Pernikahan Pelunas Hutang

Pernikahan Pelunas Hutang
*Bab 52


__ADS_3

"Benar, kak Ilya. Semua karena ulah Diani. Dia inginkan kak Ilya menjadi miliknya. Karena itu, dia memperalat aku untuk melakukan semua yang ia inginkan. Aku dijadikan alat agar dia bisa memisahkan kak Ilya dengan istri kak Ilya."


Ilya menatap lekat wajah Lula. Ia berusaha mencari kebohongan dari ucapan Lula barusan. Tapi sepertinya, mata yang saat ini sedang berkaca-kaca itu tidak sedikitpun menyimpan kebohongan.


"Kamu sudah bicara dengan jujur?" Rafa pula angkat bicara. Sementara Ilya masih tenang dengan diamnya.


"Kamu tidak percaya aku, Raf? Bukankah kamu sendiri yang menolong aku dari kejaran orang suruhan Diani? Bukankah alasan kita bertemu karena aku yang sedang dalam bahaya waktu itu?"


"Oke-oke. Aku percaya padamu. Maafkan aku," ucap Rafa sambil memegang tangan Lula dengan lembut.


"Ehem. Aku masih ada di sini." Ilya pula berucap dengan nada kesal yang ia buat-buat.


Rafa dan Lula pun langsung memasang wajah malu selama beberapa saat. Setelah itu, mereka kembali bicara serius dengan pokok pembahasan yang masih sama. Yaitu, Diani dan semua ulah jahat yang sudah terjadi dalam kehidupan Ilya.


"Aku tidak habis pikir, kenapa Dini begitu ambisius untuk mendapatkan aku sampai dia rela melakukan segala cara agar bisa memisahkan aku dengan Dinda."


"Sebenarnya, sejak dulu juga dia sudah penuh dengan ambisi untuk memiliki mu, kak Ilya."

__ADS_1


"Maksud kamu?" Ilya langsung menatap Lula dengan wajah bingung.


Lalu, Lula pun menjelaskan apa yang tidak sengaja ia temukan di dalam ponsel Diani. Semua yang ia lihat itu adalah bukti tentang kejadian beberapa tahun yang lalu. Tepatnya, itu adalah penyebab kecelakaan yang Ilya alami.


"Apa!? Kamu bicara apa barusan!? Jangan sembarangan bicara kamu. Karena ini adalah hal yang besar yang tidak pernah bisa aku lupakan selama ini." Ilya kaget bukan kepalang.


Beruntung, cafe itu sangat sepi, jadi tidak ada yang merasa terganggu akan apa yang dia katakan. Hanya pelayan cafe saja yang terlihat kaget dengan apa yang baru saja terjadi.


Sementara Lula yang sudah mengira akan reaksi Ilya saat apa yang ia katakan itu sampai ke kuping Ilya, tidak merasakan rasa terkejut sedikitpun. Malahan, dia sudah bersiap-siap untuk memberikan penjelasan yang lebih akurat lagi untuk Ilya.


"Kak Ilya masih tidak percaya dengan apa yang aky katakan? Aku tidak pernah berbohong dengan apa yang aku ucapkan. Melainkan, aku berbohong saat aku dalam tekanan saja. Seperti waktu itu aki berbohong padamu. Dan .... "


"Tunggu sebentar! Aku angkat telepon dulu," ucap Ilya sambil melihat layar ponselnya.


"Silahkan, kak." Rafa berucap pelan.


Ilya tidak pergi ke mana-mana. Dia langsung saja menjawab panggilan di depan Rafa dan Lula. Karena itu adalah panggilan dari mbok Yah yang tiba-tiba memberikan perasaan tidak enak untuk hati Ilya.

__ADS_1


"Halo, mbok."


"Den Ilya. Apa non Dinda pergi bareng Den Ilya sekarang? Soalnya, saat mbok pulang, non Dinda tidak sedang berada di rumah."


"Apa!? Dinda tidak ada di rumah?"


"Iya, Den. Rumah kosong saat mbok pulang. Mbok bertanya karena mbok merasa tidak enak hati. Tadinya kan, non Dinda bilang kalau dia gak enak badan. Jadi gak ikut den Ilya pergi. Iya, kan? Karena itu, mbok jadi bingung saat non Dinda gak ada di rumah."


"Ah! Ya Tuhan." Ilya langsung kelabakan akibat perkataan mbok Yah barusan. "Aku tidak bersama Dinda, mbok. Tolong temukan Dinda. Aku mendadak merasa tidak enak hati."


"Baiklah, Den." Dengan ucapan itu, maka panggilan Ilya bersama mbok Yah langsung terputus.


Kepanikan yang terlihat dengan sangat jelas di wajah Ilya membuat Rafa dan Lula merasa penasaran. Karena itu, mereka segera menanyakan prihal yang baru saja terjadi pada Ilya.


"Istriku tidak ada di rumah. Karena itu, aku harus pergi sekarang juga," ucap Ilya dengan wajah yang masih sangat cemas.


"Ah! Ya Tuhan. Ke mana istri kak Ilya pergi? Oh iya, apa si mbok sudah menghubungi istrinya kak Ilya tadi?" Rafa berucap sambil bertukar pandang dengan Lula.

__ADS_1


"Iya, kak. Coba hubungi nomornya dulu. Mana tahu dia pergi keluar sebentar untuk ke mall atau ke minimarket kali." Lula ikut berucap.


Ilya tidak menjawab apa yang dua orang itu katakan. Tapi, tangannya dengan lincah mengutak-atik gawai yang saat ini ada di dekatnya. Kemudian, gawai itu dia dekatkan ke kupingnya setelah beberapa waktu mengutak-atik dengan perasaan tak sabaran.


__ADS_2