Pernikahan Pelunas Hutang

Pernikahan Pelunas Hutang
*Bab 47


__ADS_3

"Kak Ilya. Jangan bahayakan dirimu. Jangan karena aku kamu .... "


Ucapan Dinda langsung tertahankan karena tangan Ilya yang langsung menyentuh bibir Dinda dengan lembut. Lalu, Ilya pun langsung mengukir senyum manis untuk sang istri tercinta. Dengan jarak yang hanya beberapa senti saja.


"Semua demi kamu adalah hal terindah yang pernah aku rasakan dalam hidup ini, Dinda. Karena itu, jangan cemas akan diriku, karena aku pasti akan baik-baik saja asal kamu ada di sampingku."


"Yang bahaya itu saat kamu gak ada di dekat aku, sayang." Ilya berucap lagi dengan nada menggoda sambil mencolek hidung Dinda.


"Dasar kamu ya, kak. Mulai bisa bermain-main dengan menggoda aku sekarang ya," ucap Dinda dengan wajah merona dan tersipu malu.


....


Waktu terasa sangat amat cepat berlalu. Keluarga tante Dinda pun sudah pulang meninggalkan rumah Dinda tadi pagi. Sore harinya, Dinda diajak Ilya datang ke taman yang seharusnya menjadi kejutan terindah bagi Ilya untuk Dinda.


Tapi malangnya, karena ulah Diani, taman itu sedikit berantakan. Namun, Dinda cukup merasa puas dengan taman tersebut. Meski terkesan tak beraturan, tapi cukup indah. Karena tak beraturan itu sendiri memberikan kesan tersendiri untuk taman tersebut. Seperti ... bunga liar yang tumbuh di hutan lepas.


Ketika Ilya sibuk ngobrol di telpon, Dinda pun memilih menikmati suasana taman yang cukup memukau. Dia terus berjalan hingga akhirnya berada di perbatasan taman tersebut. Di sana, Dinda bertemu perempuan tua yang dulunya adalah pemilik dari tanah yang sekarang Ilya jadikan taman.

__ADS_1


Perempuan tua yang terkesan sangat ramah itupun mengajak Dinda ngobrol ringan. Mulai dari bertanya sedang apa, hingga pada akhirnya, cerita Ilya ia keluarkan dengan penuh penghayatan.


"Oo ... jadi kamu istri dari si tampan itu?"


"Iya, Nek. Saya istrinya," ucap Dinda sambil mengukir senyum kecil.


"Cantik. Pantas saja dia begitu bersikeras untuk membuat kamu bahagia. Mm ... sebenarnya, kamu beruntung punya suami seperti dia. Punya keinginan yang kuat untuk membuat orang yang ia cintai bahagia. Terlepas dari kekurangan yang dia miliki. Nenek rasa, dia pria yang sempurna."


Selanjutnya, tanpa Dinda minta, si nenek malah bicara panjang lebar tanpa henti. Dia ceritakan semua yang sudah terjadi dengan Ilya selama ini. Mulai dari usaha Ilya untuk mendapatkan tanah yang dia miliki, sampai usaha Ilya untuk membangun taman tersebut. Hingga, seseorang menghancurkan taman itu dan membuat Ilya sangat sedih.


Hal itupun membuat Ilya harus menderita sendirian.


'Kasihan sekali kak Ilya. Siapa manusia yang begitu jahat sampai tega melakukan semua ini? Tidak, kali ini aku tidak boleh percaya dengan apa yang terjadi. Aku hanya harus percaya apa yang kak Ilya katakan saja.' Begitulah Dinda bertekad dalam hati.


Sementara itu, di sisi lain, tepatnya di bandara kota tersebut, seorang perempuan baru saja keluar dari pesawat. Dia tak lain adalah Diani.


Ya, Diani tidak bisa menikmati hasil kerjaannya karena setelah usaha Lula berhasil memfitnah Ilya, dia langsung dapat panggilan dari papanya. Sang papa meminta Diani untuk pulang secepatnya.

__ADS_1


Awalnya, Diani tidak ingin kembali ke luar negara. Tapi karena si papa mengancam dengan hak warisan yang selama ini masih belum Diani terima atas namanya, karena itulah dia tidak bisa berkutik.


"Dasar rubah tua yang licik. Dia bisa menahan aku untuk menjaga ia sakit selama beberapa hari. Sungguh manusia yang sangat kurang ajar." Diani bicara sambil menyeret kopernya. Lalu, dia pun masuk ke dalam mobil yang sepertinya sudah menunggu kehadiran Diani sejak tadi.


'Huh ... jika bukan karena harta warisan yang masih belum tertulis atas nama aku. Dan, jika saja papa tidak mengancam untuk menyumbangkan semua harta yang ia miliki. Aku pasti tidak akan sudi untuk pulang kemarin.'


'Lagian, rencana aku untuk memiliki kak Ilya itu hanya tinggal selangkah saja lagi. Tinggal aku dekati, lalu aku jadi penyelamat di tengah kesepian yang kak Ilya rasakan. Otomatis, dia pasti bisa aku miliki secepatnya.'


"Ah ... tapi gara-gara si rubah tua itu, aku malah tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang. Aku malah sudah kehilangan cara. Karena mungkin, ini sudah terlambat untuk datang dan menjadi penyelamat untuk dia," ucap Diani dengan nada agak tinggi karena terlalu kesal.


Pak sopir yang mendengarkan ucapan tersebut langsung terkaget. Tapi sayangnya, tidak bisa berkata apa-apa selain diam sambil melirik Diani dari kata depan.


_____________________________________________


*Catatan.


"Maaf teman-teman, hari ini cuma bisa up satu bab aja. Kecapean banget soalnya. Ada hajatan di rumah kerabat, jadi harap maklum yah. Terima kasih banyak semuanya .... "

__ADS_1


__ADS_2