Pernikahan Pelunas Hutang

Pernikahan Pelunas Hutang
*Bab 43


__ADS_3

"Kamu beneran gak ingin kenyataan aku ada di sini, kak? Kalau begitu, aku pergi saja sekarang. Biarkan kamu tetap terhanyut dalam mimpi indah mu itu."


Seketika, ucapan itu membuat Ilya langsung menoleh ke arah asal suara. Dengan tatapan mata yang berbinar-binar karena begitu bahagia, Ilya langsung berusaha bangun dari baringnya.


"Dinda." Ilya memanggil dengan nada sangat senang.


"Eh ... kak Ilya jangan bangun!" Dinda berucap sambil berjalan cepat setengah berlari untuk menghampiri Ilya. "Kamu masih sakit, tidak boleh bangun sekarang."


"Dinda, ini nyata?" Ilya tidak mendengarkan apa yang Dinda katakan. Ia malah sibuk menatap wajah istri tercinta yang sudah sangat ia rindukan karena telah pergi meninggalkannya selama beberapa hari.


Ilya juga tak lupa segera meraih tangan Dinda. Dia cium tangan itu berulang kali. Seperti orang yang sedang kelaparan disuguhkan makanan, seperti itulah Ilya saat bertemu Dinda.


Tak puas hanya mencium tangan Dinda dalam keadaan berbaring, Ilya masih tetap memaksakan diri untuk bangun dari baringnya. Meskipun Dinda melarang, tapi ia tetap ingin melakukan apa yang benaknya ingin lakukan.


"Jangan bangun dulu, kak. Kamu baru sadar dari pingsan beberapa menit yang lalu. Aku bisa marah jika kamu sakit lagi."

__ADS_1


"Aku gak papa kalo kamu marah karena aku sakit. Karena kemarahan itu tidak murni hanya kemarahan saja. Tapi, karena kamu cemas akan keadaanku. Tapi, aku tidak bisa jika kamu pergi meninggalkan aku. Karena itu, aku sangat merindukan kamu."


Pada akhirnya, Ilya bangun juga. Dinda tidak bisa lagi menghalangi niat Ilya yang besar. Setelah berhasil bangun, Ilya langsung memeluk tubuh Dinda dengan erat.


Ilya lebih mirip bayi yang tidak ingin lepas dari mamanya. Hal itu membuat mbok Yah dan mang Mamat tersenyum. Lalu, pamit dan segera meninggalkan kamar tersebut untuk memberi ruang buat Ilya dan Dinda berduaan saja.


"Kak Ilya apa-apaan sih, kak? Main peluk aja. Malu ih sama mang Mamat dan mbok Yah." Dinda berucap dengan nada sedikit kesal. Tapi, tidak benar-benar kesal karena sebenarnya, dia tidak keberatan dengan pelukan itu.


"Aku rindu kamu, istriku. Jangan pergi lagi yah. Aku mohon," ucap Ilya malah tidak menghiraukan apa yang Dinda katakan.


"Berjanjilah, Dinda. Jangan pergi walau bagaimanapun keadaannya. Aku tidak sanggup jika hidup tanpa kamu sekarang. Aku bisa gila jika kamu tinggalkan, Dinda."


Ilya langsung mengangkat wajahnya untuk melihat Dinda. "Marahlah! Marahlah sesuka hati jika kamu kecewa padaku. Tapi aku mohon satu hal sama kamu, jangan pergi dari aku. Karena kepergian mu sama artinya dengan kepergian jiwaku, Dinda."


"Kak Ilya ngomong apa sih? Jangan ngomong yang tidak-tidak. Aku gak suka mendengarkan kamu ngomong hal yang tidak baik seperti itu."

__ADS_1


"Aku ngomong yang sebenarnya, Dinda. Aku tidak sanggup hidup tanpa kamu. Karena itu, tolong jangan pergi lagi. Jangan tinggalkan aku sendirian apapun alasannya karena aku benar-benar tidak akan sanggup."


Dinda terdiam sambil menatap Ilya. Sementara Ilya sibuk mencium tangannya dengan penuh perasaan. Tapi, dalam hati Dinda berkata. 'Apakah sebegitu dalamnya cinta kamu padaku, kak Ilya? Apakah semua itu benar? Jika iya, aku akan memberikan rasa yang sama dengan yang kamu punya. Karena sebelumnya aku sudah berjanji untuk hidup denganmu buat selama-lamanya.'


....


Begitulah selama beberapa hari di rumah sakit. Ilya terus saja menempel pada Dinda. Jangan ditinggalkan sebentar, dia pasti akan mencari Dinda dengan perasaan takut. Ternyata, mantan playboy itu benar-benar telah menemukan cinta dalam hatinya saat ini. Karena itu, saat cinta itu hampir saja pergi, trauma yang kuat pun langsung ia rasakan.


Karena rasa takut itu pula, Ilya jadi terlihat sangat manja dengan Dinda sekarang. Apa-apa harus Dinda yang menyiapkannya. Bahkan, dia yang tidak pernah terlihat saat minum obat, kini malah harus Dinda sendiri yang memberikannya.


Dan ... hingga akhirnya Ilya diizinkan pulang ke rumah. Ternyata, dia dibolehkan pulang lebih awal dari pada hari yang telah ditentukan. Semua itu karena kondisinya membaik dengan sangat cepat. Lebih cepat dari yang dokter perkirakan. Semua itu berkat Dinda. Karena Dinda adalah obat paling baik bagi Ilya.


Saat mereka tiba ke rumah, Dinda langsung membawa Ilya masuk ke kamar untuk beristirahat. Tapi, dia langsung terkejut dengan suasana kamar yang baru ia tinggali selama beberapa hari, tapi sudah berubah hampir lima puluh persen.


"Kak, ini beneran kamar kita?" Dinda bicara sambil mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan kamar tersebut.

__ADS_1


"Iya. Ini kamar kita, Sayang. Kenapa? Apa kamu tidak suka dengan semua yang ada di kamar ini? Jika tidak suka, aku akan minta mbok Yah menggantikan ke bentuk semula. Namun ... hanya bisa di ganti sebagian saja. Karena ... ada sebagian barang yang sudah rusak. Tidak bisa kita pakai lagi."


__ADS_2