
Bagaimana tidak? Dia yang sudah pernah trauma akan sang suami yang sakit parah, kini langsung kelabakan akibat kabar tersebut.
Dinda yang panik tak bisa berpikir hal jernih sedikitpun. Karena itu, mana sempat dia mencurigai kebenaran dari panggilan yang baru saja ia terima.
Dengan tangisan yang pecah ruah, Dinda langsung menanyakan alamat lengkap rumah sakit tersebut. Dan, segera meninggalkan rumah setelah mendapatkan taksi online yang dengan susah payah ia pesan karena air mata yang menghalangi matanya untuk melihat.
Kepanikan Dinda membuat rencana Diani berjalan mulus. Karena itu, Diani pun tertawa bahagia.
Sebenarnya, jika saja Dinda bisa berpikir dengan baik, maka rencana ini tidak akan berjalan lancar. Karena Diani tidak tahu Ilya sebenarnya ada di mana.
Jadi, ia main asal sebut nama rumah sakit saja. Lagipula, jika saja Dinda langsung menghubungi Ilya setelah ia mendapat kabar barusan, maka dia bisa langsung tahu akan kabar itu adalah bohong semata. Tapi sayangnya, kepanikan Dinda menjadikan semuanya berantakan.
Sepanjang perjalan, Dinda terus menangis dan merengek meminta si sopir untuk menjalankan mobil tersebut dengan cepat lagi dan lagi. Sementara itu, di tempat lain, Ilya dan Rafa sudah bertemu. Namun, Ilya langsung terkejut karena seseorang yang datang bersama Ilya.
"Kamu!" Ilya berucap dengan nada tinggi ketika ia melihat orang yang datang bersama Rafa.
Belum juga ngobrol satu patah katapun, Ilya langsung saja menyampaikan apa yang ia rasakan saat melihat perempuan yang Rafa maksudkan sebelumnya. Yah, siapa lagi dia kalau bukan Lula.
Sebelumnya, Rafa ingin meminta persetujuan Ilya untuk memasukkan orang ke perusahaan yang sedang ia jalankan. Karena itu, mereka bertemu hari ini di cafe yang cukup terpencil di sudut kota.
__ADS_1
Saat bertatap muka, tentu saja Ilya bisa langsung mengenali Lula meskipun perempuan itu tampil dengan wajah yang berbeda. Karena Ilya punya ingatan yang kuat, karena itu, satu kali lihat saja, dia bisa langsung kenal.
"Ka-- kamu ... orang itu adalah kamu?" Lula berucap dengan nada gugup. Karena saat ini, ia tak kalah kaget dari Ilya.
Ilya pun langsung mengukir senyum lebar. Senyuman yang langsung membuat Lula merasa ngeri karena dibalik senyuman itu ada tatapan tajam yang menusuk dengan keras.
"Ya, aku orangnya. Kenapa? Kamu kaget ya?"
"Ti-- tidak kok. Aku ... ti-- tidak kaget." Lula berusaha menyanggah apa yang ia rasakan. Padahal sejujurnya, dia memang sedang sangat kaget dan rasanya, ia ingin segera menghilang dari pandangan Ilya.
"Heh ... akhirnya, kamu aku temukan juga. Setelah sekian lama aku mencari perempuan naif seperti kamu, sekarang kamu malah menampakkan batang hidung mu sendiri padaku. Sungguh keberuntungan yang luar biasa, bukan?"
Ketika melihat wajah kedua orang yang ia anggap tidak saling kenal itu sedang tidak baik-baik saja, Rafa pun langsung berucap.
"Kalian sudah saling kenal ya?"
"Tidak (ya)." Lula dan Ilya berucap serentak. Jika Lula berusaha menutupi perjalanan hidup masa lalu yang sangat buruk menurutnya, Ilya malah ingin membuka lebar apa yang sedang ingin Lula tutupi.
Sementara Rafa yang mendengar dua jawaban berbeda itu pun langsung memasang wajah bingung. "Tunggu deh. Ini jawaban yang mana yang benar yah? Kak Ilya, apa kakak beneran kenal dengan Lula?"
__ADS_1
Ilya langsung tersenyum menyeringai kembali.
Sementara Lula, dia yang sedang ketakutan, hanya bisa menunduk untuk menyembunyikan wajahnya.
"Aku kenal dia, Rafa. Dia perempuan mura- han yang sudah menjebak aku untuk tidur dengannya beberapa waktu lalu. Yang membuat hubungan aku dengan istriku hampir saja berakhir."
"Apa?" Rafa berucap dengan nada melemah.
Karena sejujurnya, penjelasan Ilya sangat membuat ia merasa kecewa pada Lula.
Namun, Lula yang merasa kalau kesalahan tidak murni datang dari dirinya, langsung berniat untuk menjelaskan semua yang sudah ia lakukan. Dia bangun dengan cepat, lalu menyentuh tangan Rafa. Berharap, Rafa percaya dengan apa yang akan ia katakan.
"Rafa dengar aku! Semua yang terjadi bukan atas mau ku, Raf. Aku diancam oleh Diani .... "
"Diani?" Ketika nama Diani Lula sebut, maka reflek, Ilya langsung memotong perkataan Lula dengan cepat. "Diani yang mana?"
Merasa bahwa pertanyaan itu akan memberikan ia harapan untuk bisa dipercayai oleh orang lain, Lula langsung bersemangat menjelaskan semuanya. Tak lupa, ia perlihatkan juga foto Diani yang untuknya sempat dia simpan beberapa waktu yang lalu.
"Diani. Jadi, semua yang sudah terjadi karena dirinya?" Ilya berucap dengan nada kesal akan Diani saat ini.
__ADS_1
"Benar, kak Ilya. Semua karena ulah Diani. Dia inginkan kak Ilya menjadi miliknya. Karena itu, dia memperalat aku untuk melakukan semua yang ia inginkan. Aku dijadikan alat agar dia bisa memisahkan kak Ilya dengan istri kak Ilya."