Pernikahan Pelunas Hutang

Pernikahan Pelunas Hutang
*Bab 24


__ADS_3

Mata Lula pun langsung membulat karena ucapan Diani barusan. Sungguh, dia sangat-sangat tidak percaya kalau dia akan diancam seperti itu oleh orang lain. Karena orang yang awalnya dia anggap baik, ternyata sungguh sangat menakutkan kenyataannya.


"Apa ini, Diani? Kamu mengancam aku?"


"Ah, aku tidak mengancam kamu, Lula. Tapi, hanya memberikan sedikit peringatan saja. Karena aku tidak suka dibantah sebenarnya. Aku juga tidak pernah suka dengan kegagalan. Karena itu, sekali kamu gagal, kamu harus membayar akibat dari kegagalan kamu itu dengan kerja yang lebih keras lagi."


"Gila. Aku merasa kamu ini manusia yang tidak waras, Diani. Aku juga merasa, misi kamu sebenarnya bukanlah untuk balas dendam. Melainkan, ada tujuan lain yang sedang kamu sembunyikan. Kamu mengejar sesuatu yang kamu inginkan. Dan itu bukan balas dendam."


Bukannya terkejut atau kesal akan ucapan Lula barusan, Diani malah bahagia sambil bertepuk tangan. "Yuhu ... seratus untuk kamu, Lula. Kamu sungguh sangat pintar menebak. Tapi, itu bukan urusan kamu. Karena tugas kamu hanya satu. Pisahkan Ilya dengan istrinya. Itu saja sudah. Jadi, jangan campuri urusan aku yang lainnya."


"Jika kamu ingin hidup bebas seperti sebelumnya, maka lakukan apa yang aku minta. Setelah itu, kamu akan terbebas dari aku. Diani, perempuan yang kamu anggap gila ini." Diani bicara sambil menyunggingkan bibir membuat Lula hanya bisa menatapnya dengan tatapan tajam.


'Iya. Dia beneran perempuan gila. Aku cukup menyesal telah menjalin kerja sama dengan dia sebelumnya. Tapi, sekarang tidak ada pilihan lain untuk aku. Mundur tidak bisa, karena itu aku terpaksa terima permintaan Diani meski dengan berat hati.' Lula bicara dalam hati sambil terus memberikan tatapan tajam ke arah Diani.

__ADS_1


Sementara itu, Diani pun bangun dari duduknya. Lalu, dia tepuk pelan bahu Lula. "Jangan pikiran hal lain lagi, Lula. Lakukan apa yang aku inginkan. Kamu tidak akan rugi melakukannya. Malahan, kamu akan diuntungkan. Karena selain bisa membalas dendam, kamu juga bisa mendapatkan jabatan tinggi di tempat kamu bekerja."


"Kurang baik apa lagi aku, coba? Jabatan aku berikan padamu sebagai imbalannya. Jadi, berterima kasih sajalah karena kamu sudah bertemu orang sebaik aku."


"Aku lebih bersyukur jika sebelumnya kita tidak pernah bertemu, Diani."


"Ah, sayangnya sudah terlambat. Pertemuan sudah terjadi bukan? Kamu tidak bisa kabur dari aku. Lakukan saja apa yang aku minta. Karena selain melakukan, maka tidak ada pilihan lain." Diani berucap enteng seperti tanpa beban.


"Baik. Aku setuju." Diani pun tersenyum lebar karena keinginannya sudah diterima oleh Lula.


"Mm ... karena kamu sudah setuju, maka hal pertama yang harus kamu lakukan adalah mengganggu Ilya. Goda Ilya yang kini sedang menyiapkan kejutan untuk istrinya. Buat istrinya salah paham dengan niat Ilya. Bagaimana caranya, terserah padamu. Yang jelas, bikin hubungan mereka rusak. Paham?"


"Baik. Akan aku coba melakukan apa yang kamu katakan. Setelah itu, apa lagi yang harus aku kerjakan? Karena aku tidak ingin melihat wajah kamu lagi setelah hari ini."

__ADS_1


"Kata-kata yang tidak berperasaan, Lula. Tapi, aku suka kamu yang terlalu berterus terang ini. Kamu sepertinya bisa aku andalkan. Jadi, aku percaya sepenuhnya padamu."


"Jangan banyak basa-basi, Diani. Jawab pertanyaan ku atau katakan apa saja yang ingin kamu katakan lagi sekarang. Lalu setelah itu, kamu pergi sesegera mungkin dari rumahku. Karena ada banyak hal yang harus aku lakukan sekarang."


Dan lagi, bukannya marah, Diani malah tersenyum lebar. Hal itu cukup membuat Lula salut akan hati batu yang Diani miliki. Tidak sedikitpun merasa sakit hati atas kata-kata yang diucapkan. Hal itu yang membuat Lula tak habis pikir.


Sementara Diani pula, ia masih bersikap tenang. Lalu, berucap dengan nada santai untuk menjawab apa yang Lula katakan sebelumnya.


"Tidak ada hal lain yang harus kamu lakukan. Karena setelah tugas itu, aku yang mengambil alih semuanya, Lula. Jadi, tugasmu hanya sesederhana itu saja."


Ucapan Diani membuat Lula merasa tidak yakin. Tapi, dia pun tidak ingin membalas ucapan Diani lagi. Karena semakin lama, ia semakin tidak ingin berbicara dengan Diani. Ada perasaan yang tidak enak yang terus memenuhi hati Lula. Karena itu, Lula merasa sangat tidak nyaman dan ingin segera melihat Diani pergi.


"Baiklah kalau begitu. Akan aku kerjakan tugasku. Semoga tugas itu sama entengnya dengan ucapan kamu barusan. Dan, jika tidak ada hal lain yang ingin kamu bicarakan, kamu bisa pergi sekarang dari rumahku, Diani. Aku ingin istirahat."

__ADS_1


__ADS_2