuatnya jatuh dari ranjang.


"Dinda tunggu! Tunggu, Din! Jangan pergi!"


Sakit karena jatuh tidak Ilya hiraukan. Dia berusaha menarik tubuhnya untuk tetap mengejar Dinda. Meskipun terlihat sangat menyedihkan dan terlihat tidak punya harga diri sedikitpun, Ilya tetap melakukan apa yang bisa ia lakukan. Karena yang terpenting saat ini adalah, istrinya.


Sementara Dinda sendiri, ia sangat terluka sebenarnya. Apalagi ketika tahu Ilya jatuh, terus berusaha mengejarnya. Namun, dia abaikan rasa kasihan itu karena perasaannya yang sangat sakit akibat apa yang sudah terjadi. Dia tetap melangkah meninggalkan Ilya meskipun bertolak belakang dengan hati nuraninya saat ini.


Untuk Lula pula, dia yang begitu kasihan akan Ilya, langsung menghampiri Ilya dengan cepat. Rasa bersalah menguasai hati Lula. Dia ingin bilang kalau semua ini hanya pura-pura. Tapi sayang, itu tidak bisa ia lakukan karena saat ini, dia sedang berada dalam ancaman Diani.


"Kak bangun dulu! Kamu tidak akan bisa mengejar istrimu karena .... "


Ucapan Lula langsung terputus karena Ilya yang langsung menepis tangan Lula dengan keras ketika tangan itu ingin menyentuhnya. Ilya dengan tatapan tajam menatap Lula yang kini ada di dekatnya.

__ADS_1


"Bia- dab! Siapa kamu yang begitu berani melakukan semua ini padaku, hah!" Ilya bicara dengan nada tinggi sambil mendorong tubuh Lula hingga tubuh mungil itu jatuh terduduk.


"Pergi! Jangan sampai aku berpikir untuk membunuhmu sekarang juga!" Ilya kembali berteriak.


Sepertinya, Ilya benar-benar sedang terbakar api amarah saat ini. Beruntung dia tidak bisa berjalan, jika tidak, mungkin ia akan membahayakan keselamatan Lula sekarang.


Sementara itu, Dinda yang sudah kembali ke mobil langsung meminta pak sopir untuk menjalankan mobil dengan cepat. Tangisan tidak bisa ia bendung lagi ketika mobil meninggalkan tempat di mana sebelumnya berhenti. Tidak Dinda hiraukan keberadaan pak sopir yang mungkin memperhatikan dirinya sekarang. Karena hatinya yang sakit, tidak bisa ia ajak kompromi.


'Tenanglah, Dinda. Kenapa kamu malah menangis sekarang, ha? Hubungan kalian palsu, bukan? Jadi, kenapa harus kamu menangis?' Dinda bicara dalam hati pada dirinya sendiri.


Sayangnya, kata hati itu bukan malah menenangkan Dinda. Melainkan, membuat Dinda semakin sedih lagi dan lagi. Hingga tak sadar, Dinda menangis dengan suara yang sedikit keras.


Pak sopir yang ada di depan, langsung melihat Dinda sekilas dari kaca mobil yang ada di depannya. "Mbak baik-baik saja?" Si sopir langsung berucap dengan nada prihatin.


"Hiks, maaf pak. Aku ... ba-- baik-baik saja."


Jelas-jelas dia sedang tidak baik-baik saja, tapi si sopir malah bertanya hal yang tidak perlu ditanyakan. Bukannya meringankan masalah, malah menimbulkan masalah lagi.

__ADS_1


Setelah pertanyaan itu, suasana kembali hening. Hanya suara mesin mobil yang terdengar. Dinda yang menangis sesenggukan, kini hanya menangis dalam diam saja. Sampai taksi online yang Dinda tumpangi tiba ke rumah kembali, Dinda masih saja menangis.


"Ini, pak. Terima kasih banyak," ucap Dinda menyodorkan uang pada si sopir.


Setelah itu, dia langsung meninggalkan taksi online tersebut dengan langkah lunglai. Hatinya yang sakit membuat jalan yang ia lalui terasa bergelombang. Karena itu, dia berjalan sangat lambat.


Mbok Yah yang sedari tadi mencari keberadaan Dinda pun segera menyongsong majikannya ketika melihat Dinda kembali. Tapi, saat melihat mata Dinda yang bengkak akibat menangis, si mbok langsung cemas.


"Non Dinda kenapa, Non? Kenapa malah menangis sekarang? Apa yang terjadi?" Dengan nada cemas, mbok Yah langsung menghujani Dinda dengan banyak pertanyaan.


"Mbok. Aku baik-baik saja. Tidak ada hal buruk kok."


"Tidak mungkin, non. Jika tidak ada hal buruk, non Dinda gak akan seperti ini. Non Dinda dari mana sih? Mbok cemas banget ketika pulang, mbok tidak menemukan non di rumah."


"Aku pergi ke hotel, Mbok. Melihat tontonan gratis yang sungguh luar biasa ... ah! Lupakan saja. Aku ingin segera ke kamar."


"Ta-- tapi, non. Non .... " Mbok Yah langsung menggantungkan kalimatnya. Dari nada bicara Dinda, dia langsung bisa menarik kesimpulan yang tidak enak untuk hatinya rasakan. Karena itu, mbok Yah memilih untuk langsung menghubungi suaminya yang ia anggap sedang bersama Ilya.

__ADS_1


__ADS_2