Pernikahan Pelunas Hutang

Pernikahan Pelunas Hutang
*Bab 48


__ADS_3

Beberapa hari berlalu dengan ketenangan untuk Dinda dan Ilya. Tapi sayang, tidak untuk Diani. Ketika dia tahu kalau Dinda dan Ilya tidak berpisah, tapi malahan semakin erat dan harmonis lagi hubungannya, Diani tak ubah harimau yang kelaparan. Dia pun mengamuk tak karuan karena kesal akan usahanya yang sudah berhasil, tapi malah gagal setelah berhasil.


"Bia_ dab! Kenapa mereka malah baikan lagi, hah! Bukankah mereka sudah bertengkar sebelum aku tinggalkan."


"Sial! Benar-benar sial! Semua ini karena pria tua bangka yang tidak pergi-pergi itu. Andai saja dia tidak meminta aku pulang kemarin, pasti semua tidak akan jadi begini."


"Agh!" Diani yang marah terus menghancurkan barang yang ada di dekatnya. Kamar yang awal bersih, kini langsung berserakan akibat amukan Diani tak tak terkendali.


Puas mengamuk dengan melampiaskan ke semua barang yang ada di kamarnya, Diani langsung pergi meninggalkan kamar tersebut. Tentunya, setelah ia berhasil menenangkan diri beberapa menit yang lalu.


"Beresin kamar itu, bik! Ingat, harus sudah beres setelah aku pulang." Diani berkata pada pembantu rumah tangga yang saat ini sedang menunduk karena takut.


"Ba-- baik, nona. Akan bibi bereskan."


"Dasar tidak berguna. Semuanya tidak berguna." Diani masih mengumpan sebelum dia benar-benar pergi meninggalkan rumahnya.

__ADS_1


Diani pun meninggalkan halaman rumah dengan menggunakan mobil. Saat ini, tujuannya adalah kantor tempat di mana Lula sedang bekerja.


"Sepertinya, aku harus memperalat perempuan itu lagi. Awas saja jika dia menolak apa yang aku katakan. Karena yang berkuasa itu aku, bukan dia, kan?"


"Mm ... akan aku buat hidupnya menyesal jika dia tidak mau membantu aku lagi. Persetan dengan janji yang susah aku perbuat. Karena yang namanya Diani itu, tidak akan pernah menegang janji," kata Diani lagi dengan senyum lebar di bibirnya.


Sepanjang perjalanan menuju kantor, Diani terus memikirkan rencana apa yang harus dia lakukan untuk Ilya dan Dinda. Di saat pikiran yang buntu, tiba-tiba bisikan jahat kembali memenuhi pikiran Diani.


"Apa aku singkirkan saja ya si perempuan yang saat ini sedang menjadi istri kak Ilya? Karena aku rasa, tidak ada cara lain selain cara menyingkirkan perempuan itu agar aku bisa bersama kak Ilya selamanya."


"Ya, benar. Aku singkirkan saja perempuan itu. Toh, aku sudah pernah melakukannya sekali, bukan? Jadi, tidak ada salahnya jika aku melakukan kejahatan besar itu satu kali saja lagi. Yah, meskipun aku sudah berjanji tidak akan melakukannya lagi kemarin."


Pikiran jahat itu semakin membesar dalam pikiran Diani. Kesalahan yang sudah ia lakukan seakan tidak pernah dia perbuat sebelumnya. Jangankan merasa bersalah, ingat kalau kesalahan besar itu adalah hal jahat yang pernah ia lakukan saja tidak. Diani yang jahat malah ingin melakukannya lagi. Kali ini, pada perempuan yang sudah jelas-jelas adalah istri sah Ilya.


Karena obsesi gila, dia jadi seperti orang yang tidak punya pikiran. Alias, orang gila pada umumnya. Hanya melakukan apa yang ingin dia lakukan tanpa berpikir, apa yang dia lakukan itu baik atau buruk.

__ADS_1


Penyakit jiwa yang ia alami mungkin karena terbiasa memiliki apa yang dia inginkan sejak dia masih kecil. Jadi, karena cara hidup yang terlalu dimanjakan, Diani malah punya penyakit obsesi yang kuat. Dan, harus mendapatkan apa yang ia inginkan bagaimanapun caranya. Inilah akibat dari pola asuh yang salah.


Tiba di kantor tempat Lula bekerja, Diani malah langsung nyelonong ke ruangan Lula. Yang saat ini, Lula sudah menjabat pada posisi yang lebih tinggi dari sebelumnya. Posisi yang selama ini Lula inginkan.


Karena keberhasilan Lula dalam menjalankan tugas yang Diani berikan waktu itu, maka Lula bisa naik jabatan seperti saat ini. Diani menepati janjinya pada Lula.


Namun sebenarnya, Lula merasa sangat tidak nyaman dengan apa yang ia miliki saat ini. Karena apa yang dia dapatkan ini, berkat dari menyakiti orang lain. Karena itu, dia merasa sangat tidak enak hati meskipun dia menjalankan kehidupan barunya di tempat kerja.


Saat mereka bertemu, Lula sedang merenung di depan laptop. Ketika dia melihat wajah Diani, dia langsung merasa tidak nyaman.


"Kamu? Untuk apa datang? Apa yang ingin kamu bicarakan padaku lagi? Bukankah aku sudah bilang, kalau aku tidak ingin bertemu kamu lagi, Diani?"


Diani langsung mengukir senyum lebar sambil berjalan mendekat ke arah meja Lula.


"Oh, dasar manusia yang tidak tahu berterima kasih kamu, Lula. Sudah aku berikan kedudukan yang nyaman, eh malah tidak ingin bertemu. Sungguh, bikin hati ini jadi sangat kesal."

__ADS_1


"Aku ada di sini bukan karena tanpa alasan, bukan? Semua karena aku yang telah melakukan apa yang kamu inginkan. Haruskah aku mengatakan pada semua orang kalau kamu .... "


__ADS_2