Pernikahan Pelunas Hutang

Pernikahan Pelunas Hutang
*Bab 53


__ADS_3

Ilya tidak menjawab apa yang dua orang itu katakan. Tapi, tangannya dengan lincah mengutak-atik gawai yang saat ini ada di dekatnya. Kemudian, gawai itu dia dekatkan ke kupingnya setelah beberapa waktu mengutak-atik dengan perasaan tak sabaran.


Beruntung, panggilan itu langsung tersambung. Dan untungnya, Dinda langsung menjawab panggilan tersebut dengan perasaan yang masih panik.


"Ha-- halo ... hiks, kak Ilya. Tu-- tunggu! Siapa ini?"


"Dinda, sayang. Kamu di mana? Kenapa kamu nangis sekarang? Lalu, kenapa kamu malah bertanya? Ini aku, Dinda. Suami kamu."


Suara itu langsung membulatkan mata Dinda. Mendadak, perasaan tak percaya langsung memenuhi hati Dinda saat ini. Sekaligus, dia juga merasa sangat amat bahagia dengan suara yang sepertinya sangat baik-baik saja sekarang.


"Kak Ilya. Ini beneran kamu, kak? Kamu baik-baik aja, kak Ilya?"


"Sayang aku baik-baik aja. Kamu di mana? Kenapa suara kamu barusan terdengar sangat amat sedih, ha?"


Dinda pun langsung menjelaskan apa yang sudah terjadi. Hal itu langsung membuat Ilya tak habis pikir dengan seseorang yang baru saja menghubungi Dinda. Karena itu, Dinda di minta untuk mengentikan mobil secepatnya.


"Lakukan apa yang aku katakan, sayang. Cepat menepi dari jalan raya yang sedang kalian lewati. Mungkin, ini bukan hanya tingkah iseng dari seseorang. Mungkin ada yang ingin menyakiti kamu. Karena itu, diam di sana. Jangan keluar dari mobil."


"Maksud kak Ilya?"


"Jangan tanya maksud lagi. Cepat lakukan apa yang aku katakan. Berhenti sekarang juga," ucap Ilya dengan nada yang agak tinggi.

__ADS_1


Sejujurnya, Dinda agak kebingungan dengan apa yang Ilya katakan. Tapi, dia langsung melakukan apa yang Ilya perintahkan. Dan, saat ingin menepi, saat itulah truk yang Diani sediakan untuk menabrak mobil Dinda lewat.


Keberuntungan yang sangat luar biasa. Mobil yang Dinda kendarai hanya tersenggol truk tersebut sedikit saja. Sementara truk yang hilang kendali karena tidak mendapatkan lawan untuk bertabrakan pun langsung menabrak tiang listrik yang ada tak jauh dari pinggir jalan.


Seketika, kekacauan pun terjadi. Tiang listrik yang tumbang akibat hantaman keras langsung memicu sengatan listrik yang besar. Sekitar tempat tersebut sangat berbahaya. Karena itu, jalan yang terbilang cukup sepi itu akhirnya mendatangkan banyak petugas dari berbagai pihak.


Dinda yang menyaksikan semua itu hanya bisa diam terpaku. Tak lupa, dalam hati ia mengucapkan syukur yang tak henti-hentinya akan keselamatan yang sudah diberikan untuk dirinya.


Beberapa waktu berlalu, suasana di sana semakin ramai saja. Mereka berusaha mengevakuasi mobil, memutuskan aliran listrik , dan lain sebagainya.


Ilya yang cemas, akhirnya tiba di tempat tersebut. Sementara Rafa dan Lula juga ikut datang bersama Ilya. Mereka yang sangat cemas akan keadaan Dinda, langsung menghampiri Dinda dengan cepat.


"Sayang, apa kamu baik-baik aja." Ilya berucap sambil mendekat ke arah Dinda yang saat ini duduk kembali ke dalam mobil.


Melihat kedatangan Ilya, Dinda pun langsung menghambur ke dalam pelukan sang suami. Pelukan hangat yang selalu menenangkan hatinya.


"Kak Ilya. Aku ... hiks, takut kak. Untung ... kamu meminta aku berhenti. Jika tidak .... " Dinda berucap sambil menangis dengan keras.


"Sudah, sayang. Jangan menangis lagi. Ada aku di sini, dan saat ini, kamu sudah baik-baik aja. Tenang ya." Ilya berucap lembut sambil membelai lembut punggung Dinda.


Tidak terlalu mudah untuk membuat Dinda tenang. Tapi beruntung, akhirnya dia bisa tenang juga. Ilya memberikan ia minum. Lalu, mengajaknya kembali ke mobil.

__ADS_1


Namun, saat Dinda melihat wajah Lula, dia langsung merasa kesal bukan kepalang. Wajahnya yang sudah tenang, kini mendadak tegang kembali.


"Kamu!"


"Apa ini, kak? Jelaskan padaku sekarang juga!"


Dinda berucap dengan nada tinggi sambil menatap tajam Ilya dan Lula secara bergantian.


"Sayang, tenang dulu yah."


"Bagaimana aku bisa tenang, kak Ilya? Kamu bilang ingin bertemu Rafa, kan? Tapi ... dia?"


"Iya, aku memang bertemu Rafa. Itu Rafa nya."


Ilya tetap mempertahankan ketenangan dan kelembutannya. Ilya maklum jika Dinda mendadak jadi melesak-ledak seperti ini. Selain dia sudah pernah tersakiti, dia juga baru saja mengalami hal buruk yang sangat mengerikan. Karena itu, dia agak terlihat tidak seperti dirinya yang sebelumnya.


"Lalu? Kenapa dia ada di sini?"


"Sayang. Tenang yah. Kita bisa bicara ini di dalam mobil saja."


Ucapan itu masih membuat Dinda merasa enggan. Tapi Ilya yang lembut, kini langsung memegang hangat tangan Dinda.

__ADS_1


"Ayo, sayang! Jangan berpikir yang buruk dulu yah. Aku akan jelaskan sekarang juga. Yuk Masuk!"


__ADS_2